AKM Bukan Pengganti atau Menggantikan

Perlu diingat kembali bahwa acuan utama dalam pembelajaran di sekolah sebagai tuntutan profesionalisme guru dan kepala sekolah yaitu Standar Nasional Pendidikan (SNP) sehingga tenaga pendidik dalam mendidik, mengajar, membimbing peserta didik mampu tercapai secara optimal. Dengan demikian, diharapkan bahwa kualitas hasil belajar dari peserta didik mampu tercapai secara maksimal.Sedangkan dasar hukum yang memuat tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005.

Standar Nasional Pendidikan (SNP) merupakan dasar dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu. Sebagai pedoman dalam proses pembelajaran, Standar Nasional Pendidikan (SNP) memuat beberapa butir dimana tiap tiap butir dari standar tersebut sangat berkaitan serta saling bersinergi untuk menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang bermartabat. Butir-butir instrumen pada 8 Standar Nasional Pendidikan (SNP) antara lain: 1) Standar Isi, 2) Standar Proses, 3) Standar Kompetensi Lulusan, 4) Standar Pendidik dan Tenaga Pendidikan, 5) Standar Sarana dan Prasarana, 6) Standar Pengelolaan, 7) Standar Pembiayaan., dan 8) Standar Penilaian Pendidikan.

Memasuki akhir tahun pembelajaran seperti saat ini, setiap lembaga pendidikan formal sedang memasuki fase pelaksanaan standar nasional butir kedelapan yaitu Standar Penilaian Pendidikan. Pada dasaranya proses penilaian dalam dunia pendidikan tidak hanya dilaksanakan pada saat peserta didik mengenyam pendidikan di akhir tingkat, misalnya untuk siswa SMK penilaian tidak hanya dilakukan pada saat peserta didik berada pada tingkat XII. Hal ini dikarenakan kegiatan penilaian merupakan salah satu tugas utama guru sebagai tenaga pendidik untuk mengetahui gambaran sejauh mana seorang pendidik mampu menguasai suatu kompetensi, selain itu penilaian juga memiliki fungsi sebagai media untuk membantu peserta didik memahami kemampuan dirinya, menemukan kesulitan belajar dan sebagai kontrol bagi pendidik serta satuan pendidikan tentang kemajuan perkembangan peserta didik.

Penilaian yang dilaksanakan di akhir tingkat satuan pendidikan sering diistilahkan sebagai Ujian Sekolah (US) merupakan salah satu indikator kelulusan peserta didik dari suatu satuan pendidikan. Sebelum Ujian Sekolah (US) sebagai salah satu indikator kelulusan peserfta didik, kelulusan lebih dititikberatkan denga adanya penilaian Ujian Nasional (UN) dimana pelaksanaan Ujian Nasional ini butir-butir soal disusun oleh tim penyusun dari pemerintah dan ini menjadi indikator tinggi bagi seorang peserta didik untuk dinyatakan Lulus (L) atau Tidak Lulus. Sementara untuk Ujian Sekolah (US) butir soal dibuat oleh pengampu guru mata pelajaran atau perwakilan dari guru mata pelajaran dalam kelompok Musyawarah Guru Mata Pelaran (MGMP). Berdasarkan realita bahwa Ujian Nasional (UN) sebagai indikator tinggi dalam kelulusan sehingga ini menjadikan momok bagi sebagian peserta didik yang mengikuti proses penilaian. Hal ini dikarenakan peserta didik yang tidak memenuhi kriteria nilai Ujian Nasioanl (UN) dapat dipastikan bahwa peserta didik dinyatakan Tidak Lulus (TL). Sehingga persoala mengenai penilaian Ujian Nasional (UN) berdampak pada psikologis peserta didik, dimana peseta didik mengalami tingkat stress pada saat sebelum, sedang serta pasca pelaksanaan Ujian Nasional (UN).

Dengan banyaknya dampak buruk yang ditimbulkan terkait pelaksanaan Ujian Nasional (UN) beberapa tahun yang lalu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud pada saat itu), Bapak Muhajir Effendi mengeluarkan kebijakan tentang peniadaan Ujian Nasioanl (UN) karena pelaksanaan Ujian Nasional (UN) dianggapnya mengesampingkan hakikat pendidikan untuk membangun karakter, perilaku, dan kompetensi. Hal ini dikarenakan Ujian Nasioanl (UN) hanya memuat beberapa mata pelajaran sebagai indikator kelulusan peserta didik. Sementara itu untuk mata pelajaran yang lain terkesan diabaikan. Saat ini, ditiadaknnya pelaksanaan Ujian Nasional (UN) pada dasarnya tidak terkait dengan kebijakan Bapak Menteri pada saat itu. Akan tetapi dikarenakan adanya wabah covid-19 dimana pemerintah melarang pelaksanaan pembelajaran tatap muka dan harus dialihkan melalui Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) agar penularan penyakit yang disebabkan oleh virus corona (covid-19) mampu ditekan dan Bapak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesi ( Bapak Nadiem Makarim) mengambil kebijakan peniadaan Ujian Nasional (UN) lebih awal.

Saat ini pemerintah sedang menyiapkan sistem penilaian baru untuk peserta didik yang lebih dikenal dengan istilah Asesmen Nasional (AN) dimana bagian dari AN tersebut berupa Asesmen Kompetensi Minimum (AKM). Pada dasarnya Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) dilaksanakan dengan tujuan untuk mengembangkan kapasitas diri serta partisipasi positif pada masyarakat. Assesmen yang dilaksanakan dalam kegiatan Assesmen Kompetensi Minimum (AKM) terdiri dari 2 komponen literasi.Dimana literasi itu sendiri merupakan kemampuan dalam mengolah dan memahami informasi melalui kegiatan membaca ataupun menulis dan juga mengenali serta memahami ide-ide secara visual (Sesuai pendapat dari Marriam). Jadi, kemampuan literasi tidak hanya dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan membaca teks saja tetapi dapat juga dilakukan dengan cara membaca suatu ide atau situasi tertentu. Dua komponen literasi yang terdapat dalam Assesmen Kompetensi Minimal (AKM) antara lain:

Pertama, komponen Literasi Membaca. Komponen ini mencakup kemampuan untuk memahami, menggunakan, mengevaluasi, merefleksikan berbagai jenis teks untuk menyelesaikan masalah serta mampu mengembangkan kapasitas individu dalam masyarakat. Dalam literasi ini bisa dicontohkan misalnya seorang peserta didik mampu menangkap serta memahami informasi berdasarkan kalimat atau teks yang dibaca atau didengarkan. Harapannya setelah mampu memahami atau menangkap informasi yang sudah didapatkan maka kelanjutannya peserta didik mampu menyelesaikan persalahan yang mungkin terjadi.

Kesalahan pemahaman yang terjadi saat ini seperti yang muncul di SMK Negeri 1 Ambal bahwa peserta didik berpedampat jika kemampuan lierasi dapat dilakukan dalam bentuk membaca seperti membaca buku, koran majalah, dll. Mereka belum menyadari sepenuhnya bahwa kegiatan literasi dapat dilakukan dalam bentuk literasi nonteks. Jika peserta didik memahami bahwa kegiatan literasi dapat dilakukan dalam hal nonteks maka kemampuan pemahaman serta kepekaan mampu untuk dimaksimalkan. Misal ketika peserta didik membaca kondisi lingkungan kelas yang kotor, maka siswa yang memiliki pemahaman serta kepekaan langsung membersihkan ruangan tersebut. Inilah contoh bahwa kemampuan literasi tidak hanya dalam bentuk literasi teks saja.

Kedua, komponen Literasi Numerasi (Matematika). Kemampuan literasi ini lebih menekankan pada kemampuan membaca dengan objek berbagai macam angka, simbol-simbol yang terkait dengan matematika dasar untuk memecahkan suatu permasalahan serta menganalisis informasi yang ditampilkan dalam berbagai bentuk seperti grafik, tabel, bagan, dll. atau yang lebih diistilahkan sebagai bentuk informasi nonverbal. Literasi bentuk ini, peserta didik tidak dapat menemukan rangkaian kalimat dalam bentuk teks akan tetapi, berbentuk angka atau gambar. Misalnya ketika peserta didik membaca grafik pengunjung perpustakaan. Walaupun peserta didik tidak menjumpai kalimat verbal dalam informasi tersebut akan tetapi peserta didik mampu menangkap informasi yang ada.

Kedua komponen tersebut merupakan bagian dari Assesmen Kompetenesi Minimal (AKM) sebagai jenis penilaian yang kemudian diistilahkan sebagai Assesmen Nasional (AS). Asesmen Kompetensi Minimal (AKM) yang nantinya diwujudkan dalam bentuk Asesmen Nasional (AN) ini berbeda levelnya dengan Ujian Nasional (UN) yang selama ini sudah di laksanakan di dunia pendidikan secara umum. Ini menandakan bahwa antara Ujian Nasional (UN) dengan Asesemen Nasional merupakan dua hal yang berbeda walaupun dasar dari kedua kegiatan tersebut adalah sama yaitu sama-sama kegiatan asesmen atau penilaian. Baik literasi membaca ataupun literasi numerasi yang termuat dalam AKM akan mencerminkan hasil belajar dari berbagai mata pelajaran sehingga untuk mengerjakan AKM peserta didik memerlukan daya nalar dan pemahaman yang baik, bukan hanya sekadar menghafal definisi serta rumus-rumus semata.Ujian Nasional (UN) yang selama ini dilaksanakan merupakan bentuk penilaian yang dilakukan oleh satuan pendidikan sebagai penyelenggaranya dimana soal disiapkan oleh pemerintah dengan mengacu pada Standar Kompetensi Lulusan (SKL) di setiap jenjang pendidikan.

Ujian Nasional (UN) digunakan untuk memetakan mutu pendidikan dengan mengevaluasi penguasaan tiap siswa terhadap materi pembelajaran berdasarkan kurikulum. Dalam hal ini peserta didik dituntut untuk menguasai materi atau standar kompetensi tertentu yang termuat dalam Standar Kompetensi Lulusan (SKL) sehingga nantinya hasil dari pelaksanaan Ujian Nasional dianggap memenuhi prasyarat kelulusan.

Pelaksanaan Ujian Nasional (UN) berkaitan erat sebagai salah satu kriteria kelulusan peserta didik. Sehingga kegiatan UN pada masa itu menjadi satu kegiatan yang benar benar harus diikuti dengan baik, serius serta persiapan yang matang agar hasil yang didapatkan peserta didik dapat memenuhi kriteria kelulusan. Karena jika hasil yang didapatkan oleh peserta didik tidak memenuhi kelulusan maka dapat dipastikan siswa tidak bisa lulus dari jenjang pendidikan tertentu. Ujian Nasional (UN) juga dijadikan sebagai kegiatan evaluasi prestasi individu peserta didik. Jika siswa berhasil mendapatkan hasil Ujian Nasional yang baik atau memuaskan maka peserta didik tersebut dapat dengan mudah memilih sekolah-sekolah favorit sesuai dengan prasyarat nilai yang ditentukan oleh sekolah tujuan. Karena seleksi mendaftar pada sekolah tertentu masih menggunakan nilai Ujian Nasional (UN) sebagai salah satu prasyarat terpenting.

Hasil Ujian Nasional (UN) nantinya akan dilaporkan secara individu kepada peserta didik, sehingga peserta didik akan dapat mengetahui hasil atau nilai dari tiap-tiap mata pelajaran yang diujikan. Selanjutnya hasil Ujian Nasional (UN) tersebut akan dicantumkan dalam dokumen Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional ( SKHUN). Dokumen SKHUN inilah yang dapat dijadikan sebagai salah satu prasyarat dalam pendaftaran ke jenjang pendidikan selanjutnya.

Sementara Asesmen Nasional (AN) sebagai bagian dari AKM hanya digunakan untuk memetakan mutu sistem pendidikan. Asesmen Nasional (AN) tidak digunakan untuk mengevaluasi prestasi peserta didik secara individu melainkan digunakan untuk mengevaluasi sistem pendidikannya. Asesmen Nasional (AN) tidak memiliki pengaruh sedikitpun terhadap kelulusan peserta didik. Hasil Asesmen Nasional (AN) pun tidak dilaporkan secara individu kepada peserta didik, akan tetapi nilai (skor) AN dilaporkan ke dalam profil sekolah. Asesmen Nasional (AN) pada dasarnya tidak digunakan untuk mengevaluasi kompetensi peserta didik akan tetapi untuk mengevaluasi sistem yang ada dalam sebuah lembaga pendidikan atau jenjang pendidikan tertentu.

Jadi pada dasarnya, pelaksanaan Ujian Nasional (UN) dengan Asesmen Nasional (AN) sebagai bagian dari Asesmen Kompetensi Minimal (AKM) merupakan sama sama bentuk penilaian. Akan tetapi, keduanya memiliki konsentrasi yang berbeda terkait tujuan evaluasinya. Pada akhirnya, bagaimana pun bentuk penilaian yang ada dalam dunia pendidikan tetap harus kita dukung pelaksanaanya agar dapat mewujudkan kualitas pendidikan yang lebih baik sesuai yang tercantum dalam Undan-Undang Dasar 1945 dengan mengutamakan pendidikan karakter bagi peserta didik.

About Septi Retnowati 1 Article
Septi Retnowati, S.Pd. Mengajar di SMK NEGERI 1 AMBAL JALAN DAENDELS, AMBALRESMI, AMBAL KEBUMEN, KOTA POS 54392

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.