Belajar Menyukai Kucing

Seekor kucing mati digantung di atas pohon. Seutas tali yang melingkar di lehernya telah menutup saluran pernapasan dan membuat jantungnya berhenti berdetak. Kucing itu mati dengan leher tercekik tali dan sebelah mata sudah tercongkel.

Seorang lelaki, yang tak lain adalah majikannya sendiri mulanya merupakan seseorang penyayang binatang. Karena sesuatu yang tak diketahui (mungkin benar, itu bisikan iblis?) ia menjadi pemarah dan tak segan berbuat kasar kepada hewan-hewan peliharaannya, termasuk kepada si kucing.

Suatu hari si Majikan sedang kumat dan energi kejahatan menguasai tubuhnya. Ia mengambil pisau kecil di dalam kantong jaket, kemudian tangan sebelahnya mengangkat si kucing dan mencongkel matanya. Belum lama mata kucing malang itu membaik, ia sudah digantung dan menemui ajalnya di bawah pohon.

Beberapa waktu setelahnya, seekor kucing lain menemui si Majikan dan menghadirkan petaka demi petaka. Anda bisa menyebutnya sebagai balas dendam seekor kucing yang “mati penasaran”, atau mungkin juga pembalasan yang setimpal alias karma, dengan mengandaikan ada Sesuatu lain di luar si kucing turut campur dalam tragedi ini. Anda tahu, setiap kejahatan akan menerima kerugian. Ada banyak contoh bagaimana kerugian dan kemalangan menimpa hidup para penjahat seperti yang dialami si Majikan.

Tetapi kucing itu baik dan dia menerima kemalangan. Ada banyak para penjahat yang hidupnya justru tidak menerima kerugian dan kemalangan.

Para penjahat HAM di Indonesia misalnya, semakin tua malah semakin beruntung. Mereka memegang kendali kekuasaan dan tampil menjadi orang penting di layar televisi setiap hari.

Dibutuhkan kekuatan sistematis untuk sampai pada kondisi seperti ini. Kejahatan yang terorganisir pasti akan mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir. Dan Majikan si kucing tidak memiliki catatan telah terlibat pembunuhan para aktivis pro demokrasi, pembunuhan kaum agamawan dengan tuduhan radikal di tanjung priok, atau menjadi maling atas proyek bancaan seperti yang dilakukan para petinggi negara di Indonesia. Si Majikan mungkin hanya orang biasa, dan karena itu ia menerima hukuman dengan sangat cepat atas perbuatannya.

Kucing malang di atas bernama Pluto. Ia adalah seekor kucing hitam besar dan rupawan tanpa cacat dalam cerita “The Black Cat”. Cerita ini ditulis oleh Edgar Allan Poe seorang penulis cerita misteri asal Amerika.

Saya membaca cerita ini dalam versi terjemahan Bahasa Indonesia. Seseorang menerjemahkan cerita ini dan menayangkannya di sebuah blog. Jika Anda penyuka cerita misteri, cerpen ini akan sangat bagus sekali.

Di Kedai Kopi Kalimetro juga ada kucing. Salah satunya bernama Moli. Nama itu diberikan begitu saja untuk membedakannya dengan seekor kucing lain yang sudah ada lebih dulu, Milo. Nama ini akan memudahkan para pengunjung mengingat mereka, Milo dan Moli.

Kucing lain sebelum kedatangan Milo dan Moli malah dipanggil Ilham Rijik. Kucing ini datang saat momen-momen agung 212 di Monas gempar dibicarakan media masa dan diulas para cendikia.

Beberapa bulan setelah kedatangannya, kucing baik ini terlihat murung kemudian menghilang tanpa jejak. Mungkin dia mengalami apa yang disebut orang-orang tua dulu sebagai keberatan nama.

Di rumah juga ada kucing milik paman. Saya tidak tahu namanya. Saya melihatnya beberapa kali celas-celus di depan rumah dan sesekali lengah di depan gerbang rumah.

Konon, kucing itu adalah kucing keramat. Sewaktu pulang, adik saya menceritakan kekeramatan kucing itu dengan penuh semangat. Kucing itu bisa berada di dalam rumah secara tiba-tiba padahal semua pintu dan jendela sudah ditutup. “Tapi entah karena apa sekarang keramatnya hilang” kata adik saya. Mungkin dia ingin menjadi kucing normal, pikirku.

Islam juga memiliki cerita berkenaan dengan kucing, di antaranya adalah tentang pertemuan Rasulullah Muhammad Saw dengan kucing sewaktu perjalanan untuk Perang Uhud. Perang ini terjadi karena orang kafir Quraisy yang dipimpin Abu Sufyan dikabarkan berangkat dengan tiga ribu pasukan untuk menyerang Madinah.

Orang-orang ini ingin membalas kekalahannya di Perang Badar. Diriwayatkan, karena kondisi yang tidak memungkinkan, Rasulullah dalam sebuah musyawarah lebih memilih posisi bertahan di Madinah dan meladeni para pasukan Quraisy sampai mereka kewalahan dan kembali ke Mekah.

Namun seorang Anshar memberi masukan kepada Rasulullah untuk tidak menumpahkan darah di Madinah, tradisi ini telah mereka jaga bahkan sebelum Islam sampai di Madinah. Maka berangkatlah Rasulullah bersama seribu pasukan. Pasukan ini kemudian pecah di tengah jalan, tiga ratus orang kembali ke Madinah, dan tujuh ratus orang masih tetap bertahan, dan akan melawan pasukan Quraisy yang berjumlah tiga ribu orang.

Dalam perjalanan, dikisahkan rombongan berhenti karena seekor kucing sedang menyusui anaknya tepat di tengah jalur. Rasulullah tidak ingin mengganggu makhluk itu.

Beliau kemudian segera mengarahkan pasukannya untuk mengambil rute lain menuju medan perang. Sewaktu pulang dari peperangan, Rasulullah bertemu kembali dengan kucing itu, kemudian membawanya pulang ke Madinah.

Dalam sebuah riwayat lain disebutkan, sebagaimana kebersihan, ternyata mencintai kucing adalah bagian dari keimanan. Saya tidak tahu bagaimana takhrij hadits ini, tapi berbuat kebaikan tidak melulu harus menunggu seseorang membacakan hadits.

Dan dalam sebuah hadits lain yang populer: “Sayangilah makhluk-makhluk Bumi, maka kalian akan disayangi makhluk-makhluk langit”. Saya menghafal ini dulu untuk sesi latihan berpidato saat di pesantren. Seruan ini membuat saya mengabaikan seruan-seruan kebencian berlabel agama yang banyak muncul di tengah ironi demokrasi akhir-akhir ini.

Moli, si kucing penghuni Kedai Kopi Kalimetro itu saban hari semakin gemuk saja. Seperti teman-teman spesiesnya, ia lebih banyak tidur. Dia bangun sekadar untuk makan makanan yang disediakan, atau berpindah mencari posisi yang lebih tenang dan bebas gangguan.

Saya kira Moli paham, tidur lebih baik daripada menyebar hoaks atau mendengar ceramah-ceramah keagamaan berisi seruan membenci sesama yang disebarkan di pengajian-pengajian dan video-video pendek tiga sampai tujuh menitan itu. Dunia Moli adalah dunia yang tenang damai tanpa cebong (yang kini jadi buzzerRp), tanpa kampret (yang kini jadi kadrun).

About Muammar Nur Islami 1 Article
Berasal dari Lombok Timur. Saat ini sedang menyelesaikan studi di Kota Malang.

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.