Asal-usul Bahasa Perspektif Timur dan Barat

Manusia adalah makhluk sosial. Ia dibekali dengan akal. Ia diciptakan dengan sempurna (QS. At-Tin: 4). Ia harus berinteraksi dengan manusia yang lain untuk melanjutkan kehidupan di dunia. Hal itulah yang membedakannya dengan makhluk lain.

Akal yang diberikan kepada manusia tidak akan sempurna apabila tidak digunakan dengan baik dan diungkapkan menggunakan bahasa —baik tulis ataupun lisan— dengan baik. Melalui bahasa manusia bisa mengutarakan perasaan dan pikiran-pikirannya. Melaluinya, manusia bisa mempengaruhi, mengajak dan menolak apa saja yang tidak disetujuinya. Dan yang sangat perlu diketahui, keberlanjutan manusia yang dimulai awal mula penciptaannya sampai sekarang adalah melalui bahasa. Sekira tanpa bahasa manusia tidak mungkin bisa meraih apa saja seperti saat sekarang ini. Namun, pernahkan manusia memikirkan kapan bahasa itu dimulai? Siapa orang pertama yang berbahasa? Apakah bahasa itu pemberian? Atau bahkan manusia dapat menciptakan bahasa sendiri?

Sebenarnya tulisan ini merupakan tugas tambahan setelah perkuliahan filsafat bahasa selesai dilakukan, yaitu untuk menelaah artikel yang ditulis oleh Prof. Mudjia Raharjo yang beliau beri judul “Spekulasi Tentang Asal-Usul Bahasa”. Tidaklah baik dan patut seorang murid menelaah atau dengan bahasa yang kurang agak sopan (menilai) tulisan gurunya, apalagi memberi komentar apa saja yang sudah atau bahkan yang dilakukan oleh gurunya. Tulisan ini sifatnya akan lebih menambahi bagian-bagian yang menurut penulis agak kurang saja.

Setelah penulis membacanya secara mendalam, artikel tersebut mengulas —paling tidak secara rinci— tentang teori-teori asal muasal bahasa. Beliau menyebutkan teori-teori asal usul bahasa yang diutarakan oleh filsuf barat, menurut mereka ada yang mistis dan tradisional, ada teori bow wow, ada teori ding dong atau disebut nativistic theory, ada juga teori pooh pooh, dan ada juga teori seng song.

Beliau juga mengutip pendapat yang diungkapkan oleh Hidayat (1996: 29) yang mengatakan bahwa ada tiga perspektif terkait teori asal usul bahasa yakni teologik, naturalis, dan konvensional. Pada kesimpulannya, beliau —Prof. Mudjia Raharjo berpendapat bahwa teori-teori yang yang disebutkan adalah sifatnya dogmatif, oleh karena itu tidak perlu dikaji secara ilmiah dan serius terkait asal usul bahasa. Masih menurutnya, kehadiran bahasa harus diterima begitu saja, sama seperti kehadiran manuasia yang tidak perlu dipertentangkan.

Jika Prof. Mudjia menyebutkan teori-teori asal-muasal bahasa berdasar pada filsuf barat, maka perlunya penulis seimbangkan dengan teori-teori yang diutarakan oleh para pakar sejarawan muslim atau paling tidak ulama yang membidanginya. Maka akan diketemui, bagaimana spekulasi asal-usul bahasa dalam perspektif Timur dan Barat. Untuk menguraikannya, penulis berpijak pada tiga kitab; al Khoshois, kitab yang dikarang oleh Ibn Jinni (W. 392 H), Al Shohabi fi Fiqhi Al Lughoh wa Sunan al Arab fi Kalamiha yang dikarang oleh Ibn Faris (W. 395 H), dan kitab al Muzhir yang dikarang oleh Imam Suyuti (W. 1505 M).

Ibnu Jinni adalah ulama’ periode terakhir Bagdad. Nama aslinya Abu al-Fath ‘Utsman bin Jinni atau lebih dikenal dengan Ibnu Jinni (lahir di Mosul pada tahun 322 H wafat pada tahun 392 H) adalah seorang ulama di bidang Bahasa Arab dan Nahwu. Di dalam bukunya (al Khosois), ia berpendapat terkait asal usul bahasa pada bab al Qoul ‘ala Aslil Lughoh (pendapat/pandangan terhadap asal usul bahasa).

Ada dua teori yang menyebutkan, apakah bahasa itu ilham (pemberian dari Allah) atau bahasa itu tawadhu’un (buatan manusia sendiri). Menurut Ibnu Jinni yang berdasar pada QS. Al Baqoroh: 31, bahwa bahasa adalah pemberian dari Allah. Hal itu dilihat dari kenyataan bahwa Adam diajari kemampuan oleh Allah untuk bisa berbahasa.

Pendapat lain, sebagaimana teori yang kedua yaitu teori tawadhu’un bahwa Adam diberi kemampuan untuk dapat menciptakan bahasanya sendiri oleh Allah. Dengan begitu manusia dapat membuat dan menciptakan bahasanya sendiri. Kedua teori tersebut menurut penulis hanya berbeda saja dalam hal menafsirkan QS. Al Baqoroh: 31.

Ibn Faris juga merupakan salah satu ulama dalam tata bahasa arab. Nama lengkapnya Abu al-Husain Ahmad bin Faris bin Zakaria al-Qazwini ar-Razi atau lebih dikenal dengan Ibnu Faris (wafat pada tahun 395 H/1004) adalah seorang ulama dibidang bahasa Arab dan sastrawan.

Dalam bukunya As Shohibi, ia berpendapat bahwa bahasa adalah tauqifi (pemberian Allah) dengan dalil QS. Al Baqoroh: 31. Pendapat ini diperkuat oleh tafsiran Ibnu Abbas terkait surat tersebut yang mengatakan bahwa Allah adalah yang mengajari Adam semua nama-nama. Allah yang memperkenalkannya kepada Adam baik yang berupa binatang, tanah, kemudahan, gunung-gunung, keledai dan lain sebagainya.

Imam Suyuti, nama Aslinya Jalaluddin as-Suyuthi (gelar lengkapnya Abdurrahman bin Kamaluddin Abu Bakr bin Muhammad bin Sabiquddin, Jalaluddin al-Misri as-Suyuthi asy-Syafi’i al-Asy’ari; lahir 1445 (849H) – wafat 1505 (911H) adalah seorang ulama dan cendekiawan muslim yang hidup pada abad ke-15 di Kairo, Mesir. Dalam bukunya al Muzhir, ia menyebutkan sebagian pendapat ulama, bahwa bahasa adalah berasal dari suara-suara yang didengar, seperti suara angin, gemercik air, gemuruh guntur, bunyi lonceng dan lain sebagainya dan kemudian baru lahirlah sebuah bahasa.

Pada kesimpulannya, setelah melalui perenungan yang mendalam, mencurahkan pemikirannya terhadap asal usul bahasa karena bahasa adalah mulia dan lembut, bahwa bahasa menurutnya adalah bagian dari hikmah. Ia meyakini bahwa bahasa adalah tauqifi (pemberian dari Allah). Manusia tidak mampu menciptakan bahasanya sendiri, dan bahasa adalah wahyu.

Dari ketiga ulama di atas, bisa dipahami bahwa asal usul bahasa adalah sifatnya tawadhu’un atau tauqifi (asli pemberian dari Allah), manusia meskipun diciptakan secara sempurna dan dibekali dengan akal tidak mampu menciptakan bahasanya sendiri. Itulah karenanya di dalam ayat-ayat al Qur’an banyak mendeskripsikan manusia dengan sifat lemah dan banyak mengeluh terhadap apa yang menimpa mereka, salah satunya keterbatasan manusia akan menemukan bahasa-bahasa baru, sulitnya memberi nama sebuah atas sesuatu yang baru ia temui dan sulitnya memberi nama fenomena-fenomena kejadian alam semesta.

Penulis sependapat dengan apa yang dikatakan oleh Prof Mudjia dalam artikelnya. Memang tidak memungkinkan bagi kita untuk mengetahui atau —jika dibolehkan meminjam kata Prof Mudji— spekulasi tentang asal muasal bahasa itu emang adanya. Belum lagi siapa yang pertama menggunakan bahasa, dalam bentuk lisan atau isyarat.

Semuanya sulit untuk dibuktikan karena tidak adanya bukti yang memadahi dan yang tersisa sampai saat ini. Namun bagi umat muslim, cukuplah mereka mengimani bahwa bahasa adalah pemberian dan wahyu yang diberikan Allah kepada hambanya. Baik silsuf barat yang telah menelaah asal muasal bahasa atau sejarawan muslim dengan beberapa teorinya yang disebutkan dalam kitab-kitab mereka, kesimpulannya bahwa asal muasal bahasa adalah spekulatif, tidak bisa memberi kepastian secara jelas.

Bagaimanapun juga, artikel yang ditulis oleh Prof. Mudjia sungguh memberi wawasan baru bagi para pembaca, khususnya mereka yang sedang bergelut pada bidang filsafat bahasa melalui penulusuran teori-teori asal muasal bahasa. Sebagaimana disinggung di depan, tulisan ini hanya bersifat melengkapi yang menurut penulis dirasa kurang, yaitu perlunya menambah asal muasal bahasa dalam perspektif sejarawan muslim.

About Nurul Hana Mustofa 3 Articles
Saya asal Palembang, pernah nyantri di Kudus. Sedang nyantri di Malang dan menyelesaikan studi master di MPBA UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.