Hanif N. Isa Mas-mas biasa.

Belajar dari Kiai Salman Tambakberas, dari Istikamah Hingga Kesahajaan

Hanif N. Isa 2 min read 1 views

Kebanyakan orang yang pernah nyantri di pesantren, bila ditanya siapa orang yang paling berpengaruh dalam kehidupannya dulu di pesantren, tentu jawabannya tidak lain ialah kiainya —sebagai figur sentral yang memiliki multiperan di pesantren.

Dalam figur yang multiperan tersebut, sosok kiai tidak bisa dipahami secara sepintas atau dipandang secara kasat mata. Kiai telah mereformulasi menjadi sosok pemimpin yang fleksibel, elegan, dan rasional. Dalam kondisi tertentu kiai juga menjadi sosok yang irasional karena fleksibilitas tersebut.

Hal ini juga berlaku bagi penulis yang pernah nyantri di pesantren Tambakberas. Di antara orang-orang yang paling berpengaruh bagi kehidupan penulis di pesantren, yang mampu mengubah pola pikir, pembuka wawasan, pembentuk karakter, adalah Kiai Salman Alfaries —Allahu thala umrahu.

Kiai Salman telah banyak membentuk pola pikir dan menambah wawasan penulis, serta menuntun penulis dalam upaya pendewasaan diri, baik dari segi emosional maupun spiritual. Selama beberapa tahun menuntut ilmu di pesantren beliau, kami, para santri, dididik melalui praktik-praktik teladan baik melalui keseharian beliau —yang kadang tanpa kami sadari bahwa aktivitas sehari-hari kiai kami adalah bagian dari pendidikan yang diberikan beliau kepada para santrinya.

Sependek yang kami pahami dulu saat masih mondok, bahwa pendidikan di pesantren itu ya ngaji kitab; di kelas-kelas Diniyah maupun ngaji-ngaji sorogan. Nyatanya belakangan wawasan kami lebih terbuka melalui uswah baik yang diberikan Kiai Salman dan guru-guru kami di pesantren; bahwa mondok tidak hanya tentang pandai membaca kita kuning dan ngaji Al-Qur’an, tapi juga tentang akhlak mulia, moralitas, karakter, prinsip, tekad, tanggung jawab, kepasrahan kepada Tuhan, penghormatan kepada sesama dan lain sebagainya. Pendek kata, mondok adalah perihal tentang penyemaian kesalehan sosial maupun spiritual.

Wocoen   Lakon Menang Keri

Penulis seringkali teringat salah satu dawuh Mustasyar PBNU, KH Ahmad Mustofa Bisri. Di berbagai kesempatan dalam forum pengajian maupun diskusi ilmiah, beliau menyampaikan bahwa orang kerap merancukan antara pengertian pengajaran dan pendidikan.

Menurut beliau, pengajaran dalam bahasa Arab berarti ta’lim. Ta’lim berasal dari kata allama – yu’allimu, yang bermakna mengajarkan atau memberikan pengetahuan. Dalam diksi yang lain yakni mentransfer atau memberikan informasi pengetahuan. Menjadikan seseorang dari tidak tahu menjadi tahu.

Sedangkan pendidikan dalam bahasa Arab berarti tarbiyah. Tarbiyah artinya mengasuh, menumbuhkan, melatih, mendidik, dan mengajarkan etika dan sopan santun.

Putra Kiai Bisri Mustofa mencontohkan, guru memberikan informasi tentang ilmu Fisika, maka murid akan tahu ilmu Fisika. Guru memberikan informasi tentang ilmu Matematika, maka murid akan paham ilmu Matematika. Guru memberikan informasi tentang ilmu Hadis, maka murid akan tahu ilmu Hadis. Guru memberikan pengetahuan tentang Al-Qur’an, maka murid akan mengerti ilmu Al-Qur’an. Tapi apakah akhlak atau moral si murid akan serta merta sesuai dengan nilai-nilai dalam Al-Qur’an? Ini bukan wilayah ta’lim. Namun tidak lain adalah urusan tarbiyah.

Di antara lembaga pendidikan formal yang ada, bahwa pesantrenlah lembaga pendidikan yang sampai hari ini konsisten memprioritaskan tarbiyah daripada taklim. Pesantren kami di Tambakberas yang diasuh oleh Kiai Salman, PP Bahrul Ulum Ribath An-Najiyah 2, termasuk yang memegang prinsip berharga tersebut.

Penulis selalu terkenang, setiap hari sebelum waktu Subuh beliau sudah membangunkan para santri agar segera mengambil air wudu kemudian salat Tahajud. Kami kerap masuk musala dan menunaikan salat Tahajud belakangan. Kami melihat beliau sudah duduk bersila di pengimaman, berzikir hingga azan Subuh berkumandang. Kami sebagai santri yang belum bisa mengikuti keistikamahan dan “akas” beliau seringkali merasa malu.

Wocoen   Agamawan dan Keberpihakannya kepada Petani dan Buruh (Bagian 1)

Di waktu-waktu mustajabah tersebut, penulis meyakini bahwa beliau tidak akan pernah lupa menyebut nama-nama kami, para santri, dalam doa-doanya. Barangkali inilah bagian dari pendidikan batin yang diberikan beliau dan para kiai pesantren secara umum kepada santri-santri.

Penulis pernah ditanya salah seorang penjual nasi di salah satu warung sekitaran Tambakberas, “mondok ten pundi, Gus? (Mondok di mana, Gus?)” —bagi sebagian masyarakat, panggilan Gus kadang juga berlaku untuk memanggil santri walaupun bukan putra seorang kiai seperti kami.

“Ten pondokipun Pak Yai Salman, Yu” (di pondoknya Pak Yai Salman, Yu).

“Oh, Pak Yai Salman, to. Pak Yaine sampean niku sae, Gus, mirah senyum. Senajan kiai, seneng nyopo tiyang alit kados awak-awakan ngeten niki (Oh, Pak Yai Salman. Pak Kiaimu orangnya baik, Gus, murah senyum. Walaupun seorang kiai (baca: tokoh masyarakat), beliau tetap tidak segan-segan menyapa masyarakat biasa seperti kita-kita ini).”

Bagi penulis, guru kami memang merupakan sosok bersahaja. Tanpa melihat status sosial, beliau tidak membeda-bedakan dalam memberikan penghormatan kepada orang lain.

Pada saat sudah tidak belajar di pesantren lagi dan menemui banyak beban kehidupan yang lebih besar, penulis selalu teringat dawuh beliau di pengajian maupun forum-forum informal agar senantiasa berbaik sangka kepada Tuhan dan mendekatkan diri kepada-Nya. Hal tersebut sudah cukup menjadi spirit dan rem bagi penulis dalam menjaga spiritualitas di tengah kehidupan industrial yang semakin serba duniawi.

Penulis menyarankan kepada diri sendiri dan santri alumni —pesantren mana pun— agar selalu mendoakan para gurunya walaupun di ruang-ruang sepi, menyambung silaturahmi secara zahir maupun batin. Bagi penulis sebagai santri yang tidak berdaya di depan gurunya, secemerlang apapun karier penulis, setinggi apapun jabatannya, penulis tidak patut melupakan kiainya, orangtua dan para pendahulunya.

Wocoen   Merindukan Pluralisme Cak Nur

Penulis mengucapkan “sugeng ambal warsa” kepada beliau. Mudah-mudahan Tuhan memberikan umur panjang dan berkah kepada beliau sehingga dapat terus istikamah membimbing masyarakat kecil dan para santri. Amin.

Hanif N. Isa
Hanif N. Isa Mas-mas biasa.

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.