Apa Iya, Lepas Hijab dan Gaya Busana ‘You Can See’ Itu Bagian dari Feminisme?

Pada suatu masa, tetapi bukan di era Majapahit, saya melihat peristiwa menarik. Tentu saja penilaian ‘menarik’ ini subjektif. Saat itu, tepat di depan hidung, saya menjumpai seorang perempuan dengan rambut terurai; rokok pada jemari sebelah kanan, bir pada jemari sebelah kiri.

Gahar. Setidaknya itulah kata yang muncul di benak saya kala itu. Belum lagi dalam sayup, saya sempat mendengar beberapa kalimat menyembur dari mulutnya. Dia asyik masyuk fafifu ngomong soal feminisme. Amboi! Sahih sudah klasifikasi dia sebagai seorang feminis ulung nun gahar di benak saya.

Namun, kekaguman saya ternyata tidak bertahan lama. Kesan gahar yang muncul dari sosok perempuan tadi akhirnya retak lalu hancur berkeping-keping hanya karena sebuah kalimat yang lahir dari percakapan antara dia dengan seorang lelaki yang menjadi teman duduk sekaligus lawan bicaranya saat itu. Begini bunyi percakapannya:

“Gue pulang dulu, ya.” Ucap si perempuan.

“Lah, Biil ini gue yang bayar?” Si lelaki menimpali.

Dengan yakin si perempuan menjawab: “Yaiyalah. ELU KAN COWOK!”

Duhai pembaca, perhatikan kalimat yang dengan sengaja saya bold dan memakai huruf kapital itu. Entah sadar atau tidak, perempuan yang saya anggap gahar dan lihai ngomong feminisme tadi, mengharuskan temannya yang kebetulan adalah seorang lelaki, membayar tagihannya hanya karena dia punya penis!

Demi penemu nasi uduk, bagi saya kalimat itu absurdnya tiada tara.

Saya memang tak ahli-ahli banget soal feminisme. Tetapi dari beberapa referensi yang saya baca, entah dari feminisme Barat atau feminisme Islam, basis dari isme ini adalah mencapai kesetaraan atau keadailan dalam konteks gender. Bukan mengangkat derajat kaum perempuan lalu memasang kerangkeng terhadap kaum lelaki. Ini bak keluar dari satu lubang untuk lompat ke lubang yang lain.

Perlu dicatat, dalam kasus peristiwa tadi, saya tak menyoal siapa yang mentraktir atau membayar tagihannya. Tetapi reason si cewek, itulah persoalannya. Reason si cewek yang lihai berbicara feminisme itu, entah dia sadar atau tidak, justru menyuburkan pandangan bahwa kaum perempuan lebih lemah dari kaum lelaki.

Jika dia meminta teman (atau mungkin kekasih) lelakinya untuk membayar dengan alasan dia tidak punya uang, it’s fine. Malah itu sangat wajar. Pun berlaku sebaliknya. Si cowok sah meminta si cewek membayar atas dasar tidak mampu. Tetapi ketika keharusan membayar didasarkan kepada jenis kelamin, itu ngehe sih.

Ini satu peristiwa. Sejatinya banyak peristiwa lain yang tidak kita sadari justru menyuburkan pandangan misoginis alias mendiskreditkan gender perempuan. Kita sebut saja, misalnya, kebiasaan kita memberikan fasilitas umum kepada perempuan.

Bayangkan seorang lelaki berumur 20-an dengan kondisi tubuh fit duduk di sebuah kursi Kereta Rel Listrik (KRL) yang tengah melaju. Semua bangku penuh dengan penumpang. Artinya, jika ada tambahan penumpang, pilihannya adalah berdiri. Selanjutnya bayangkan KRL tersebut berhenti di sebuah stasiun dan menaikkan satu penumpang. Kebetulan dia adalah seorang perempuan berumur 20-an dengan kondisi tubuh fit. Dalam kondisi seperti ini, jika si lelaki yang tengah duduk tadi termakan dengan konsep ‘gentlemanly’, maka dia akan memberikan tempat duduk tersebut kepada si perempuan yang baru saja naik. Sementara si perempuan yang juga temakan oleh paradigma ‘perempuan lebih lemah dari lelaki’ dan karenanya kaum mereka pantas menerima kenyamanan, akan mengiyakan pemberian tersebut.

Sama-sama fit, tidak sakit, tidak memiliki cacat fisik, tetapi lelaki tersebut memberikan fasilitas tersebut kepada perempuan atas dorongan kebiasaan umum, dan si perempuan pun mengiyakan. Mungkin alasan dia hanya soal kenyamanan, padahal tindakan tersebut adalah bentuk afirmasi bahwa sudah sepantasnya perempuan menikmati fasilitas tersebut dengan premis bahwa perempuan kan lebih rapuh dari lelaki.

Orang boleh tidak sepakat bahwa tindakan tersebut hanya didasari oleh rasa kemanusiaan, hanya soal humanisme. Namun mengapa tindakan ‘heroik’ semisal itu sukar terjadi jika konteksnya adalah sesama lelaki dengan kondisi tubuh yang sama-sama fit serta umur yang sepantar? Apa faktornya hanya karena lelaki tidak bervagina?

Saya percaya bahwa suatu tindakan adalah konsekuensi logis dari adanya dorongan. Dan dalam neurosains, sebuah dorongan lahir dari proses pertemuan elektromagnetik antar neuron dalam otak yang masing-masing neuron menyimpan informasi. Informasi bahwa lelaki lebih superior dari perempuan, misalnya.

Makanya, saya ingin sekali berseru untuk seluruh kaum perempuan atau siapa pun yang mempelajari feminisme serta memimpikan kesetaraan gender, mulailah dari keyakinan bahwa apa pun jenis gendernya, dalam soal kemanusiaan, kita setara.

Jangan hanya karena nyaman ditraktir, nyaman diberikan fasilitas umum, nyaman dibawain belanjaan, atau kenyamanan-kenyamanan lain, lalu kalian mengorbankan keyakinan bahwa lelaki dan perempuan itu setara dalam akses, manfaat, partisipasi, dan kontrol.

Peristiwa ini juga membuat saya sadar bahwa keterbukaan pakaian semisal lepas hijab dan membiarkan rambut tergerai dibalut gaya busana yang ‘you can see’, gaya hidup yang kebarat-baratan, serta fafifu sok ngutip quotes feminisme tak otomatis menjadikan seseorang bijak dalam berpikir; tak otomatis menjadikan seseorang menjadi feminis ulung dan anti misoginis; Tak otomatis menjadikan seseorang bijak dalam melihat kesetaraan gender.

Saya pikir, hal-hal normatif seperti yang telah disebut tak lebih dari sekadar gaya-gayaan. Atau kalaupun itu adalah bentuk perlawanan simbolik, bagi saya tetap tak substansial! (Bung)

 

-Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

About Fauzan Nur Ilahi 2 Articles
Mahasiswa yang bercita-cita menjadi anaknya Raffi Ahmad biar bisa banyak sedekah

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.