Ada Kedamaian (Surga) dalam Pendidikan Pondok Pesantren

Akhir-akhir ini kita banyak disuguhkan dengan perilaku-perilaku yang tidak pantas untuk di sawang (baca: lihat), baik di media sosial, berita televisi maupun koran-koran yang beredar seperti pemerkosaan, pencurian, tawuran antar pelajar, korupsi, pembunuhan, belum lagi di dunia pemerintahan baik di tingkat paling rendah sampai tertinggi sekalipun, yang memberi kebijakan ataupun program yang hanya untuk menggendutkan perutnya (baca:memperkaya) diri sendiri. Melihat dan merasakan keadaan serta situasi yang semakin hari menggerogoti moral ini, maka dirasa perlu akan solusi yang tepat dan jitu, yakni pendidikan agama Islam. Mengapa harus pendidikan agama islam? Iya, karena di dalamnya terdapat nilai-nilai yang menjadi pondasi dasar akan keimanan, serta menjadi rem kendali terhadap perilaku-perilaku tak bermoral, dan yang paling inti di dalamnya adalah menjadi obat penyejuk hati dari segala kondisi yang menyayat hati.

Setelah dipaparkan kondisi dan solusi di atas, muncul pertanyaan selanjutnya. Dimana pusat pendidikan agama Islam?, maka Pondok Pesantren lah yang menjadi kunci jawabannya. Pondok Pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia yang memiliki banyak kontribusi penting dan pengalaman dalam mendidik serta mencerdaskan kehidupan bangsa. Maka pantasnya Pondok Pesantren ini sangat layak diperhitungkan dalam pembangunan bangsa baik dari segi pendidikan, keagamaan, dan moral. Pesantren sendiri ikut andil dan berperan aktif dalam pembangunan sumber daya manusia (SDM), karena pesantren sendiri sadar bahwa tugas besar tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja, akan tetapi juga semua komponen masyarakat, termasuk pesantren.

Pengembangan dunia pesantren terlebih dari segi pendidikannya ini harus didukung secara serius oleh pemerintah. Kenapa demikian? Sebab peran pesantren dalam pembangunan merupakan langkah strategis dalam membangun pendidikan. Terlebih dengan keadaan dan kondisi bangsa Indonesia yang saat ini krisis moral, pesantren sebagai ujung tombak pendidikan yang membentuk dan mengembangkan nilai-nilai moral harus menjadi pelopor sekaligus inspirator pembangkit reformasi gerakan moral bangsa. Dengan begitu pesatnya pembangunan gedung- gedung pencakar langit tidak menjadi kering kerontang dari nilai-nilai kemanusiaan.

Dalam dunia pesantren sedikitnya ada tiga unsur utama penopang ke-eksisan dan tidaknya dalam pendidikan yaitu: pertama, kiai sebagai pendidik sekaligus pemilik pondok. Kedua, santri sebagai orang yang mencari ilmu. Ketiga, kurikulum pondok pesantren dan sarana peribadatan serta pendidikan. Unsur-unsur tersebut mewujud dalam bentuk kegiatannya yang terangkum dalam Tridharma Pondok Pesantren, yaitu pembinaan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, pengembangan keilmuan dan keahlian yang bermanfaat, serta pengabdian pada agama, masyarakat, dan negara.

Pendidikan keagamaan pada umumnya terkhusus bagi pesantren berfungsi mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agamanya dan/atau menjadi ahli ilmu agama. Pendidikan keagamaan sendiri dapat diselenggarakan dalam pendidikan formal, nonformal, dan informal. Dalam pendidikan yang diajarkan di pesantren terdapat warisan yang diwariskan oleh para Ulama’-ulama’ yang sudah diakui ke ‘alimannya oleh saentro dunia, yang didalamnya mewariskan sebuah budaya nguwongno uwong (baca: memanusiakan manusia). Dan tentunya selain warisan tersebut dalam pendidikan pesantren tidak akan pernah lepas dari tawassuth, tawazzun dan tasammuh, yang dengan ketiga jurus itulah manusia akan menjadi manusia paripurna yang bisa memanusiakan manusia, dan barang tentu tidak akan merugikan manusia lainnya.

Sudah saatnya kita bangga dan mensyiarkan kepada dunia tentang pendidikan pesantren. Pendidikan Pesantren harus ditempatkan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari sistem pendidikan nasional. Pondok Pesantren telah memberikan kontribusi nyata dalam melahirkan generasi berkualitas dan mampu menjaga moralitas bangsa. Dengan Pendidikan yang memanusiakan manusia kehidupan akan berlangsung dengan damai dan saling menghormati, dengan begitu suasana surga yang damai akan tercipta dalam kehidupan khalayak masyarakat umum.


-Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.