Ada Apa Dengan Kata Feminisme Bagi Kaum Patriarki

Ingin sekali rasanya aku mengajak menelaah kata Feminisme dan Patriarki itu, dan ingin mencoba menggiring keresahan saya terhadap kaum laki-laki yang kontra terhadap Feminisme, begitupun sebaliknya, dan bukan maksudku untuk menggurui ataupun sok-soan kritis, tapi ini pandanganku dan pernyataan sikap terhadap alur yang tak kunjung sampai pada endingnya. Subtansi tentang feminisme selalu dibenturkan oleh patriarki sebab keduanya sama-sama tabu untuk dibahas dikalang akademisi yang kontra terhadap keduannya.

Sebelumnya saya ingin menncoba memberikan stimulus hakikat dari Feminisme itu sendiri. Dalam KBBI, Feminisme adalah: Gerakan perempuan yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara perempuan dan laki-laki. Kalau kita sebagai kaum laki-laki yang tidak mau mencoba menalaah ataupun mengkaji lagi kata yang telah disampaikan KBBI, pasti kita hanya mengandalkan ego dan pembenaran terhadap diri kita sendiri. Saya pernah membaca buku yang berjudul “Menggugat Feminisme” di dalam buku tersebut berisikan kata seperti ini : “kesadaran atas ketidakadilan tidak membutuhkan kita berjenis kelamin perempuan atau laki-laki, tapi menuntut kita sebagai manusia yang berakal dan berhati.” Sudah cukup jelas tamparan kata dari buku itu, bagi para kaum laki-laki yang kontra terhadap feminisme.

Tentu saja tidak hanya Feminisme saja yang menjadi persoalan, akan tetapi kaum perempuan juga mempersoalkan Patriarki. Mari kita mencoba menalaah kata patriarki itu. Dalam KBBI patriarki mempunyai makna: prilaku mengutamakan laki-laki daripada perempuan dalam masyarakat atau kelompok sosial tertentu. Jadi menurut nalar pikiranku seakan-akan perempuan tidak mempunyai kemampuan dalam bidang sosial yang telah ditentukan oleh KBBI itu, sedangkan menurut opiniku patriarki juga tak pernah pandang bulu. Kadang perumpuan mempunyai sifat patriarki begitupun sebaliknya laki-laki juga mempunyai sifat feminisme.

Bukannya kita  makhluk sosial yang seharusnya tidak mempermasalahkan penganutan budaya keduanya itu. Akan tetapi kita harus mempermasalahkan seberapa erat dirimu dengan orang-orang yang mungkin merasa tidak ada kenyamanan dengan lini pertemanannya. Karena itu lebih penting dan sangat terhotmat bagi kita, kalo kita bisa menyapa hal itu.

Jadi feminisme dan patriarki merupakan sekumpulan ego yang dimiliki oleh laki-laki dan perempuan. Jangan salahkan kedua budaya itu, yang patut disalahkan adalah kita, karena kita tidak mau memahami dan mencoba menerima realitas yang sudah terjadi. Patriarki dan Feminisme yang hingga kini masih berurat-akar dalam masyarakat mengakibatkan pergerakan perempuan terdegradasi dan terpinggirkan. Logika patriarki yang masih menguat tidak malah menciptakan iklim kesetaraan bagi kelompok feminis, tetapi justru mempreteli pergerakan mereka, begitupun sebaliknya.

Perjuangan adalah sifat patriarki, sedangkan pengorbanan adalah feminisme. Perpaduan yang indah bagi kita yang mau menalaah bukan mengandal ego yang mengantarkan resah. Sangat mengugah selera ketika dua budaya bersatu padu dalam dekapan dada. Dan menjadi bahan anutan bagi kita. Tanpa harus menyalahkan berbagai pihak.

Teringat salah satu perkataan Filsuf termasyur dalam islam yaitu Ibnu Arabi “Di dunia ini tidak ada makhluk yang kekuatannya lebih besar dari pada perempuan” dari ungkapan beliau sangat jelas bahwasannya perempuan juga bisa mengimbangi kekuatan maskulinitas yang dimiliki laki-laki. Sedangkan pradigma yang muncul di masyarakat dan para akademisi “Eh..kamu itu perempuan ngurusin hal domistik saja, jangan ikut campur urusan laki-laki” aku sebagai laki-laki merasa rugi kalo mengatakan seperti itu, karena perempuan bebas berekspresi sesuai yang dia mau. Jadi persembahkanlah kebebasan berekspresi, jangan sampai diselubungi oleh iri dan dengki. Apalagi melarang perempuan untuk melanglang buana menyusuri hiruk-pikuknya kehidupan, dan dimensi waktu yang berputar.

 

-Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

About Arisqi 1 Article
terlahir dari rahimnya suku Madura, & Penulis buku Antologi puisi dengan judul Teka Teki, & Prolog Renjana. Dan sekarang masih melanjutkan pendidikannya di UIN Jakarta.

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.