Hanif N. Isa Mas-mas biasa.

Agamawan dan Keberpihakannya kepada Petani dan Buruh (Bagian 1)

Hanif N. Isa 2 min read 60 views

Maksud tulisan ini sederhana saja: menilik kembali peran agamawan (baca: tokoh agama, ulama, kiai, pendeta dan lain-lain) terhadap eksistensi para kaum proletar, yang dalam hal ini biasanya terwujudkan sebagai petani, buruh, pedagang kecil ataupun nelayan. Serta kaitannya dengan penginterpretasian teks agama —meminjam istilah teks agama Islam; Al-Qur’an, Sunah, dan utamanya kitab kuning klasik, di tengah perjalanan masyarakat menuju masa industrial.

Dalam konteks umat Islam sebagai kelompok agama terbesar di Indonesia dan melihat peta gerakan keagamaannya, secara sederhana terbagi menjadi 2 golongan; umat Islam tradisional dan kaum muslim fundamentalis. Islam tradisional diwakili oleh Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah —yang sejatinya Muhammadiyah terklasifikasi sebagai masyarakat muslim modern.

Ada pula kelompok Wahabi, Hizbut Tahrir, atau Front Pembela Islam (FPI) yang terepresentasikan sebagai golongan muslim fundamentalis dengan fokus dakwah yang berbeda-beda. Kelompok fundamentalis Islam lebih “lurus” daripada muslim tradisional.

Kelompok ini juga identik dengan umat muslim yang lahir di kota-kota besar. Pengetahuan keagamaan mereka juga tidak didapat dari lembaga-lembaga Islam konvensional seperti masjid, madrasah, pesantren, atau perorangan secara langsung seperti ustaz, kiai maupun ulama. Mereka mendapatkan informasi keagamaan melalui sumber-sumber anonim seperti internet, bacaan konvensional maupun televisi.

Terlepas dari peta golongan umat muslim di atas, ada kecenderungan agamawan atau umat beragama secara umum lebih fokus dakwah di lingkup transendental; terbatas pada metafisis, ubudiyah mahdah, spiritualitas, mengaji Al-Qur’an, mengkaji materi-materi syariat, zikir bersama, kesenian Islam, dan lain sebagainya. Di lain sisi, ada kebutuhan pendampingan masyarakat proletar yang sering menjadi objek penindasan oleh sistem dalam kaitannya dengan hubungan negara-masyarakat.

Interaksi antara negara dan masyarakat, maupun konglomerat dan masyarakat kecil sampai kapanpun akan rawan gesekan yang berujung pada ketidakadilan dan kesemena-menaan. Dalam hubungan negara-masyarakat, masyarakat miskin-agraris (baca: petani dan buruh tani) memang sangat bergantung kepada negara sebagai pemegang kekuasaan. Sedangkan dalam masyarakat industrial sebaliknya, negara bergantung kepada masyarakat sebagai penjaga stabilitas perekonomian negara (Eric Wolf, 1966).

Dalam aktivitas advokasi inilah kaum intelektual kiri abangan kerap hadir. Aktivis-aktivis “non-umat” ini nyatanya lebih totalitas dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat petani dan buruh daripada umat beragama.

Mengapa demikian?

Agamawan merupakan golongan yang lebih paham tentang syariat, ilmu agama maupun disiplin fikih. Bagian terbesar fikih pastilah berasal dari zaman pra-industrial. Sehingga dapat dipahami kalau ada tokoh agama yang mendukung kekuasaan atau pihak-pihak berkekuatan besar secara modal.

Lagi pula masalah-masalah birokrasi, kepemimpinan kolektif, hubungan negara-negara, hubungan negara-masyarakat, kekuatan sosial, dan jaminan sosial, dalam disiplin fikih klasik umumnya seringkali luput dari perhatian.

Pada waktu itu belum ada division of labor yang kompleks. Sehingga masalah kelas tidak masuk dalam agenda ahli-ahli fikih. Ketidakmasukan masalah-masalah modern memberi kesan seolah-olah Islam tidak berbicara apa-apa dan karenanya tidak berhak berkata apa-apa tentang masalah-masalah kontemporer-advokatif.

Seberapa sering agamawan dan umat beragama (penganut agama yang taat secara formal) tidak bersikap terhadap penjarahan yang dilakukan oligarki dan elite politik terhadap hak-hak masyarakat agraris? Umat beragama telah banyak menghabiskan energi dakwahnya pada urusan normatif; nasionalisme atau khilafah, sunah atau bidah, toleran atau intoleran, dan seterusnya.

Sejarah Indonesia menunjukkan bahwa Partai Komunis Indonesia (PKI) lebih populer di kalangan buruh tani dan buruh daripada partai-partai Islam, karena umat beragama tidak sensitif dengan munculnya proletarianisasi di pedesaan dan perkotaan. Itu semua disebabkan umat beragama kurang berhasil dalam melihat fakta sosial yang muncul bersamaan dengan industrialisasi.

Namun walaupun demikian, agamawan sebagai personal maupun yang terhimpun dalam suatu organisasi kemasyarakatan tidak selalu pasif. Harus diakui bahwa kemerdekaan bangsa ini tidak bisa diraih tanpa jasa para ulama pesantren dan kaum santri maupun golongan Islam tradisional lainnya. Sebuah bukti bahwa sebenarnya umat beragama tidak sepenuhnya menutup mata terhadap persoalan ketimpangan sosial maupun penindasan terhadap rakyat kecil.

Dalam kasus terupdate, sebagaimana yang telah ditulis Gus Ulil Abshar Abdalla, kembalinya sikap kritis NU terhadap elite birokrat terkait UU Cipta Kerja yang baru-baru ini disahkan DPR RI, patut dirayakan. NU yang sering diasumsikan sebagai “alat legitimasi” negara dan cenderung lunak serta oportunistik, ternyata —dalam bahasa Gus Ulil— mampu bersikap re-radikalisasi terhadap pemerintah maupun DPR.

Terlepas dari jasa kaum pesantren terhadap kemerdekaan bangsa Indonesia dan re-radikalisasi NU tersebut, secara garis besar, petani, nelayan dan buruh memang seolah-olah dianaktirikan oleh agamawan dan umat dalam agenda aktivitas keagamaannya. Demikian pula para aktivis kiri pejuang hak-hak masyarakat proletar dipandang dengan sebelah mata oleh umat beragama, seolah-olah mereka bukan bagian dari umat, seolah aktivitas advokasi mereka bukan bagian dari kegiatan keagamaan.

Seberapa gandrungkah orang-orang pesantren terhadap Tan Malaka, yang belakangan diketahui bernama Pak Husin dan sering silaturahmi ke KH Abdul Wahid Hasyim? Seberapa kenalkah seorang muslim fundamentalis seperti Felix Siauw terhadap Munir Said Thalib sebagai pejuang HAM di era Orde Baru? Seberapa pedulikah muslim perkotaan seperti Teuku Wisnu terhadap Dandhy Dwi Laksono atau Farid Gaban sebagai aktivis yang giat menyuarakan hak-hak masyarakat miskin pinggiran?

Wallahu alam.

Hanif N. Isa
Hanif N. Isa Mas-mas biasa.

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.