HomeSosial AgamaAksara Pegon dan Kepercayaan Diri Muslim Nusantara
Newspaper Theme

Related Posts

Featured Artist

Kaleb Black

Painter

Kaleb started this adventure 7 years ago, when there was no real voice protecting the environment. His masterpieces promote saving the Earth.

Aksara Pegon dan Kepercayaan Diri Muslim Nusantara

Dalam bukunya, Arkeologi Islam Nusantara, Uka Tjandrasasmita bahwa tulisan arab jawi sudah ada sejak abad ke 14. Seperti temuan tulisan Arab jawi yang ada di batu bersurat dari Trengganu-Malaysia.

Tulisan jawi sendiri adalah aksara arab yang digunakan untuk penulisan bahasa-bahasa di Nusantara, entah itu Melayu, Jawa, Madura dll. Jadi orang arab sendiri belum tentu bisa membaca tulisan arab jawi ini, apalagi sampai memahaminya. Di jawa terutama di kalangan pesantren tulisan arab jawi di kenal sebagai tulisan pegon.

Ini berarti sudah tujuh abad bangsa ini telah akrab dengan bangsa Arab. Sampai-sampai, banyak hal yang diadopsi dari kebudayaan arab, salah satunya ya aksara ini.

Pun begitu, kedekatan arab dan bangsa kita yang sejak lama tidak lalu membuat bangsa ini kehilangan jati dirinya sendiri. Bangsa kita hanya mengadopsi aksaranya saja, tanpa kehilangan bahasannya sendiri. Bahkan walaupun telah mengadopsi aksara bahasa lain, bangsa ini masih tidak kehilangan aksaranya sendiri, yakni aksara jawi.

Prinsip mengadopsi ini berbeda dengan meniru secara lugu. Banyak kaidah yang disesuaikan dan diubah, dalam prinsip adopsi. Oleh karenanya kita akan menemukan huruf baru dalam tulisan pegon. Seperti huruf "p", "ny", "ng", "e", tidak dimiliki oleh aksara Arab asli, namun huruf-huruf tadi ada di dalam aksara pegon.

Aksara ini sendiri banyak dikuasai oleh pelajar-pelajar muslim sejak dulu kala hingga saat ini. Penggunaan aksara ini pun tidak sembarangan, hanya digunakan untuk penulisan keterangan yang berkaitan dengan pelajaran agama.

Oleh karenanya, dalam prakteknya sekarang di pesantren-pesantren yang masih menggunakan aksara ini, ketika menulis teks pelajaran non-agama menggunakan huruf abjad. Sedangkan ketika menulis teks pelajaran agama, para santri menggunakan aksara pegon.

Tuanya umur aksara pegon ini menandakan bahwa Islam bukanlah hal yang baru bagi bangsa ini. Oleh karenanya, banyak tradisi baik yang diadopsi dari ajaran-ajaran Islam. Namun tidak ditemukan di Arab sana.

Seperti halnya tradisi kenduren, bancaan, dan slametan. Tradisi ini tidak akan pernah di temukan di Arab sana, namun bila dianalisis tradisi sangat sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Oleh sebab itu, muslim di Indonesia perlu memiliki kepercayaan diri terkait tradisi Islam nenek moyangnya. Apalagi kalau mengingat banyak ulama-ulama kita dulu yang bahkan memiliki madrasah di Makkah sana, seperti madrasah an nizomiyah. Jadi, kelasnya kita ini sudah pantas mengajari orang-orang seluruh dunia. Sebab itu, jangan mau didekte dan diajari oleh anak-anak yang belajar kemarin sore.

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Latest Posts