Budaya

Budaya Muluk Dan Talaman Yang Lekang oleh Zaman

Salah satu karakteristik pesantren salaf (perlu diketahui ada dua jenis pensantren, pesantren salaf dan pesantren modern) yakni adanya budaya “muluk” atau makan dengan menggunakan tangan, bareng-bareng. Dahulu merupakan hal yang kaprah, makan beralasakan daun pisang tua yang ditata memanjang dengan tujuan agar cukup untuk makan banyak orang, sayang saat ini tradisi seperti ini sudah mulai jarang ditemukan.

Selain karena tujuan untuk meminimalisir tenaga untuk mencuci dan peralatan yang mungkin saja minim, makan bareng di atas daun pisang juga bertujuan untuk mempererat ukhuwah paseduluran. Ketika duduk berdempetan dengan banyaknya orang yang semuanya juga ingin mendapatkan makan dan ngalap barokah, maka mau tidak mau harus siap duduk berdempetan dan didempeti teman yang lainya.

Mari kita bayangkan dengan jarak sedekat itu, apa mungkin tidak sampai ada obrolan, ya setidaknya bertanya nama misalnya. Budaya di pondok ketika talaman (makan bareng yang mana memakai wadah berupa talam atau nampan), biasanya para santri tidak memilah harus dengan siapa dia makan dan harus bagaimana cara memakanya. Pokok tempat di mana dia duduk, ya bersama orang yang ada di sekelilingnya dia akan makan.

Di sisi lain, makan bareng-bareng di talaman juga diyakini menambah kenikmatan rasa makanan itu sendiri. Bahasa jawanya “royokan” yen ora biso ngroyok disik yo bakal kentekan (kalau tidak bisa merebut duluan dan cepat makanya akan kehabisan).

Di zaman yang serba modern yang semua hal juga harus difikir secara rasional, dunia medis yang tidak lagi sepernuhnya percaya dengan hal yang berkaitan dengan ketidaknyataan. Sebagian dari mereka mengatakan untuk menjaga kehigenisan maka pola dan gaya makan harus diatur.

Wocoen   Nurhadi-Aldo Koalisi Trojal Trojol Maha Asyik Dan Upaya Pendinginan Suasana Politik

Makan harus pakai sendok, bersentuhan dengan tangan-tangan lain menyebabkan ketidak sterilan ketika menyentuh langsung makanan. Sehingga budaya makan pakai tangan dan talam bareng-bareng sudah jarang, bahkan tidak diperkenankan lagi dibeberapa tempat ataupun pesantren.

Makan bersama kini diartikan dengan makan pakai piring sendiri-sendiri, hanya saja makan ditempat yang sama. Rasanya akan nikmat sekali jika makan pakai tangan dan makanya bersama-sama, di satu wadah yang sama. Sembari bercengkrama bercerita tentang pengalaman dan masa depan.

Tags

Nova putri Diana

Dilahirkan di sebuah kabupaten penghasil marmer 21 tahun silam. Saat ini sedang mencari sumber penghidupan untuk masa mendatang dan menimba ilmu agama di Ponpes sabilurrosyad gasek Malang

Related Articles

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close