Apakah kirim doa untuk mayit mahal?

Sempat beberapa waktu lalu tersebar sebuah screenshot twitt yang mengeluhkan kelakuan rombongan tahlil. Dalam twitt itu si sender mendongeng bahwa kirim doa itu “kemalan panganan”, atau “gragas”, atau dalam bahasa Indonesia “rakus”.

Seolah orang yang ikut serta dalam acara kirim doa untuk satu sampai tujuh hari mayit, adalah orang yang pamrih, ingin diberi makanan secara terang-terangan. Apakah memang benar-benar ada orang yang tidak punya malu seperti itu, yang terang-terangan meminta untuk diberi hidangan makanan? Lalu ketika sudah sampai di tempat, pemilik rumah bilang tidak ada hidangan, kemudian kembali sambil menegaskan percuma datang bila tanpa adanya makanan.

Dalam tradisi kirim doa untuk orang yang sudah meninggal di Jombang, Mojokerto, dan Malang tidak pernah ada upaya memaksa seperti itu. Para tetangga yang datang merasa suka rela untuk datang dan mengirim doa. Diberi konsumsi silahkan, tidak diberi konsumsi pun tidak mengapa.

Di daerah saya, dusun Soko desa pacar peluk kecamatan Megaluh, kabupaten Jombang, tradisi kirim doa untuk orang mati, tidak terus menerus diberi konsumsi. Kadang cuma diberi air minum, lalu kadang cuma diberi makanan ringan seadanya, dan di hari-hari tertentu tuan rumah memberi konsumsi berupa nasi tumpeng, itu pun tidak selalu demikian. Intinya tidak pernah ada paksaan untuk memberatkan tuan rumah.

Di desa sebelah, yakni desa Sumberagung, malah ada kebijakan untuk melarang tuan rumah memberi hidangan kepada jamaah kirim doa. Orang yang datang untuk berdoa pun tetap masih banyak dan memenuhi rumah, tanpa ada yang merasa percuma datang bila tidak ada hidangan makanan.

Namun, di desa Sumberagung kecamatan Megaluh pun banyak tuan rumah yang kadang mengeluh karena tidak bisa mengeluarkan sedakah untuk si mayit. Padahal, mudah saja bersekah kecil-kecilan berupa kacang dan jajanan bila tidak ada larangan untuk memberikan hidangan.

Larangan ini ada di daerah tersebut sebab disepakati oleh masyarakat, dengan pertimbangan bila ada keluarga miskin yang menjadi rumah duka, lalu merasa terbebani akibat memberikan sajian makanan untuk para jamaah. Pertimbangan yang bisa saja terjadi, dan mungkin pengirim twit tadi perlu hidup disini bila ada ketua rombongan tahlilan yang serakus itu.

Bahkan, di Malang ketika salah satu ustadz pondok pesantren gasek meninggal, dan rumahnya masih dalam kawasan pondok tersebut, banyak para pentakziah yang turut berdoa hingga tujuh harinya. Banyak pula para pentakziah yang tidak hanya datang saja, tapi juga membawa sekerdus air mineral, dan jajanan ringan untuk keluarga berikan kepada para jamaah.

Para pentakziah di Jombang, Mojokerto dan Malang, pun tidak datang dengan tangan kosong. Ada yang datang dan memberikan amplop berisi uang kepada keluarga yang berduka, ada pula yang datang dengan membawa beras hingga kadang tidak habis bila hanya digunakan untuk sekedar menjamu para hadirin dalam acara kirim doa selama tujuh hari.

Lalu apakah orang akan pergi dan meninggalkan rumah duka bila dalam acara tersebut tidak dihidangkan makanan? Saya rasa hal itu tidak akan terjadi di tiga daerah di atas. Orang yang datang hanya pamrih agar apa yang dilakukannya dibalas ketika ia sendiri kelak meninggal, dibalas dengan sama-sama didoakan.

Hanya saja, ada orang-orang yang gengsinya terlalu besar hingga kadang merugikan keluarganya sendiri. Ada orang yang berlebihan dalam menyiapkan hidangan untuk para tamu hingga lupa bahwa keluarga tersebut ekonominya lemah. Ada juga yang merasa malu kalau hidangannya yang ala kadarnya, lalu berusaha memberikan hidangan yang mewah, tapi akhirnya ia mengeluh akan mahalnya biaya kirim doa. Itu semua hanya semata akibat gengsi dan malu, padahal intinya bukan di hidangan yang mahal, tapi di “kirim doa”.

Dengan demikian, kirim doa bukan sesuatu yang memberangkatkan pihak rumah duka, tidak pula merepotkan, tidak pula memberatkan secara ekonomi. Kirim doa adalah salah satu bentuk gotong royong, tanpa perlu ada paksaan dan iming-iming hidangan makanan.


-Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

About Muhamad Isbah Habibii 46 Articles
Seorang petani asal Jombang, alumni Tambakberas, Ponpes Gasek dan Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.