Hanif N. Isa Mas-mas biasa.

Beribadah Secara Proporsional dan Tidak Egois

Hanif N. Isa 2 min read 42 views

Dulu pernah saya mendapat cerita dari orang yang baru pulang dari beribadah haji, bahwa setiap orang yang ketika berada di hadapan Ka’bah akan menangis tersedu-sedu karena hati terenyuh. Setiap orang akan kerasan berlama-lama di sana.

Saya nangis sejadi-jadinya, Mas. Kenapa? Cuma karena ingat dosa aja. Ingat betapa banyak nikmat Allah yang diberikan, tapi saya seringkali lalai. Saya sudah ndak ingat apa-apa lagi kecuali Allah. Andai saya ditakdirkan mati di sana, ndak apa-apa, Mas.”

Ucapan seperti ini sering saya dengarkan dari orang yang baru pulang dari beribadah haji. Tidak ada yang salah. Mereka bercerita penuh semangat. Pengalaman spiritualnya selama “ngelencer” ke tanah Haramain dikupas tuntas tanpa tersisa sedikitpun.

Saya membayangkan betapa nikmatnya bisa ke sana, bersimpuh seolah-olah di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala —yang sebenarnya dalam pengertian ihsan kita cukup salat di manapun berada dengan merasa seakan-akan di hadapan Allah tapi apalah daya dengan level keimanan yang ecek-ecek ini kita sering kesulitan salat khusyuk.

Betapa tenteramnya hati ini jika kita bisa berlutut di “hadapan” Tuhan dan mengakui semua kesalahan yang pernah dibuat. Memohon segala hal yang kita inginkan dan belum terwujudkan. Mudah-mudahan kita semua bisa ziarah ke Tanah Suci. Bantu aminkan, slur.

Sebagian orang yang pernah ke Masjidil Haram untuk beribadah haji maupun umrah juga mendamba bisa meninggal dunia di sana sehingga dicatat sebagai mati dalam husnul khatimah. Ada banyak keutamaan meninggal dunia di sana maupun saat sedang beribadah haji yang telah dijelaskan dalam literatur agama.

Pertama, termasuk syahid. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda bahwa barangsiapa yang meninggal dunia dalam perjalanan haji, ia seperti orang yang mati di jalan Allah subhanahu wa ta’ala.

Kedua, diperkenankan memberikan syafaat untuk kerabat. Dengan mendapatkan keistimewaan yang dijanjikan, seperti diampuni dosanya, melihat tempatnya di surga, dilindungi dari azab kubur, merasakan manisnya iman, dinikahkan dengan bidadari surga, dan diperkenankan memberikan syafaat bagi 70 orang kerabatnya. Keterangan ini pernah dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Imam Ahmad.

Silahkan baca juga   Lamcing, Dosa Gak Sih?

Ketiga, dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan bertalbiyah. Pernah diterangkan dalam suatu hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim bahwa ketika seseorang tengah melakukan wukuf di Arafah, tiba-tiba terjatuh dari hewan tunggangannya lalu hewan tunggangannya menginjak lehernya sehingga meninggal, maka Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Mandikanlah dengan air yang dicampur daun bidara lalu kafanilah dengan dua potong kain dan jangan diberi wewangian. Jangan ditutupi kepala dan wajahnya. Sesungguhnya, ia akan dibangkitkan pada hari kiamat nanti dalam keadaan bertalbiyah“.

Keempat, pahala hajinya ditulis hingga hari kiamat. Nabi sallallahu alaihi wa sallam juga bersabda dalam riwayat Abu Ya’la bahwa barangsiapa keluar untuk berhaji lalu meninggal dunia, dituliskan untuknya pahala haji hingga hari kiamat. Barang siapa keluar untuk umrah lalu meninggal dunia, ditulis untuknya pahala umrah hingga hari kiamat. Dan barang siapa keluar untuk berjihad lalu mati maka ditulis untuknya pahala jihad hingga hari kiamat.

Tidak semua orang bisa meninggal dunia di sana. Almarhum KH Maemun Zubair Allahu yarham adalah salah satu yang mendapatkan kemuliaan tersebut.

Ada sebuah cerita, konon bahwa Almagfurlahu KH Bisri Syansuri pernah berharap bisa meninggal dunia di Makkah Al Mukaramah namun tidak terwujud. Lalu Allah menggantinya dengan meninggal dunia pada hari Jumat sebagaimana yang beliau panjatkan dalam doa, dalam usia sepuh dan purna pengabdian yang besar kepada masyarakat melalui Nahdlatul Ulama.

Bersamaan dengan itu, Muhammad Iqbal, cendekiawan Muslim pertengahan abad 20, dalam bukunya yang berjudul Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam bab “Jiwa Kebudayaan Islam” pernah mengutip kata-kata seorang sufi, Abdul Quddus, yang mengatakan “Muhammad telah naik ke langit tertinggi lalu kembali lagi. Demi Allah aku bersumpah, bahwa kalau aku yang mencapai tempat tersebut, aku tidak akan kembali lagi“.

Silahkan baca juga   Esensi “Kesalehan” Masa Kini

Dijelaskan bahwa Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa sallam adalah seorang Rasul. Beliau tidak berpangku tangan. Beliau tidak terlena akan kenikmatan bisa mencapai Sidratul Muntaha. Beliau tidak terbuai oleh nikmat yang besar karena berjumpa dengan Allah subhanahu wa ta’ala.

Beliau segera bangkit dan kembali lagi turun ke bumi. Beliau segera teringat dengan umatnya yang masih memerlukan bimbingan dan pencerahan, serta pendampingan dalam kehidupan sosial maupun beragama.

Setiap dari kita adalah abdullah dan khalifah. Setiap dari kita mempunyai tanggung jawab sosial, entah itu terhadap diri sendiri, keluarga maupun masyarakat luas. Lebih-lebih hal ini berarti berlaku juga bagi seorang intelektual dan cendekiawan.

Kita semua tidak boleh berpangku tangan. Akan sangat naif jika kita salat malam hingga berlarut-larut, namun pagi hari kita mengabaikan pekerjaan di ladang yang menjadi tanggung jawab demi menghidupi keluarga. Atau dengan penuh keegoisan beribadah di Masjidil Haram sambil bergumam dalam hati: “Ya Allah, aku ndak mau pulang. Cabut nyawaku di sini. Sekarang, Ya Allah“. Lha terus yang ngelunasin hutang-hutangnya di rumah siapa? Anak istrinya? Hehe.

Hanif N. Isa Mas-mas biasa.

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.