Hanif N. Isa Mas-mas biasa.

Awalnya Islam Adalah Asing, lalu Akan Hilang dan Kembali Menjadi Asing

Hanif N. Isa 2 min read 50 views

Sedari kecil, kami, anak-anak dari bapak dan ibu saya, dididik dalam lingkungan yang religius. Kami terbiasa mendapatkan ceramah keagamaan dari orangtua khususnya Ibu. Salat lima waktu berjamaah harus dilaksanakan secara disiplin. Apalagi rumah kami berdekatan dengan musala menjadikan kami tidak mempunyai alasan untuk meninggalkan salat berjamaah.

Hingga masa remaja kehidupan saya banyak dihabiskan di pesantren; lingkungan yang tepat untuk melatih kepribadian agar menjadi lebih saleh. Hingga hari ini, saya menghabiskan banyak waktu di lingkungan pesantren dan madrasah.

Hal ini tentu mempengaruhi cara saya memandang sosial keagamaan hari ini; bahwa Islam bukanlah suatu hal yang asing. Islam adalah agama yang gemerlap.

Jika kembali mengingat perihal awal kedatangan Islam, Rasulullah sebagai pembawa risalah ini pada mulanya berdakwah dengan cara sembunyi-sembunyi. Turunnya lima ayat dari Surat Al-Alaq yang dibawa makhluk utusan Tuhan yang membuat Rasulullah gemetar luar biasa menandai awal diutusnya beliau menyampaikan risalah Tuhan secara diam-diam.

Secara umum, dakwah Rasulullah dibagi menjadi tiga tahap; dakwah secara sembunyi-sembunyi, dakwah terang-terangan dan tahapan dakwah di luar kota Mekah. Beliau mengawali berdakwah secara sembunyi-sembunyi karena memang Islam masih minoritas dan asing di tengah masyarakat jahiliah, yang jika mengetahui perihal dakwah Rasulullah tersebut akan tidak segan untuk mengacau.

Maklum, masyarakat mayoritas memang sukanya menang sendiri, merasa superior dan paling benar. Seperti segelintir umat Islam di Indonesia ini, yang merasa paling berhak menghakimi umat minoritas yang berbeda keyakinan dengan teror maupun ancaman-ancaman. Jangankan berbeda keyakinan, terhadap orang yang berbeda pendapat dalam masalah keagamaan saja mereka tidak segan-segan melabeli PKI, antek asing, atau anti Islam.

Pada awal kedatangannya, Islam adalah asing, lalu akan pulang dan kembali asing. Sebagaimana prediksi Rasulullah, “bada’al islaamu ghariiban wa saya’uudu ghariiban kamaa bada”. Bahwa awal mulanya Islam merupakan sesuatu yang asing. Rasulullah beriman sendirian. Kemudian mengajak kerabat terdekat untuk mengenal ajaran Islam.

Silahkan baca juga   Ketika Persaingan Menjadi Tradisi dalam Pendidikan Kita

Selepas Rasulullah hijrah keluar Makkah, masa Khulafaur Rasyidin, kepemimpinan Bani Umayyah hingga Abbasiyah, Islam semakin berkembang dan berjaya. Pada masa menjelang purna, Islam juga akan berangsur-angsur menjadi kembali asing seperti awal kedatangannya, sampai benar-benar hilang pada akhir zaman.

Lalu ada sebuah pertanyaan, hari ini, apakah kita melihat Islam ini telah kembali asing?

Kita bisa melihat bahwa hari ini, Islam sebagai aktivitas keagamaan masih menjadi hal yang gemerlap. Kedudukan agama memasuki dimensi-dimensi elite.

Terlalu banyak di televisi program-program keislaman maupun ceramah-ceramah agama yang disajikan kepada masyarakat. Bahkan audisi dai cilik adalah salah satu program televisi yang digemari oleh ibu-ibu religius sambil membayangkan anak-anaknya bisa berpidato keagamaan dan “nuturi” bapak-bapak audien yang umurnya jauh di atas mereka.

Gebyar selawat digaungkan di mana-mana. Orang-orang berlomba-lomba membangun masjid yang megah dan menghabiskan milyaran rupiah.

Ajakan jihad dan bela Islam sedang semarak-semaraknya. Bahkan ada beberapa adzan yang biasa dikumandangkan dengan lafaz “hayya alasshalaah” atau “hayya alal falaah” diganti dengan “hayya alal jihaad”.

Melihat cara beragama masyarakat kita hari ini dan antusiasmenya dalam berislam, rasanya Islam kok sepertinya belum asing ya. Di tengah masyarakat yang semangat berlebih dalam menegakkan kalimat Tuhan secara formal, wajar jika kita mengatakan bahwa Islam belumlah betul-betul terasing dari kehidupan yang serba profan.

Namun, jika melihat “nilai”, kita akan merasa asing. Kalau seseorang maupun berlaku jujur di lingkungan yang koruptif, ia akan merasa sendirian dan terasing kesepian. Masjid-masjid dibangun megah sedangkan orang-orang terlalu sibuk untuk datang ke masjid dan berjamaah salat maktubah.

Teror dan pembunuhan dengan biadab yang dilakukan Mujahid Indonesia Timur (MIT) di Sigi tempo hari juga adalah salah satu bukti bahwa nilai-nilai Islam dan kemanusiaan telah berangsur-angsur asing. Output dehumanisasi tidak hanya terorisme maupun tindakan keji dan premanisme, namun juga memandang rendah orang lain yang berbeda maupun perlakuan takfiri juga merupakan bibit dehumanisasi tersebut.

Silahkan baca juga   Mengendus Mental Health dari Story Jahitan

Bukankah jujur, integritas, akuntabilitas, setia kawan, berlaku obyektif, penghargaan terhadap manusia dan alam, menghormati orang yang lebih tua dan menyayangi anak-anak adalah nilai-nilai Islam yang diajarkan Rasulullah itu sendiri?

Kita percaya bahwa hari ini adalah akhir zaman. Nilai-nilai Islam berangsur-angsur asing. Masyarakat lambat laun menjadi kembali jahiliah. Menciptakan sistem yang menindas maupun berlaku intimidatif atas nama agama sudah tidak asing.

Hanif N. Isa
Hanif N. Isa Mas-mas biasa.

One Reply to “Awalnya Islam Adalah Asing, lalu Akan Hilang dan Kembali…”

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.