Anggapan Salah Mengenai Perempuan Pulang Malam

Secara epistemologi, perempuan sebagai subjek mengharapkan adanya perubahan, di mana perempuan menjadi unsur yang absah dalam melihat sebuah masalah. Sedangkan secara ontologis, perempuan secara spesifik menjadi dasar yang signifikan dalam menyelesaikan permasalahan yang dialaminya. Perempuan, khususnya yang bersuku Jawa pasti kerap mendengar petuah “anak perawan jangan pulang malam”. Banyak orangtua yang berkata demikian untuk melarang putrinya agar tidak pulang larut malam.

Bagi saya tidak ada hubungannya antara anak perempuan pulang malam dengan perempuan nakal. Saya merasa adanya ketidaksetaraan dengan masyarakat memandang berat sebelah, antara laki-laki dan perempuan, apabila laki-laki pulang di atas jam 10 malam itu hal yang wajar di masyarakat, namun berbeda apabila perempuan pulang di atas jam 9 malam dianggap hal yang tidak wajar dan akan menciptakan berbagai anggapan-anggapan yang mengarah hal yang negatif. Beberapa orang juga sering mengaitkannya dengan keperawanan, yang mana itu tidak ada hubungannya dengan anak perempuan pulang malam.

Anggapan yang menjadi berlebih ini sangat menyerang mental anak perempuan. Seorang perempuan yang dikontrol untuk tidak pulang malam agar tidak meresahkan tetangga kanan-kiri. Mereka tidak peduli apa yang kami lakukan sampai pulang selarut itu, mau pulang sendiri atau bersama teman, jalan kaki atau naik kendaraan, sangat tabu jika perempuan pulang larut malam. Padahal faktanya terkadang ada tugas, diskusi kelompok atau organisasi, bahkan kerja/lembur, yang mana kepentingan perempuan di luar itu jauh lebih penting daripada yang dikerjakan anak laki-laki, namun selalu dianggap buruk dimata masyarakat.

Sering kali dikatakan karena alasan keamanan. Apakah kami, perempuan merupakan sumber dari ketidak amanan dijalan pada malam hari? Jikapun alasannya mengenai keamanan, mengapa ada yang menghubungkan dengan konsep “ perempuan nakal”?

Perempuan tidak bisa jaga diri makanya tidak boleh pulang larut malam. Ini adalah anggapan yang sangat salah dan tidak berkaitan dengan perempuan nakal, karena perempuan zaman sekarang lebih hebat dari laki-laki, kebanyakan laki-laki merasa malas untuk belajar bela diri. Saat ini banyak perempuan belajar bela diri dan lebih modern serta serba bisa dengan perkembangan cara berpikirnya membuat dirinya tidak tergantung kepada laki-laki dan lingkungan sekitarnya. Jadi sangat salah jika ada anggapan perempuan tidak bisa jaga diri ketika keluar rumah pada malam hari.

Baik perempuan maupun laki-laki untuk tidak memiliki batasan waktu untuk mendeskripsikan dirinya. “ Ia layak pulang pagi karena ia laki-laki” dan “ia seperti perempuan jalang karena suka pulang larut malam” adalah kalimat yang sangat tidak adil. Seolah membatasi perempuan untuk melakukan aktivitas di malam hari. Seharusnya kita sebagai manusia, khususnya generasi muda, di mana pun dan kapan pun, baik itu laki-laki maupun perempuan memiliki kesempatan yang sama dalam hal mengeksplorasi diri dan memperluas relasi untuk kehidupannya.

Sering terjadi juga tentang kesetaraan gender. Kesetaraan gender berarti semua individu bebas mengembangkan kemampuan pribadi mereka dan memiliki tanpa batasan oleh stereotip dan statment tentang peran gender atau karakteristik laki-laki dan perempuan. Kesetaraan gender menuju pada pemenuhan hak-hak, kesempatan dan perlakuan yang adil terhadap laki-laki dan perempuan di segala tahapan kehidupan. Di Indonesia sendiri masih ada diskriminasi dalam tahapan siklus pekerjaan khusunya terjadi pada perempuan, baik itu perbedaan beban kerja, gaji, dan tanggung jawab hingga pelecehan seksual yang mampu mengganggu kesehatan mental.

Maka, seharusnya dalam pekerjaan itu yang dinilai adalah kecakapan dan kualifikasi yang didapat melalui pendidikan, pelatihan dan pengalaman kerja. Tugas dan tanggung jawab dalam hal penggunaan teknologi atau mengatur masyarakat atau sumber keuangan, serta upaya fisik, mental dan psikososial yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan tersebut juga menjadi acuan terhadap penilaian dalam pekerjaan.

Masyarakat harus mampu memaklumi zaman yang sudah berbeda ini, masyarakat harus bisa beradaptasi dengan situasi sekarang ini yang mana perempuan untuk keluar malam sama dengan laki-laki agar tercipta keseteraan gender tanpa membedakan. Masyarakat harus bisa menerima itu sebagai sebuah kebiasaan baru hingga menjadi sebagai sebuah kewajaran. Masyarakat mampu membuka pikiran modern dan memperbaiki perspektifnya terhadap perempuan yang pulang larut malam bukan perempuan nakal. Serta masyarakat bisa menilai kualitas perempuan dari pendidikan pengetahuan dan pola tingkah lakunya bukan menilai dari kualitas jam pulangnya.

Seorang laki-laki pun harus mengakui hal ini sebagai sebuah kemakluman, sangat tidak adil rasanya hanya laki-laki yang merasa bebas berkegiatan di malam hari sementara perempuan harus dibatasi ruang geraknya pada malam hari, laki-laki harus mampu membantu mengubah pola berpikir yang keliru di masyarakat, dengan laki-laki menjadi support system dalam menyuarakan kesetaraan ini dan bisa memusnahkan anggapan ini.


-Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

About Riza Antika Putri 1 Article
Seorang mahasiswa Pendidikan Sosiologi Antropologi Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS). Memiliki hobi menonton film.

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.