Budaya

Bagi Umat Islam, Membahas Persoalan Sampah Plastik tidak lebih Menggoda daripada Meributkan Istilah Kafir

Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas dan Konbes NU) yang digelar di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Kota Banjar, Jawa Barat telah berlalu. Kini tinggal kenangannya, eh, maksud saya tinggal ribut-ributnya yang belum usai. Walaupun ribut soal istilah kafir hampir selesai, namun masih menyisakan sentimen ketika masalah tersebut dibahas kembali.

Tempo hari memang banyak orang eker-ekeran soal salah satu rekomendasi forum Munas NU tersebut agar tidak menyebut orang yang tidak beragama Islam dengan istilah kafir, yang kemudian cukup diganti dengan sebutan non-Muslim.

Lha mau gimana lagi? Lha wong budaya kita itu eker-ekeran, je. Sebagaimana kampanye arek-arek bulan lalu, “Valentine bukan budaya kita. Budaya kita itu eker-ekeran,” “Valentine bukan budaya kita. Budaya kita itu ngerasani tonggo”, atau “Valentine bukan budaya kita. Budaya kita itu ngurusi urusan wong liyo”.

Dalam lingkungan masyarakat heterogen yang suka eker-ekeran seperti di Indonesia ini, saya pikir keputusan ini merupakan hal yang wajar. Bagi kiai-kiai NU, menyebut non-Muslim yang hidup berdampingan di Indonesia ini tidaklah cukup dengan istilah kafir dzimmi.

Penyebutan kafir dzimmi ada karena non-Muslim yang hidup berdampingan di Indonesia ini taat pada konstitusi dan bersedia hidup damai dengan kaum Muslimin. Oleh karenanya perlu ada penyebutan yang lebih ‘halus’ agar tidak berbuntut diskriminasi dalam konteks kehidupan berbangsa dan negara di kemudian hari.

Saya tidak hendak masuk lebih jauh dalam konflik kafir dan non-Muslim ini. Bagi saya keputusan kiai-kiai NU di forum tersebut tentang hal ini sudah benar mengingat kita hidup di negara-bangsa. Hanya kaum Muhajirin milenal yang doyan hijrah-hijrahan saja yang terus mempersoalkan hal ini.

Wocoen   Menyikapi anak yang candu android sejak dini

Saya lebih melihat ke salah satu pembahasan lain di Munas NU yang dirasa tidak kalah urgen dari gontok-gontokan masalah istilah kafir. Mau sampean mengkritik, atau tertawa sampai nangis karena KH. Tengku Zulkarnain dan Ustaz Haikal Hassan yang tempo hari menampilkan kebodohannya ketika menafsirkan kata kafir, lho, tetap mereka tidak mau menerima kebenaran dari sampean. Lha mereka sudah “menutup diri” dari kebenaran, je.

Saya tidak merekomendasikan sampean menertawakan beliau-beliau berdua karena ketidakpahamannya tentang ilmu dasar gramatika Arab yang mestinya harus dikuasi oleh orang yang mendaku diri sebagai ahli agama. Beliau berdua juga sama seperti kita, adalah orang yang masih belajar. Saya hanya mengajak mendoakan beliau berdua, semoga beliau berdua mau sekolah lagi di Madrasah Ibtidaiyah, agar di kemudian hari tidak membikin malu ketika ceramah atau pas diwawancarai di depan kamera salah satu stasiun televisi. Eh.

Kembali. Bagi saya, ada permasalahan yang lebih pelik dari sekadar membahas kebodohan ulama kaleng-kaleng tadi, eh, ribut-ribut istilah kafir maksud saya, yaitu persoalan sampah plastik yang sudah jadi permasalahan serius bagi lingkungan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2018 mencatat, sampah Indonesia mencapai 64 juta ton per tahun. Indonesia juga menjadi nomor 2 penyumbang sampah plastik terbesar di laut setelah Tiongkok. 64 juta ton, geess. Kalau ditumpuk-tumpuk jadi gunung, kira-kira tingginya berapa MDPL, geess?

Sampah plastik ini disebabkan oleh banyak faktor. Di antaranya faktor industri dan rendahnya budaya masyarakat menyadari bahaya sampah plastik, yang kemudian dengan tanpa kontrol mengonsumsi sampah plastik secara berlebihan. Ditambah lagi kebiasaan membuang sampah non-organik tersebut secara sembarangan.

Sebenarnya per tanggal 1 Maret 2019 kebijakan kantong plastik tidak gratis (KPTG) mulai diterapkan di sejumlah ritel anggota Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo). Maka pemerintah perlu menyambut baik inisiasi Aprindo tersebut dengan menerbitkan payung hukum melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LKHK).

Wocoen   Kasih Sayang Nabi Muhammad saw. (bagian 2/2)

Hal ini membutuhkan partisipasi dari berbagai pihak. Penanganan masalah ini juga harus dengan memasukkan elemen budaya

Kemudian, adakah sebelum ini —katakanlah sebelum Munas NU kemarin yang salah satu rekomendasinya membahas tentang persoalan sampah— para agamawan, atau lebih umumnya masyarakat yang dikenal religius seperti di Indonesia ini giat mengampanyekan bahaya sampah plastik dan budaya membuang sampah sembarangan? Saya pikir kok jarang, ya.

Hari ini, barangkali masyarakat lebih gandrung berbicara tentang politik dan agama —sebagai struktur transendental final, yang diasumsikan hanya mengurus ubudiyah mahdloh dan ghoiru mahdloh. Belakangan 2 hal tersebut memang menjadi tema paling menarik.

Yang saya maksudkan di sini adalah masyarakat kita, sebagai masyarakat yang religius, atau agamawan dengan ilmu agamanya, jarang membicarakan secara serius tema menjaga lingkungan untuk keberlangsungan kehidupan manusia yang lebih baik. Kalau berbicara tentang poligami atas dasar perintah agama, kita dan ustaz-ustaz selebriti, sih, paling semangat.

Teks-teks agama —meminjam kata Islam dengan Alqurannya, hadits atau kitab-kitab klasik— jarang dibawa oleh agamawan ke persoalan-persoalan lingkungan; pentingnya tidak membuang sampah di sungai, menjaga kelestarian hutan, pengontrolan konsumsi sampah non-organik bagi masyarakat dan sebagainya.

Jika kita menengok salah satu firman Tuhan, “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS: Al-A’raf Ayat: 56), maka kita akan menemukan bahwa ayat ini belum cukup bagi umat Islam agar lebih memperhatikan kelestarian lingkungan dengan lebih serius.

Dengan ayat tersebut, kita akan diberi pemahaman bahwa Allah melarang manusia agar tidak membuat kerusakan di permukaan bumi. Kerusakan ini mencakup pembunuhan, pencurian, melakukan kemaksiatan-kemaksiatan yang sifatnya personal, perzinahan, meminum minuman yang memabukkan dan seterusnya. Ini yang sering saya temui di khutbah-khutbah atau pengajian-pengajian keagamaan kebanyakan.

Wocoen   Bumi Gojlokan

Ayat-ayat Alquran seperti tersebut di atas harusnya sudah cukup untuk dijadikan semangat dan dasar oleh umat Islam untuk terus memperhatikan lebih serius persoalan lingkungan. Kalaupun itu dibahas di forum-forum keagamaan, itupun tidak begitu berdampak nyata pada perilaku umat beragama.

Agama —di mimbar-mimbar masjid, di pengajian-pengajian jika dalam Islam, juga tentu di kegiatan religi di agama-agama lain, hari ini paling tidak hanya dibawa ke pembahasan-pembahasan teologi, tasawuf, fikih yang berhubungan dengan syariat ibadah maupun muamalah, akhlak terhadap Tuhan ataupun sesama hamba dan seterusnya. Saya menganggap tema-tema tersebut tetap merupakan tema yang sangat penting yang harus terus dikampanyekan oleh agamawan dalam mendidik masyarakat.

Namun selain itu agama —dalam hal ini agamawan, ustaz, dai selaku pemegang kendali urusan agama, tidak boleh menutup mata dan harus turut andil dalam menjaga kelestarian lingkungan dengan memberikan edukasi kepada masyarakat tentang hal tersebut melalui pesan-pesan agama yang mereka bawa.

Setiap hari kita yang rajin pergi ke masjid, pengajian di mana-mana, demo membela agama hingga berjilid-jilid, lha kok masih suka mengotori lingkungan dan buang sampah sembarangan? Tentu berarti ada yang bermasalah dengan cara kita beragama, kan, Ferguso? Eh, akhi, ding.

Hanif N. Isa

lahir di Jombang pada 1 Januari 1992. Domisili Dsn. Konto RT. 02 RW. 04 Ds. Tembelang Kec. Tembelang Kab. Jombang. Aktivitas mengabdi di Pon. Pes. Bahrul Ulum Tambakberas Jombang dan Yayasan Panti Asuhan Miftahus Sa'adah Mojoagung Jombang. Serta sebagai pegiat komunitas seni, sastra dan budaya Ngopi Tumpah.

Related Articles

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close