Anak didik yang tidak memiliki rasa hormat

Banyak permasalahan dalam pendidikan, tapi ada beberapa permasalahan yang jarang dibahas dalam teori-teori dikdaktik, karena mungkin masalah ini terlalu remeh dan umum ada di mana-mana. Permasalahan itu ada di anak didik, yang bersifat bawaan, entah bawaan sejak lahir atau hasil pendidikan keluarga, atau bahkan warisan dari hasil pendidikan formal di sekolah sebelumnya.

Masalah itu adalah ketidak adanya rasa hormat yang dimiliki oleh anak didik. Hal itu menyebabkan anak meremehkan guru, berprilaku menyebalkan, dan cenderung mengacaukan proses belajar mengajar.

Kami tidak bermaksud membentuk anak jadi seperti robot, yakni penurut dan tidak memiliki daya kritis. Tapi, bermaksud membentuk anak didik yang beretika, tidak liar dan tidak membuat kegaduhan yang menggangu kegiatan belajar mengajar.

Setidaknya ia paham mana perilaku yang menggangu, dan mana yang tidak. Atau ia paham apa yang dirinya inginkan dan paham cara menyampaikan keinginan itu secara verbal, atau paham apa yang ia tidak setuju dan paham cara mengkomunikasikan secara verbal ketidaksetujuannya.

Kami juga tidak bermaksud menyalahkan anak didik, atas ketidak mampuan guru menguasai kelas, tapi memang prilaku anak seperti ini cenderung menyebalkan. Bagaimana tidak, prilaku seperti ini cenderung mengacaukan ikatan antara guru dan murid. Bahkan cenderung memancing guru untuk menggunakan kekerasan, padahal si guru sudah menentang kekerasan dalam pendidikan.

Memang seharusnya ikatan guru dan murid harusnya berdasarkan kerelaan kedua belah pihak. Murid punya hak untuk memilih siapa yang menjadi gurunya, dan guru juga berhak menerima atau menolak siapa saja yang boleh berguru padanya, seperti apa yang ditulis dalam kitab ta’lim muta’allim.

Tidak adanya hak untuk memilih dan menerima menyebabkan hilangnya kebebasan, akhirnya anak didik yang tidak memiliki rasa hormat jadi terpaksa memiliki ikatan guru dan murid dengan orang yang tidak ingin dia hormati. Jadilah sikap ingin memberontak, diam di depan guru tapi mengejek di belakang, meremehkan guru, menjadi hal yang wajar ditemui dimana saja.

Hal seperti ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan memarahi anak didik, membentaknya, memberi hukuman, atau cara-cara praktis dan singkat lainnya. Namun, harus ada kesadaran yang lahir di hati pelaku. Maka metode menakuti, memarahi, dan membentak tidak akan menjadi cara yang efektif.

Dengan begitu harus ada upaya jangka panjang guna untuk mendekati dan menyadarkan. Tidak bisa dilakukan hanya sekali dan cepat, karena tidak memiliki rasa hormat itu terbentuk dan tertanam dalam waktu yang lama dan berkala.

Adanya konselor sebenarnya bisa jadi solusi dari masalah tidak adanya rasa hormat pada anak didik. Tapi, konselor sendiri di instansi pendidikan sudah sibukkan urusan yang lebih penting, dan tidak mengurus satu anak saja.

Dengan begitu, anak butuh bimbingan khusus dan dalam jangka waktu yang lama dan berkala. Pada dasarnya ini adalah tugas orang tua yang bertanggung jawab menanamkan Budi pekerti dalam pendidikan keluarga, seperti yang dikatakan oleh Ki Hajar Dewantara. Sebab itu, orang tua lah yang sebenarnya bisa membimbing pelan-pelan dan menyadarkan si anak tersebut.

Tidak berhenti disitu saja, sekolah juga perlu memberikan pelajaran etika kepada anak didik. Bukan hanya beretika kepada mereka yang anak didik hormati saja, namun juga perlu diajarkan berbagai etika, etika kepada teman, etika kepada guru, etika kepada orang asing, etika kepada senior, etika kepada keluarga, etika kepada kedua orang tua, dan lain-lain. Tentu pelajaran etika disini perlu fokus pada praktek dan penalaran, tidak malah salah fokus pada hafalan.

Konselor juga perlu diringankan beban kerjanya di sekolah, agar ia bisa berfokus pada penanganan anak didik yang bermasalah. Konselor bisa jadi penengah atas hilangnya hormat seorang anak didik. Ia bisa menggali latar belakang setiap permasalahan tersebut, agar semua masalah tidak dianggap sama, dan bisa ditangani kasus perkasus.

Atas dasar itu, perlu setidaknya 4 pihak yang berkolaborasi dalam membentuk perilaku anak didik, yakni, orang tua, sekolah, guru, dan konselor. Karena etika itu dibentuk, bukan dibiarkan tumbuh tanpa arah.


-Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

About Muhamad Isbah Habibii 46 Articles
Seorang petani asal Jombang, alumni Tambakberas, Ponpes Gasek dan Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.