Nila Iliyyatuz Zulfa Gadis kelahiran pasuruan, lulusan MMA Bahrul Ulum dan sekaligus lulusan jurusan sejarah Universitas Negeri Malang, dan pernah aktif di komunitas diskusi warung kopi "rumah darurat".

Bahasa: jembatan intelektualitas dan sosial masyarakat

Nila Iliyyatuz Zulfa 1 min read 0 views

pulang-kampung

Rembukan.com – “Buzzer”, “independen”, “out of the box”, “literasi”, “imajinasi”, “thaghut”, “murtad”, “menuju tuhan”, “ortodoks”, “pluralisme”, “injeksi”, kalimat-kalimat ini adalah representasi dari pengetahuan intelektual yang menjadi bahan perbincangan sehari-hari akademisi. Seringkali kalimat-kalimat “intelektual” ini terbawa hingga ke rumah. Meributkan soal sayur mayur dan menghubungkannya dengan indeks keuangan dunia atau soal pengairan yang mampet dan menghubungkannya dengan penjelasan sentraliasasi sumber daya alam yang tidak merata.

Ketakutan soal anggapan bahwa sekolah tinggi jauh diperantauan tidak menghasilkan apa-apa dikampung halaman memunculkan pikiran: “aku harus menunjukkan hasilnya”. Istilah-istilah intelektual kemudian digunakan, menerjemahkan gejala sosial urusan rumah tangga dengan penyebutan teori hemoni, atau teori markxisme. Tidak lupa dikabarkan kepada tokoh setempat karena telah berjasa sebab telah berhasil menerjemahkan masalah secara teoritis.

Kenyataan dilapangan berkata lain. Barangkali kalau perumpamaan diatas adalah sebuah kenyataan, tentunya orang tidak sungkan menyebut anda gendeng dan mabok teori. Mengingat bahwa ragam masyarakat adalah orang-orang yang memahami kehidupan secara empiris, akan menganggap anda hanya sedang berceloteh-celoteh tidak jelas jika tetap menggunakan istilah-istilah ilmiyah sebagai penjelasan persoalan rumah tangga. Khusus di jawa, penggunaan bahasa adalah persoalan politik identitas.

Telah terekam dalam sejarah, bahwa saat jaman belanda, orang-orang elit dan bangsawan adalah pengguna bahasa belanda yang fasih. Tampilan bahasa bukan hanya soal tingkat pendidikan, tapi juga sebagai prestis sosial. Di jaman Jepang, pelarangan penggunaan Belanda mulai dari tingkat akademisi, hingga pada pergaulan sehari-hari yang telah mengakar sejak masa Belanda. Pada masa sekarang, sedang tren bahasa Jaksel. Mix bahasa Inggris dan Indonesia, dimanapun anda menggunakan bahasa mix, meskipun bukan orang Jaksel, 80% orang akan menduga bahwa si pemakai bahasa adalah orang Jaksel, atau terpengaruh secara langsung dr Jaksel. Untuk contoh lain, sangat dekat diantara kita, penggunaan kromo, ngoko, dsb adalah petunjuk sampai mana pembicara menghayati Jawa.

Apresiasi tertinggi ada pada perubahan yang baik. Kehadiran diri sebagai intelektual ditengah masyarakat awam harus mampu menempatkan diri secara benar. Berdasarkan lokasi lingkungan tinggal atau lingkungan menetap, seorang yang menganggap dirinya akademis idealnya harus mampu melihat apa yang dibutuhkan masyarakat dengan “kulo nuwun” dan “nyuwun sewu” lantas berbicara dengan bahasa sesuai norma yang berlaku. Dalam pandangan budaya dan nilai sosial secara umum, seseorang akan dianggap berhasil “pulang dengan selamat” jika mampu berdampingan dan membawa energi positif ditengah masyarakat. Barangkali memang benar jika mabok istilah sudah mejadi watak kaum intelektual, maka membahasakan pengetahuan sesuai dengan lingkungan adalah tindakan cerdas yang harusnya dilakukan sebagai solusi.

Tambahan, hal ini tidak berlaku pada kaum intelektual saja, yang menganggap diri sebagai agamawan nampaknya lebih membutuhkan penjelasan ini.

Nila Iliyyatuz Zulfa
Nila Iliyyatuz Zulfa Gadis kelahiran pasuruan, lulusan MMA Bahrul Ulum dan sekaligus lulusan jurusan sejarah Universitas Negeri Malang, dan pernah aktif di komunitas diskusi warung kopi "rumah darurat".

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.