Budaya

Alam Dan Kita

Nature And Us

Seperti yang sudah kita ketahui, ciptaan Tuhan tidak hanya manusia dan hewan saja, akan tetapi segala sesuatu yang ada dalam kehidupan ini, baik semua yang tercakup dalam alam ruh, alam dunia, alam ghoib, alam barzah serta alam ahirat. Oleh karenanya terciptalah sebuah pertanyaan mendasar, jika alam dan lingkungan adalah ciptaan Tuhan juga, maka bagaimana kah seharusnya cara kita sebagai manusia menjalin komunikasi dan hubungan dengan mereka?

alam-dan-kita
Sumber : Nalarpolitik.com

Dalam pemanfaatan alam, manusia dihadapkan dengan dua hal yang tak terpisahkan bak dua mata uang, pemanfaatan dan mengganggu alam. Pemanfaatan alam sendiri mau tidak mau juga akan mengganggu alam itu sendiri, entah itu gangguan yang sampai menimbulkan kerusakan permanen, atau cuma gangguan kecil. Dari sana lah mencuat sebuah pertanyaan pelik, bagaimanakah cara memanfaatkan alam tanpa merugikan siapa dan apa pun?, yah setidaknya bagaimana seminimal mungkin menyebab kan kerusakan alam dan sekecil mungkin?

Islam sebagai sebuah pedoman hidup bagi para muslim pun telah menawarkan nilai-nilai yang islami dalam masalah komunikasi dan berhubungan yang sinergi antara manusia dan sesama mahluk lainya, termasuk alam. Salah satunya adalah kita manusia tidak boleh berlebihan dalam mengambil kebutuhan dari alam, ambillah secukupnya saja. Karena seperti yang kita ketahui kerusakan alam yang terjadi ahir-ahir ini bukan dilatar belakangi oleh kebutuhan, akan tetapi lebih dikarenakan oleh keserakahan yang berlebihan, perlu digaris bawahi di sini, serakah saja itu sudah jelek apalagi serakah yang berlebihan, itu adalah sebuah mimpi buruk yang terwujud dalam dunia nyata.

Kebanyakan orang hanya akan mengecam jika ada kerusakan alam, terlebih yang diliput oleh media masa. Tanpa mereka sadari mereka juga mendukung perusakan alam itu. Contoh kecil adalah konsumsi gula, saya rasa sebagian besar dari kita adalah konsumen gula, dari sana lah adanya kebutuhan akan gula, lalu termotifasi lah petani tebu untuk menanam tebu yang notabene adalah bahan baku utama dari gula. Dan penanaman tebu ini lah yang sering menggunakan “tetes” sebagai salah satu upaya untuk menyuburkan tanah. Alih-alih menyuburkan “tetes” itu ibarat narkoba bagi tanah, dalam satu masa tanah memang akan subur tapi pada masa-masa setelahnya kadar tanah disitu tidak bisa menurun, maka mau tak mau agar tanah bisa subur lagi diberilah “tetes”. Belum lagi pabrik gula yang ugal-ugalan memproduksi limbah, bisa dilihat di kabupaten Jombang, kali di pinggir jalan Jombang-Lamongan warna sungai telah menjadi hitam pekat dan bau. Belum lagi asap yang dikentutkan oleh pabrik gula yang membumbung tinggi yang memenuhi seantero langit.

Wocoen   Ini Budi : perkara hilangnya "Budi" di tengah masyarakat
Keindahan Alam
Sumber: Google

Kalau membicarakan moral, siapa saja pasti akan setuju bahwa perusakan alam dan lingkungan adalah tindakan tidak bermoral. Tapi itupun jika dilakukan oleh orang lain sedangkan kita tidak mendapatkan untungya. Jika sebaliknya, kita sendiri yang melakukan, atau kita juga mendapatkan untungnya maka, tak ada yang menjamin kita akan berpihak membela kelestarian alam.

Upaya untuk memanfaatkan alam tanpa bemberikan kerusakan yang berat pun saya rasa sedang digarap oleh berbagai bidang yang bersangkutan, seperti jurusan arsitektur, pertanian, kelautan, kehutanan, dan lain sebagainya. Akan tetapi ketika di lapangan keilmuan mereka seolah masih kalah dengan kepentingan segelintir orang. Tentu kepentingan yang berbahaya adalah kepentingan yang tidak mempertimbangkan alam sebagai sebuah pihak.

Dalam pendidikan pun telah ditanamkan sejak dini kesadaran bahwa alam harus dilindungi. Tapi nampaknya tidak begitu diingat mereka tatkala sudah berkeluarga, memang sesuap nasi untuk keluarga tercinta adalah pertimbangan nomer satu, dan alam sendiri adalah barisan terahir bahkan kadang tidak masuk pertimbangan sama sekali.

Islam sendiri sebagai agama tidak mengatakan dengan tegas bahwa uang hasil kerja dari perusakan alam itu haram. Maka tak satu pun orang akan ragu memilih memenuhi kebutuhan ketika dihadapkan pilihan antara memenuhi kebutuhan atau menyelamatkan alam. Bahkan saya curiga jangan-jangan orang-orang berfikir, jika mereka yang melakukan maka namanya adalah pemanfaatan alam, sedangkan jika dilakukan oleh orang lain maka dinamakan perusakan alam. Ambivalen terkadang memang menjadi suatu yang menjengkelkan.

Saya rasa pemerintah sendiri juga telah menentukan mana yang termasuk dari kejahatan perusakan alam dan mana yang tidak, tapi nampaknya juga sama saja, tidak ada efeknya. Saya rasa satu-satunya cara adalah mendidik anak kita sendiri untuk mewanti-wanti anak kita sendiri agar tidak merusak alam, dan katakan bahwa yang lalu biar berlalu, jangan mengulangi kesalahan yang sama.

Wocoen   EGO
Tags

Muhammad Isbah Habibi

seorang petani asal Jombang, yang sedang ngangsu kaweruh di Pondok Gasek dan melakukan research di Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

Related Articles

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close