M. Abdul Kholid Seorang santri yang mengabdi dan mengaji di Ponpes Gasek sembari mencari pasangan hidup.

Ahlussunah Memasuki Milenium Ketiga dalam Tradisi Dunia Pesantren

M. Abdul Kholid 1 min read 0 views

Ungkapan – ungkapan zuhud, tawadlu’, ikhlas dan shiddiq itu sekarang tidak lagi sering dijadikan tema andalan dalam ceramah – ceramah para kyai. Para kyai memahami bahwa masyarakat sedang berlomba – lomba bekerja keras untuk memperoleh hasil berupa penghasilan yang memadai, terutama kebutuhan hidup layak serta untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan pendidikan anak – anaknya yang kian meningkat dari waktu ke waktu. Tentunya hal ini merupakan bukti bahwa struktur dasar pemikiran kyai dalam tiga dasawarsa terakhir telah mengalami perubahan yang begitu mendalam. Namun, para kyai terbukti pula masih terus mengamalkan kesederhanaan dalam kehidupan ekonomi di pesantrennya. Mereka tetap mengamalkan kebeersamaan dan praktik keadilan dalam kehidupan sehari hari dan tetap mengupayakan kehidupan nyata di pesantren bernuansa kesederhanaan dan kebersamaan.

Tradisi Pesantren sebagai penerus peradaban tradisi peradaban melayu nusantara memiliki dasar pandangan keagamaan yang mudah dipadukan dengan modernitas. Cepatnya aspek modernitas terpadu dalam tradisi pesantren terbukti pada kenyataan bahwa 70% lembaga pesantren telah mengembangkan sekolah – sekolah dan sebagian mendirikan perguruan tinggi modern. Namun, sumber – sumber kekuatan para kyai untuk mencapai target standard modernitas yang maju dalam pendidikan masih terbatas.

Lembaga pesantren yang masih mengkhususkan pendidikan agama dan pengkajian kitab karangan ulama ulama zaman klasik memang masih cukup banyak, sekitar 30% dari 28.194 pesantren. Keberadaan pesantren yang mengkhususkan kajian kitab – kitab islam klasik tetap penting agar paduan tradisi dan modernitas menemukan ramuan yang seimbang dalam pembangunan peradaban tradisi dan modernitas menemukan ramuan yang seimbang dalam pembangunan peradaban Indonesia modern.

Tradisi pesantren sebagai ujung tombak pembangunan peradaban melayu nusantara antara abad ke-15 hingga abad ke-18 menjadikan mayoritas penduduk nusantara ini sebagai penduduk muslim terbesar di dunia dalam kondisi homogenitas pandangan hidup keagamaan yang tinggi. Pada tiga perempat pertama abad ke-20 reformasi islam di Indonesia melahirkan dua kelompok aliran islam : “ modernisme” dan “tradisionalisme” yang merugikan kehidupan social, ekonomi, intelektualisme, dan keagamaan islam. Dua aliran pemikiran itu sempat menimbulkan konflik keagamaan islam yang cukup memanas. Konflik modernisme vs tradisionalisme islam tiga perempat abad ke-20 itu sering terlerai oleh kepentingan politik berhadapan dengan nasionalis sekuler. Seperempat terakhir abad ke-20 terjadi “détente” antara modernisme dan tradisionalisme islam karena “ nasionalis sekuler “ memberi ruang gerak politik islam lebih luas ( dominan ) bagi kelancaran proses pengembangan kehidupan demokrasi Indonesia lebih berkualitas.

Wocoen   Kegagalan Mahasiswa dalam Memaknai Arti Sebuah Kata Mahasiswa

Namun tampaknya perkembangan itu sangat rumit, yaitu sebagian penduduk muslim Indonesia telah “highly urbanized” dan dapat menikmati pendapatan per kapita menengah semakin tinggi. Jumlah muslim Indonesia yang “highly urbanized” ini mungkin telah mencapai angka 80 juta. Dengan demikian, masih ada 120 juta penduduk muslim Indonesia yang berpendapatan rendah yang pada umumnya tinggal di wilayah pedesaan. Mereka inilah yang pada umumnya mengirimkan putra putrinya ke madrasah, UIN, IAIN, STAIN, STAIS dan pesantren.

Sebagai bagian dari peradaban melayu nusantara selama berabad – abad, Tradisi pesantren pada saat ini merupakan lembaga pendidikan yang memiliki jaringan social dan keagamaan yang kuat antar lembaga di seluruh provinsi. Jaringan kuat tersebut tidak statis dan saling menunjang. Di bidang politik, jaringan mereka sangat elastis tidak terikat hanya dengan satu partai politik tertentu. Dukungan mereka dapat berubah – ubah yang dipilih. Dengan sikap politik “ mengambang “ seperti itu dapat berfungsi sebagai penyeimbang dan menjaga kestabilan politik bangsa Indonesia dalam awal proses demokratisasi Indonesia dewasa ini.

M. Abdul Kholid
M. Abdul Kholid Seorang santri yang mengabdi dan mengaji di Ponpes Gasek sembari mencari pasangan hidup.

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.