Nadhif Muhammad Mumtaz Seorang mahasiswa Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta Jurusan Islamic Studies asal Madiun, pernah nyantri di Tambakberas dan di Gasek.

Berpikir Holistik dalam Studi Islam

Nadhif Muhammad Mumtaz 2 min read 0 views


Dalam perkembangannya, Agama Islam memiliki dua dimensi, yaitu Esoterik dan Eksoterik. Yang mana sebenarnya dua dimensi ini juga di miliki oleh setiap agama di berbagai belahan dunia. Pada dimensi Esoterik agama melampaui batas ruang dan watu. Bahkan agama berkutat di ranah rasionalitas maupun non rasionalitas, tak tebatas dan mutlak. Sedangkan pada dimensi Eksoterik agama sangatlah terstruktur, twrbatas, dan berada dalam skup rasio dan bersifat relatif.

Relativitas agama ( Eksoterisme ), membuka peluang untuk dapat melakukan berbagai kajian dan kritik terhadap agama secara mendalam. Baik pada zaman dahulu maupun zaman sekarang. Hal ini akan memunculkan berbagai kebenaran yang komplesk yang mana telah kita ketahui bersama bahwa problematika zaman selalu berkembang. Dalam kontek publik, Agama Islam tidaklah lepas dari konteks di mana iya berpijak, oleh karena itu pengkajian dalam hal studi Islam tidaklah di lakukan dengan satu pendekatan dan prespektif saja, melainkan berbagai pendekatan yang mana di harapkan akan menjadi solusi kehidupan dalam bermasyarakat.

Dari sudut waktu, Agama Islam berproses dalam dua bentang waktu, yaitu pada masa tasryi’ ( pada masa nabi ) dan pada masa pasca tasryi’ ( pada masa sahabat hingga sekarang ). Di dalam perkembangannya Agama Islam telah menghadapi berbagai problematika, oleh karena itu agama yang menjadi problem solver ini harus mengembangkan pula metodologi penyelesaian masalah-masalah yang terjadi di masyarakat pada zaman ini. Tidak cukup hanya menggunakan analisis teks saja yang kerap di lakukan pada zaman nabi, malainkan konteks yang melatarinyapun mempunyai peran yang sangat penting dalam penyelesaian problematika zaman, baik konteks yang melatari di turunkannya ayat tersebut atapun konteks yang melatari saat problematika itu berlangsung ( ayat aayat itu di terapkan ).

Wocoen   Anne Aly: Perempuan Muslim Pertama di Parlemen Australia

Problem Epistimologi dalam studi Islam di awal perkembangannya mempunyai pandangan yang sangat sempit, yaitu menitik beratkan kebenaran hanya pada teks-teks semata ( tekstual ). Di perkembangan selanjutnya bergerak menuju empirisme, yang mana islam tak hanya bisa di pandang dari segi tek-teks suci nya saja. Karena Agama Islam telah menyatu dalam seni dan budaya masyarakat. Agama Islam yang menjadi dasar dan pedoman hidup manusia mengharuskannya pula untuk melebur menjadi satu kehidupan manusia tersebut yang mana di situ terdapat kesenian, kebudayaan, adat istiadat, negara, dst.

Pada era kontemporer muncul paradigma baru dalam studi islam, baik di barat maupun timur. Epistimologi studi Islam yang berbijak pada filsafat pragmatisme, Charles Sanders Peirce dengan lima pilar Epistimologisnya, yaitu : 1) Belive, 2) Habbit of Mind, 3) doubt, 4) Inquiry, 5) Meaning. Di samping itu, di paparkan pula oleh ‘Abid Al-Jabiri dengan 3 pilar estimologisnya, yaitu : 1) Nalar Bayani, 2) Nalar Burhani, 3) Nalar Irfani. Dengan Epistimologis-epistimologis yang telah berkembang itulah Agama Islam akan benar benar menjadi ,Rahmat bagi alam semesta dari zaman ke zamannya. Agama Islam sebagai sumber moral akan selalu di jaga sakralitasnya akan tetapi tidaklah kebal dari kritik dan kajian penganutnya. Karena agama islam tidaklah hanya mengatur pada satu hubungan yaitu dengan tuhan, melainkan berbagai hubungan seperti manusia adan alam sekitarnya.

Oleh karena itu, Agama Islam yang menyandang gelar Rahmatan Lil Alamin mempunyai suatu tantangan baru untuk tetap berhadapan dan eksis dalam kehidupan masyarakat di zaman sekarang. Dalam ranah kehidupan masyarakat global pula telah muncul berbagai isu dan realita mengenai terorisme, anarkisme dan radikalisme yang hal itu agak bertentangan dengan norma kemanusiaan dan kenegaraan. Karena itu, studi Islam dalam porsi kontemporer mempunyai andil besar dalam menebarkan energi-energi perdamaian, cinta, kasih sayang dan humanitas dalam rangka menyelesaikan problematika umat. Dalam konteks ini, Fathullah Gulen mempunyai suatu pemikiran yang berpijak pada logika Ibnu Araby, Al Jilly, Al rummi, dan tokoh tokoh sufi lainnya, bahwasannya agama dalam hal ini tidak hanya pada dimensi eksoteriknya saja, akan tetapi dari segi dimensi esoterik mempunyai potensi menyatukan seluruh ajaran agama yang mempunyai landasan dan dasar yang sama menjadi agama cinta dan toleransi yang di kembangkan melalui dialog-dialog agama dan kebudayaan yang beraroma humanistik di tataran masyarakat yang multikultural.

Wocoen   NU VS Ideologi Islam Transnasional

 

 

Nadhif Muhammad Mumtaz
Nadhif Muhammad Mumtaz Seorang mahasiswa Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta Jurusan Islamic Studies asal Madiun, pernah nyantri di Tambakberas dan di Gasek.

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.