Barokah E. Pambudi mahasiswa Universitas Negeri Malang yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk ngojek sambil ngerokok daripada belajar di kelas

Arti Kewarasan

Barokah E. Pambudi 3 min read 0 views

bersepda-dikebun

[dropcap]E[/dropcap]insten, Mozart, Tesla adalah segelintir tokok yang semula dianggap gila oleh orang-orang waras kemudian sanggup menggemparkan dunia para orang-orang yang mengaku waras. Dari manakah penuduhan ini orang gila, itu orang waras itu berasal?  Apakah seseorang yang memiliki perbedaan pemikiran dan pendapat pada umumnya dianggap gila? Bagaimana seharusnya seseorang yang mengaku dirinya orang waras itu berperilaku?

    Indonesia sendiri memiliki beberapa tokoh yang dianggap gila oleh orang-orang waras diantaranya adalah Gus Dur. Ketika Gus Dur melakukan lawatan ke Israel untuk keperluan diplomasi maka tidak sedikit orang-orang yang menganggapnya antek Israel. Padahal menurut ahli perang Cina Sun Tzu menyatakan bahwa “pahamilah musuhmu dan pahamilah dirimu maka kau tak akan kalah dalam seratus pertarungan”. Saya beranggapan bahwa keputusan Gus  Dur untuk melakukan lawatan ke Israel adalah keputusan yang tepat, untuk “memahami musuh”  guna mendamaikan pertikaian antara Israel dan Palestina, mencegah para ekonom dunia yang berasal dari negara Israel untuk melakukan distorsi kepada pasar ekonomi Indonesia, dll.

    Namun diantara tokoh-tokoh Indonesia yang dianggap paling “membahayakan” bagi kalangan penguasa dan elit politik baik dalam negeri maupu luar negeri dimana buah karyanya dimana-mana dan terus-menerus terdapat penekanan serta pengurangan adalah Ki Hajar Dewantara. Sang Bapak Pendidikan. Kita ketahui dari jaman Dinosaurus sampai jaman alay sekarang ini belajar adalah sarana paling utama dalam kehidupan, agar kita selalu selamat, baik di dunia maupun di akhirat. Begitu pula berdasarkan kutipan puisi Ws Renda yaitu “apa gunanya pendidikan kalau tidak didekatkan pada kehidupan”. Ki Hajar D tidak main-main dalam membuat sistem pendidikan di Indonesia dimana telah dilakukan Indigenisasi antara psikologi dari barat dengan psikologi dari Indonesia. Kemudian disesuaikan dengan Al-Qur’an. Serta diajarkan lewat kebudayaan setempat. Sehingga akan terbentuk siswa yang bukan hanya memiliki BudiPekerti, baik dalam hubungan sesama manusia dan alam namun dapat pula mengenali dirinya sendiri dan kebudayaannya.

Wocoen   Nabi Ibrahim dan Sikap Terhadap Informasi Irfani

    Namun realita jalannya pendidikan di Indonesia sekarang ini terutama di kalangan mahasiswa kependidikan menelan mentah-mentah begitu saja teori maupun strategi dan metode pembelajarn dari barat. Hal ini dapat dilihat dari setiap kali praktik mengajar baik di perkuliahan maupun di sekolah selalu menggunakan teori maupun strategi barat tanpa adanya perombakan dan penyesuaian. Semua di telah mentah-mentah serta langsung diaplikasikan.  Singkatnya, rendahnya perhitungan dampak penggunaan teori dan strategi pembelajaran Barat jika diterapkan di Indonesia. Hal ini sesuai berdasarkan pendapat dari Rektor UPI saat memberikan kata pengantar dalam buku Alwasila, Suryadi, dan Kartono (2009: iii) yang menyatakan bahwa “…di antara kita ada miskonsepsi seolaholah pendidikan yang terbaik itu adalah sistem pendidikan yang dikembangkan di dunia Barat sehingga seringkali kita menelan mentah-mentah konsep Barat tanpa sikap kritis. Di antara kita selama ini silau dengan sistem pendidikan Barat sehingga buta terhadap keunggulan lokal yang lama terpendam dalam bumi kebudayaan Indonesia”.

            Kemudian diperparah dengan ketidak adanya research dari kalangan mahasiswa kependidikan membuat ajaran-ajaran terkait pendidikan dari jaman dahulu se,akin terlupakan. Hal ini dapat dilihat dari beberapa pernyataan dari kalangan mahasiswa sebagai berikut:

“Tidak ada bedanya antara pendidikan jalam dahulu dengan jaman sekarang”

“pendidikan jaman dahulu itu banyak ceramahnya”

    Dua saja dari beberapa pernyataan yang saya sembunyikan sudah cukup membuat hati saya terobek-robek. Bagaimana bisa kita yang mengaku orang waras ini mengemukakan sesuatu tanpa me-research terlebih dahulu, minimal realistis, serta rasional dan dapat  dilogika. Pendidikan jaman dahulu sangat berbeda dengan pendidikan jaman sekarang. Kalau jaman dahulu guru layaknya seorang petani. Dari kata nandur Jadi guru mengawali murid dengan mendidik batinnya, sopan-santunnya, perasaannya terlebih dahulu. hal ini dibuktikan dari betapa pentingnya pelajaran adab sekaligus pengaplikasiannya. Kemudian penggunaan kebudayaan seperti permainan setempat sebagai media pembelajaran, serta teori yang selalu diimbangi dengan praktikum. Oleh karena itu tidak mengherankan kalau para orang tua kita memiliki tulisan tangan, susuan kalimat, maupun peyampaian isi sastra yang jauh lebih baik dari jaman sekarang.

Wocoen   Islam dan Semangat Pembebasan

    Sedangkan pendidikan jaman sekarang terutama dari kalangan mahasiswa  layaknya pedagang sayur, membungkusnya semenarik mungkin agar memiliki daya tarik. “Anda mau bayar berapa untuk memberi strategi dan metode saya, Oh harga cocok! Oke, ini”. Parahnya sayurnya pun kita beli dari orang Barat bukan dari petani Indonesia. Sehingga hal ini sudah terjadi dua kali degradasi. Satu, degradasi makna dan landasan dasar pendidikan. Dua, degradasi fungsi dan pelaksanaan.

     Namun yang paling spektakuler adalah pertanyaan: “Siapa kiblat pendidikan kita ini?” mungkin ia terlalu mengabil hati setiap media dan televisi yang membuat kita tersesat. Mungkin pula ia tak pernah mencuci bajunya sendiri sewaktu sekolah hingga lupa siapa pencetus “tut wuri handayani” yang menempel pada saku kirinya. Namun tenang saja kawan semakin sering orang disesatkan oleh media, medsos maupun TV maka rasa nikmat mula-mula akan tinggi namun semakian lama ia akan semakin merasa bosan akan kesesatannya dan mencari jalan keluar. Hal ini sesuai menurut hukum Gossen 1 bahwa, “jika pemenuhan kebutuhan akan suatu jenis barang dilakukan secara terus menerus, maka rasa nikmatnya mula-mula akan tinggi, namun semakin lama kenikmatan tersebut semakin menurun sampai akhirnya mencapai batas jenuh”

            Mohon maaf jika pembaca terikut tersakiti hatinya. Bukankah mengkritik ataupun menegur bagian dari kecintaan saya sebagai sesama mahasiswa. Impian saya itu dari kecil adalah menjadi mahasiswa semenjak saya kecil dulu melihat peristiwa 98, Oleh karena itu ketika terjadi degradasi pada beberapa mahasiswa kependidikan hati saya terikut tersakiti. Mungkin sangking cintannya saya kepada mahasiswa membuat saya tidak kunjung wisuda juga. Namun jika menjadi orang waras hanya akan melahirkan ketidak warasan dalam artian sesungguhnya maka hendaknya saya menjadi orang gila jika dengan itu mampu melahirkan kewarasan dalam artian sesungguhnya. Biarlah saya mundur kebelakang guna melihat kebenaran dari pada terus melaju namun berada di jalan yang salah.

Wocoen   Hilangnya Khazanah Keilmuan di Negeri Seribu Satu Malam
Barokah E. Pambudi
Barokah E. Pambudi mahasiswa Universitas Negeri Malang yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk ngojek sambil ngerokok daripada belajar di kelas

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.