Sosial Agama

Agama dalam Budaya Pertelevisian Kita

Agama, meskipun telah berusia setua usia umat manusia itu sendiri, namun ia tidak pernah kehilangan daya tariknya. Ia tidak pernah menjadi, semacam barang kuno yang tidak layak jual. Sejarah kehidupan umat manusia telah mencatat bahwa, agama, selalu menjadi penggerak utama atau, dalam bahasa yang lebih adil, turut mewarnai peradaban umat manusia. Terhitung sejak manusia pertama di dunia ini ada, hingga sekarang, agama selalu saja tampil menarik dengan segala bentuk modifikasinya. Pada awal peradaban manusia, kita akan selalu ingat cerita tentang kemunculan manusia pertama yang dikatakan sebagai bentuk diusirnya Adam dari surga. Cerita berbagai versi di setiap agama mengenai asal muasal manusia ini kini telah menjadi cerita utama melebihi teori evolusi yang pernah dikemukakan oleh Charles Darwin. Juga cerita tentang Bangsa Yahudi yang berpindah-pindah tempat, kisah tentang terbentuknya budaya Arab serta perang Salib merupakan segelintir dari kisah-kisah menarik tentang agama manusia.

Sifat menarik agama tersebut tidak terkecuali saat dunia berkembang ke arah industrialisai. Saat banyak orang yang hidup mengukur kehidupan mereka hanya sebatas materi, dan semua orang menjadi pragmatis, agama masih tetap saja menjadi barang yang menarik untuk diperbincangkan. Kasus sederhananya adalah saat ia ditarik ke dunia industri hiburan seperti televisi. Agama, yang seringkali dianggap transenden tiba-tiba menjadi barang profan yang notabene “tidak suci dan segalanya bisa diukur dengan materi.

Hal ini karena agama, (dalam pertelevisian kita), dipandang bukan lagi sebatas ideologi yang mendasari setiap perbuatan manusia. Ia kini juga bisa diperlakukan layaknya komoditi yang mempunyai nilai jual tinggi. Betapapun sakralnya agama, para pelaku industri hiburan di tanah air selalu berhasil menyentuh sisi profan dari agama. Inilah yang kemudian dianggap mempunyai niali jual cukup tinggi sehingga ia laris dipasaran.

Wocoen   NU VS IDEOLOGI ISLAM TRANSNASIONAL

Hampir semua stasiun televise di Indonesia telah berhasil sisi transenden agama dan mengedepankan sisi profannya. Acara televisi seperti sahur dan bukanya Fesbukers, sahurnya OVJ (Opera van Java), adalah gambaran nyata bahwa agama telah dicabut oleh dunia pertelevisian dari akar transendenya. Ibadah yang semestinya menjadi ritual mesra antara hamba dan Tuhan disulap menjadi panggung hiburan yang justru menafikan unsur ketuhanan. Kalupun unsur ketuhanan itu ada, maka Dia tidak dihadirkan sebagai sesuatu yang selayaknya disembah, tapi hanya sebatas sebagai sesuatu yang bisa dijadikan partner untuk menghibur massa.

Tuhan menjadi semacam dan sebatas “partner in bussines”. Jika pada kenyataanya pertelevisian kita seringkali mengajak Tuhan dalam acara-acara yang mereka buat, hal itu lebih didorong oleh efek Tuhan yang bagi industri mereka seringkali dipandang menguntungkan. Tuhan hampir tidak pernah dipandang sebagai kebutuhan ruhaniyah manusia itu sendiri.

Dalam kajian budaya popular, dengan mengutip Yasraf A. Piliang (2011), setidaknya terdapat empat sifat yang kemudian memaksa mereka (para pelaku industri hiburan) memodifikasi agama agar tetap laris dipasaran. Pertama, popular think. Dalam artian, seorang pelaku industri televisi harus menyajikan agama sesuai dengan apa yang kebanyakan orang pikirkan tentang agama. Para pelaku industry televise tidak bisa, dan tidak mau menampilkan sisi agama yang tidak masuk dalam cara berpikir massa mereka. Ambil contoh sederhana, mereka tidak mungkin menampilkan agama dalam wajahnya yang sangat ketat terhadap fiqh jika ingin mendapatkan massa dalam jumlah besar. Mereka harus menampilkan agama hanya sebatas simbol, karena memang sebatas inilah agama yang banyak dimengerti oleh masyarakat kita. Orang boleh bicara tentang berbuat baik, orang boleh bicara tentang shalat, tapi tidak boleh secara mendetail karena hal itu bukan sangat tidak mungkin akan mengganggu (menghilangkan ketertarikan) massa akan acara televisi. Tapi kita juga tidak bisa menafikan ada beberapa stasiun televisi yang menampilkan sisi agama bukan dari cara berpikir massa, tapi dalam ideologinya. Sebut saja Tv 9 yang menampilkan wajah agama sesuai dengan gaya mereka sendiri. Pengajian kitab kuning yang dijadikan sebagai acara televisi merupakan contoh kongkritnya.

Wocoen   Hakikat Ilmu Selamat

Kedua, wacana komunikasi popular. Dalam bingkai budaya massa yang ada di Indonesia, agama bisa saja kehilangan daya pikatnya jika agama tersebut disampaikan oleh juru bicara yang kurang fasih dalam memahami bahasa publik. Yang paling penting dalam sebuah penyajian agama di televisi bukan lagi ilmu yang dimiliki oleh si agamawan tersebut. ilmu menjadi hal yang ke sekian setelah kemampuan komunikasi massa. Orang boleh pintar atau alim dalam hal agama, tapi jika ia tidak memiliki kemampuan komunikasi massa yang bagus, maka televisi tidak akan pernah membutuhkanya. Yang menjadi nilai jual dari seorang agamawan, dalam budaya pertelevisian adalah kemampuanya dalam berkomunikasi.

Inilah yang kemudian menjadikan kaum agamawan di Indonesia dengan kemampuan agama yang bagus, bahkan tergolong ahli kalah dengan orang yang hanya bermodal sorban dan jenggot yang dipanjangkan. Orang yang baru kemarin sore mengenal agama bisa dianggap memiliki nilai jual yang tinggi jika dibandingkan dengan orang yang sejak laahir berada di pesantren. Alasanya sederhana, kemampuan komunikasi.

Bagi dunia pertelevisian kita, tidak mungkin memilih seorang agamawan, tidak peduli seberapapun fasihnya ia berbahasa Arab, ataupun seberapa khusuknya dalam berdo’a, selama do’a tersebut tidak ia panjatkan dengan deraian airmata, maka hal itu kurang meiliki nilai jual di hadapan public. Dan ini sangat merugikan untuk sebuah industry hiburan, seperti televise.

Ketiga,  Ritual Populer. Unsur ketiga yang biasa melekat pada tampilan agama di televise adalah ritual yang sifatnya bisa diterima oleh massa. Jika ingin menampilkan sebuah ritual agama yang kira-kira akan diterima oleh semua kalangan, maka ritual agama yang ditampilkan seharusnya bukanlah ritual yang bersifat khusus-mendalam. Ritual-ritual semacam dzikir dalam suatu tarekat ataupun shalat tahajud tidak akan pernah mendapat pasar yang luas. ritual yang disuguhkan ke public hanya akan menarik perhatian dari banyak massa ketika ia dianggap bisa merepresentasikan apa yang dialami oleh massa tersebut.

Wocoen   Seng Tuwenang lan Ojo Kagetan

Keempat, symbol popular. Setiap agama pasti mengandung symbol tertentu. Islam dengan Ka’bahnya, Kristen dengan salibnya, Buddha dengan patung Sidhartanya dan lain sebagainya. Penampilan agama di media massa semacam televisipun akhirnya memaksa agama yang tampil untuk memodifikasi symbol mereka. Jilbab misalnya, tidak mungkin bisa menarik massa yang luas jika hanya menampilkan yang sekedar menutupi aurat. Jilbab yang ditampilkan haruslah jilbab yang merepresentasikan fesyen muslimah yang fashionable. Jilbab yang tujuan utamanya bukan lagi untuk menutup aurat, tapi untuk mengeksplorasi kecantikan.

Tags

Hamdani Mubarok

Alumni MI Bahrul Ulum Jombang sekaligus kader pondok bukan Pesantren Islam_keadaan, Yogyakarta.

Related Articles

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close