Agen Of Change di Situasi Darurat

Dalam sebuah problem tentu menuai banyak keluhan dan protes, yang hal tersebut selalu ada pihak pelaku dan korban. Protes dan keuhan selalu datang kepada salah satu pihak yang menjadi korban atas problem yang dibuat si pelaku.

Pandemi misalnya, sampai detik ini pun belum beranjak dari bumi kita tercinta. Lantas kita semua yang menjadi korban atas problem yang belum terpecahkan ini mau mengeluh kepada siapa, dan mau protes kepada siapa.

Kita tidak bisa memecahkannya, bahkan keluhan kita atas kebijakan-kebijakan pemerintah terhadap pandemi tidak akan mengubah keadaan dalam diri kita. Justru ketika kita mengeluh dan protes terhadap kebijakan pandemi saat ini, akan bertambah problem-problem di dalam problem itu sendiri.

Mengeluh dan mengeluh sudah menjadi budaya yang mengakar di tengah-tengah masyarakat. Kita yang selalu mengeluh atas sebuah masalah tidak akan bisa memperbaiki keadaan dalam diri kita maupun masyarakat lainnya. Budaya inilah yang seharusnya kita kurangi, yang seharusnya kita perangi dengan semangat tanpa pamrih untuk menyelesaikan sebuah masalah, atau memperbaiki sebuah problem, agar kita hidup dalam lingkaran yang seimbang.

Seharusnya kita yang menjadi korban dari suatu problem, justru kita yang harus menjadi agen dari problem tersebut. Artinya kita harus benar-benar menjadi agen perubahan atas problem yang sudah kompleks. Pernyataan ini juga saya dapatkan dari Sabrang Damar Panuluh “Manusia harus menjadi agen perubahan di sebuah masalah“.

Tulisan ini juga ada korelasinya dengan tulisan saya sebelumnya. Ketika kita dihadapi sebuah masalah, yang kita lakukan pertama kali adalah introspeksi. Kita kembalikan semuanya kepada diri kita dahulu, bukan malah mengeluh atas masalah-masalah yang bahkan kita buat sendiri. Sudahi menghabiskan energi dalam diri hanya untuk mengeluh yang tidak perlu, lebih baik energi yang kita punya kita keluarkan untuk menjadikan perubahan perubahan yang berarti.

Saya ajak diri saya dan teman-teman semua yang membaca tulisan ini, mari kita bentuk diri kita menjadi sebuah agen di tengah-tengah problem yang sudah kompleks ini. Mari sama-sama menjadi agen atas perubahan-perubahan yang kita ciptakan. Mari mengesampingkan ego dan bergandengan tangan mencari jalan keluar bersama-sama, saling memberi semangat dan menjadi agen-agen luar biasa yang bisa menyeimbangi problem pandemi ini.

Lalu apa yang bisa dilakukan menjadi agen atas perubahan? Diri kawan-kawanlah yang bisa menjawab perubahan apa yang harus dilakukan, sesuai kreativitas dan potensi kawan-kawan pribadi.

Dalam segi sosial misalnya, mari kita saling membantu dalam situasi yang darurat ini, dalam problem yang sudah mengakar ini, di sebuah desa kecil contohnya para kader muda yang membantu mengakses sertifikat vaksinasi untuk para lansia yang buta akan IT. Walaupun kecil dampaknya, tapi ini menjadi perubahan-perubahan yang berkesinambungan.

Mari kita sejenak meluluhkan ego kita, mari kita kurangi mengeluh kita terhadap situasi. Yang kita butuhkan adalah semangat kebersamaan, semangat kesinambungan atas situasi yang makin darurat. Mari menjadi agen perubahan dalam diri kita sendiri dan orang banyak.

Paradigma agen yang harus diterapkan dalam diri kita pribadi ialah bahwa kita harus mampu membangun perubahan. Jadi kalau kita melihat masalah, kita adalah agen perubahannya bukan menjadi korbannya. Sudah saatnya kita bersatu bukan mengeluh, sudah waktunya kita bangkit bukan mengungkit. Kita harus bersama bukan mencela.

About Amirul Mirza Ghulam 2 Articles
Lahir di Jombang , Jawa Timur

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.