Aku akan Menjadi si Kembar: Penderma atau Pengeruk?

Apa yang kita lihat tidak sekedar wujud lahiriah atau bukti empiris. Apa yang terlihat dari tidak terlihat.

Selubung pun tersingkap. Dana donasi yang menggoda, menantang, dan menggelincirkan. Bagaimana Anda menyingkap kedok sendiri?

Mengapa dana donasi menggoda atau menantang? Dikabarkan, institusi peduli sesama itu membeli mobil sebagai fasilitas mewah yang diperuntukkan untuk petinggi yayasan nirlaba profesional.

Sebagaimana dikatakan oleh pimpinan puncak institusi peduli sesama, bahwa mobil dinas itu sebagai barang inventarisir, yang bersifat tidak tetap pada seseorang.

Mobil mewah sekelas Pajero Sport, Alphard hingga Honda CRV yang dibeli oleh institusi bukanlah larangan untuk memilikinya, melainkan untuk kenikmatan tersendiri. Mobil mewah dan dana bantuan dari masyarakat atau umat menjelma menjadi benda-benda yang menggoda.

Bagaimana ia tidak dikatakan selubung kepedulian? Cuilan yang menggugah terpoles di depan institusi nirlaba, bertuliskan “Peduli untuk Kemanusiaan.” Kita masih belajar menulis tentang pemihakan sesama.

Tema dan misi pemihakan sesama dengan kegiatan yang memikat, tetapi akhirnya ia bisa ‘menguap’, ‘bocor’, dan memerosotkan dirinya dan orang-orang yang dipedulikan.

Kurang dari duabelas jam, selubung itu dibersihkan oleh ketidaknampakan dirinya. Tugas institusi nirlaba peduli sesama dimainkan tanpa kedok. Ia tidak berkedok lagi, karena kedok menghilang dalam dirinya. Selubung kepedulian sesama itu tidak menggoda, kecuali yang menghasilkan dari perut para bos.

Kita masih belajar melihat. Kita masih belajar bagaimana tampangnya jika digoda. Apa yang mengiringi saat melihat atau mendengar, ‘melongo’, ‘jalan pintas’, ‘jalur cepat’, dan ‘instan’ yang berlindung dibalik selubung institusi peduli sesama.

Apa yang kita ingin katakan tatkala semuanya akan terungkap selubung kebajikan padahal ada sesuatu yang tidak beres atas pengelolaan dana bantuan kemanusiaan.

Jika bukan selubung amal kemanusiaan, ia merupakan paradoks dibalik pernyataan petinggi institusi peduli sesama. Paradoks lantaran berbeda antara pernyataan dan salah satu program institusi peduli sesama.

Fantastis atas benda-benda konsumtif ditandai dengan mobil mewah, aliran dana keluar dan masuk maupun donasi disunat sekian persen melebihi regulasi yang berlaku di negeri kita. (detik, 04/07/2022)

Fantastis, menggoda, menantang sekaligus ‘menggelincirkan’ karena muncul dugaan atas penyelewengan dana. ACT (Aksi Cepat Tanggap) termasuk juga dugaan menerima aliran dana asing melalui pembacaan atas transfer rekening, dari dan ke tempat tujuan. (suara, 06/07/2022)

Hasil analisis institusi terkait terhadap dana donasi institusi peduli sesama sebagai bahan tindak lanjut bagi tugas dan fungsi institusi negara yang berwewenang. Semua mekanisme penanganan kasus yang ‘panas’ itu diambil alih oleh mekanisme hasrat untuk bermain, untuk menderma sekaligus mengeruk keuntungan dari ACT. Ingatlah plesetan ‘Aksi Cepat Tilep’!

Bahkan jika kata-kata sirkulasi dana kemanusiaan sudah beredar dalam bahasa sehari-hari. Bahwa peristiwa pemblokiran beriringan pencabutan izin ACT dihasilkan oleh yayasan nirlaba itu sendiri tiba saatny dan sesuai satu figur yang paling bertanggungjawab di hari itu. Jenis pelaporan besar terrhadap institusi kemanusiaan ACT sebagai pemandangan besar penyesalan, sekalipun mengelak sebagai penyalagunaan dana untuk kepentingan pribadinya. Kerapkali dia punya, kesempatan untuk bermain, dalam jejak-jejak ledakan besar yang tidak disadarinya. Tidak ada juga untungnya, sebuah pergerakan yang “nyaman”. Akan tetapi, kalkulasi, ritual otomatis, dan penyelidikan yang dilakukan institusi yang berwewenang telah mencium ‘aroma’ tidak seperti biasanya. Jejak-jejak dari ACT merupakan satu bagian, yang mengundang tanda tanya ke arah kesalahan yang pantas.

Inilah satu institusi kemanusiaan yang digoncang oleh satu pergerakan yang pada dasarnya akan bersuara aneh. Inilah kedok kemanusiaan yang mulia yang akan mengklaim untuk diri sendiri secara perlahan-lahan di depan publik. Apa yang dilakukan begitu spektakuler dari semua kedok kemanusiaan pada akhirnya oleh dirinya melawan dirinya sendiri.

Sebab, di abad ini, di zaman yang telah berubah, permainan-permainan yang mengerikan sebagian kecil menyusp dalam institusi kemanusiaan seperti ACT. Pengelolaan dana yang diduga disalahgunakan, barangkali pada pada dasarnya tidak begitu baru, tetapi telah menjadi bias diketahui, dilihat, dinamai, diceritakan, dituliskan, dan diarsipkan dalam ruang siber. Kebenaran yang dicatat oleh sebuah “mata batin universal” yang lebih mawas dari sebelumnya.

Karena semua permainan ini, yang sekaligus menggoda dan kreatif, nampaknya muncul ke permukaan, karena orang sudah mendesaknya untuk ditanyai atas pengelolaan dana ACT yang seperti pemanfaatan kesempatan, yang bisa dimaafkan akibat amal kemanusiaan. Saat kehidupan melampaui kehidupan, saat hukum melampaui hukum mengintimi titik rawan.

Akan tetapi, mereka tergoda antara menjadi penderma dan pengeruk keuntungan dari ACT. Dalam institusi kemanusiaan ini, logika pertukaran pun dipersyaratkan tanpa dana bergulir. Penderma bias dipertimbangkan berdasarkan syarat bagi kelompok sasaran amal kemanusiaan berubah menjadi ‘melawan kemanusiaan’, selama tindakan penyalagunaan dana membuktikan sekaligus ketidaksadaran akan kesalahan.

Meskipun orang-orang memiliki kekaguman simpatik terhadap amal kemanusiaan ACT, bahkan jika memahami apa yang mengilhami kegusaran publik, membuat kita merasa kesulitan untuk mengikuti jejak-jejak yang ditinggalkan secara sadar. Katakanlah, ketika orang-orang melipatgandakan kegeraman karena nurani yang berada di luar “sang Penderma” atau pada saat eforia terhadap godaan ekonomi uang yang ajaib.

Bagaimana pun juga, petinggi ACT yang telah diselidiki oleh pihak berwewenang, jika terbukti kemungkinan besar mereka mulai menyesal. Dia menyatakan waktu sebelumnya, jika dia tidak memperkaya diri sendiri, tetapi pengelolaan dana itu untuk kepentingan orang-orang yang membutuhkan. Dia berbicara tentang keniscayaan “mata batin universal” yang melampaui etika, hukum, penderma, dan pengeruk keuntungan.

Kemungkinan ‘melawan kemanusiaan’ adalah berkaitan dengan salah satu kemungkinan hukum dan fakta-fakta yang ditemukan oleh Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) dengan kekuatan mata, telinga, dan penalaran analitis yang menjadikan “mata batin universal” tidak sanggup menampakkan dirinya untuk meneranginya ke jalan yang bercahaya. (tempo, 7/7/2022)

Kita atau warganet mengetahui bahwa permasalahan ini lebih serius disbanding sebelum terkuak. Kita bias menyediakan membaca bukti sebagai akibat permainan yang dibeberkan oleh institusi berwewenang. Akhirnya, sebuah pergerakan yang menyamarkan regulasi dari apa yang kerap disebut “pelanggaran terhadap hukum” telah ditanggung oleh institusi kemanusiaan.


 

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.