Allah Maha Tahu

Selepas salat Zuhur di Masjid Al-Huda, Hanafi langsung pulang ke rumahnya. Tanpa ikut berzikir, doa, dan salat sunah Rawatib, ia langsung melangkahi jamaah yang sedang khusyuk berzikir di belakangnya. Tanpa ba, bi, bu ia langsung main slonong saja. Sesampainya di depan pintu, ia bertemu dengan Gus Amin, putra Kiai Ghazali, sang pemangku masjid.

“Lho, Mas Hanafi mau ke mana? Kok kayaknya buru-buru amat?” tanya Gus Amin.

“Pulang Gus”, timpalnya dengan nada ketus.

“Lha sampean kok gak ikut zikir dulu to, Mas? Sekalian berdoa bersama.”

Hanafi yang memang sedari dulu tidak pernah ikut zikir dan doa bersama itupun menimpali Gus Amin dengan nada tinggi, “Mbok yo ben to gus, karep-karepku, Allah kan udah Maha Tahu. Ngapain kita doa segala. Yang penting itu usaha, Gus, kerjo!!!” Jawab Hanafi dengan nada agak tinggi.

“Oh, begitu ya” jawab Gus Amin dengan entengnya.

“Ya iya lah, Gus. Yang utama itu kerja. Kalau gak kerja ya gak dapat rezeki, benar to?” tambah Hanafi dengan percaya diri.

“Lha terus sampean buru-buru pulang itu mau ngapain juga to, Mas?“

“Ya kerja to, Gus. Masa mau ngapain. Ada tugas yang hari ini harus selesai ini, Gus. Kalau gak, saya bakal dimarahi bos saya.”

“Oh, begitu.”

“Ah, sampean ini, Gus, dari tadi jawabnya cuma oh, begitu, oh begitu terus, Gus.“ timpal Hanafi dengan sedikit kesal.

“Hehehe. Gak apa-apa, Mas. Heran aja.”

“Lho kok malah heran sih, Gus?” tanya Hanafi dengan agak serius.

“Ya lucu aja, Mas.”

“Lucu gimana, Gus?”

“Lha sampean sendiri sih, sudah buat keputusan sendiri, tapi malah berbeda dengan fakta yang sampean alami.”

Sek, sek, Gus, gak paham aku, mbok yo sampean jangan malah buat saya bingung to, Gus.”

“Begini, Mas, sampean tadi bilang, gak usah berdoa-berdoa segala, karena Allah sudah Maha tahu. Lha buktinya sekarang sampean malah kerja terus menerus, malah sampe takut dimarahi sama bos sampean. Emangnya Allah gak tahu tugas-tugas sampean?”

Seketika itu Hanafi mencoba mencerna perkataan Gus Amin, mencoba memahaminya dengan perlahan. Bahkan ia terdiam seperti orang linglung. Mencoba berpikir dan terus berpikir. Dalam hatinya, “Oh iya juga ya”.

“Mas, kenapa kok malah bengong?” celetuk Gus Amin di tengah terdiamnya Hanafi.

“Oh, gak, gak, Gus, gak apa-apa” jawab Hanafi dengan cengengesan.

“Lho kok malah sekarang cengas-cenges to, Mas? koyok wong edan wae.”

“Hehehe. Gak, Gus. Setelah dipikir-pikir, bener juga apa yang diomongin sampean tadi” jawab Hanafi dengan kembali cengengesan.

“Hehehe. Ya sudah, Mas, saya mau salat dulu, keburu waktunya habis.”

“Oh iya-iya, Gus, monggo” jawab Hanafi sambil senyum-senyum.

Gus Amin pun memasuki masjid untuk melaksanakan salat. Sedangkan Hanafi perlahan berjalan pulang. Dalam hatinya, ”Ah benar juga yang dikatakan Gus Amin, masa iya gusti Allah gak tahu semua tugas-tugasku” sambil menepuk jidat dan senyum-senyum seperti sendiri di sepanjang jalan menuju rumahnya.

*Diinspirasi oleh pengajian KH. Anwar Zuhdi, Wakil Rais Syuriah PCNU Pringsewu, Lampung.

About Muhammad Fikril Hakim 1 Article
biasa dipanggil Fikril. Lahir di Lampung, tapi orang biasa menyebut Japung (Orang Jawa kelahiran Lampung). Penulis pemula yang jarang sekali tinggal di tanah kelahirannya. Saat ini sedang duduk dibangku perkuliahan dan ingin bergelut dengan dunia penulisan.

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.