Farhatul Atiqoh Silakan dipanggil Farha. Ia kelahiran 1997 dan asli Jombang. Belum memiliki hobi menulis. Alhamdulillah sedang nyantri kepada Abah Yai Marzuki Mustamar, dan juga belajar bahasa Arab di Universitas Negeri Malang.

Bumi Gojlokan

Farhatul Atiqoh 2 min read 1 views

Bumi Gojlokan

[dropcap]S[/dropcap]ebagai lelaki, sebetulnya umur 37 tahun belum terbilang tua benar. Tapi Rizal tak tahu mengapa kawan-kawannya selalu mengejeknya sebagai bujang lapuk, hanya karena dia belum kawin. Orang tuanya sendiri, terutama ibunya, juga begitu. Seolah-olah bersekongkol dengan kawan-kawannya itu; hampir di setiap kesempatan selalu menanyainya apakah dia sudah mendapatkan calon pendamping atau belum. Rizal selalu menanggapi semua itu hanya dengan senyum-senyum. Jangan salah sangka! Tampang Rizal tidak jelek. Bahkan dibanding rata-rata kawannya yang sudah lebih dahulu kawin, tampang Rizal terbilang sangat manis. Apalagi bila tersenyum. Sarjana ekonomi dan aktivis LSM. Kurang apa? “Terus teranglah, Zal. Sebenarnya cewek seperti apa sih yang kau idamkan?” tanya Andik menggoda, saat mereka berkumpul di rumah Pak Aryo yang biasa dijadikan tempat mangkal para aktivis LSM kelompoknya Rizal itu. “Kalau tahu maumu, kita kan bisa membantu, paling tidak memberikan informasi-informasi.” “Iya, Zal,” timpal Budi, “kalau kau cari yang cantik, adikku punya kawan cantik sekali. Mau kukenalkan? Jangan banyak pertimbanganlah! Dengar-dengar kiamat sudah dekat lho, Zal.” “Mungkin dia cari cewek yang hafal Quran ya, Zal?!” celetuk Eko sambil ngakak. “Wah kalau iya, kau mesti meminta jasa ustadz kita, Kang Ali ini. Dia pasti mempunyai banyak kenalan santri-santri perempuan, termasuk yang hafizhah.” “Apa ada ustadz yang rela menyerahkan anaknya yang hafizhah kepada bujang lapuk yang nggak bisa ngaji seperti Rizal ini?” tukas Edy mengomentari. “Tenang saja, Zal!” ujar Kang Ali, “kalau kau sudah berminat, tinggal bilang saja padaku.” “Jangan-jangan kamu impoten ya, Zal?” tiba-tiba Yopi yang baru beberapa bulan kawin ikut meledek. Rizal meninju lengan Yopi, tapi tidak mengatakan apa-apa. Hanya tersenyum kecut. “Tidak sumbut dengan tampilannmu,” celetuk Pak Aryo ikut nimbrung sehabis menyeruput kopinya. “Tampang boleh, sudah punya penghasilan lumayan, sarjana lagi; sama cewek kok takut! Aku carikan bagaimana?” “Jawab dong, Zal!” kata Bu Aryo yang muncul menghidangkan pisang goreng dan kacang rebus, mencoba menyemangati Rizal yang tak berkutik dikerubut kawan-kawannya. “Biar saja, Bu,” jawab Rizal pendek tanpa nada kesal. “Kalau capek kan berhenti sendiri.”

Wocoen   Seng Tuwenang lan Ojo Kagetan

Begitulah sepenggal contoh gojlokan yang pernah terekam dalam cerpen Gus Mus, alias KH Mustofa Bisri yang berjudul; RIZAL DAN MBAH HAMBALI. Gojlokan atau ledekan yang malah mengakrabkan bukan malah menjauhkan dan membuat bermusuhan, adalah salah satu kekayaan budaya di Negeri ini.

Hidup yang seperti apa yang bebas dari gojlokan. Kecil besar, tua muda, kaya miskin termakan oleh gojlokan. Mungkin yang membedakan adalah tingkat gojlokannya. Gojlokan, gojlok, menggojlok semacam mengacau perasaan orang lain dengan kata-kata yang terkesan menyudutkan orang lain.

Tradisi gojlokan yang paling kental dikenal adalah di pesantren. Meskipun tanpa disadari gojlokan telah menjamur di seluruh masyarakat. Banyak orang mengatakan, dalam bahasa jawa “ancene arek pondok, senengane gojloki” “gojlokan nang pondok ya wes dadi tempe tahu”. Karena di pesantrenlah orang akan sering bertemu, berinteraksi, dan melakukan apun bersama. Atas dasar inilah mengapa di pesantren akrab dengan istilah gojlokan. Bahkan banyak pesantren yang menganggap gojlokan sebagai amunisi uji coba santri baru. Semakin dia kuat untuk digojloki maka hal ini menandakan pula betapa tebalnya pertahanan perasaannya untuk dikacaukan.

Dari segi psikologi gojlokan termasuk perbuatan yang bisa merusak mental seseorang, akibatnya orang akan merasa minder, tidak PD, pendiam dan banyak hal negatif lain. Sehingga gojlokan semacam ini, dinilai kurang baik untuk perkembangan mental seseorang. Hemat saya, hal ini berbanding terbalik dengan apa itu gojlokan yang ada di pesantren. Budaya gojlokan di pesantren akan menjadikan mental santri (siswa) lebih tegar dan tahan akan segala bentuk pengacauan perasaan. Beberapa mungkin akan merasa gojlokan A keterlaluan dan berlebihan, namun sekali lagi inilah hukum alam pesantren. Menangkan gojlokan untuk menjadi pribadi yang kuat dan mudah menerima masukan dari orang lain atau mundur dengan hasil tidak akan mendapat teman karena mudah tersinggung dan dapatkan bonus jiwa yang kerdil. Alih alih berdalil, “qul al haqq wa lau kaana murronmaka siaplah untuk merasakan kepahitan untuk menikmati kelezatan setelahnya.

Wocoen   Kemesraan yang Sering Disalahpahami

Gojlokan dalam Islam erat hubungannya dengan niat pelaku gojlokan. Islam memperbolehkan gojlokan ini dengan syarat perilaku ini berdasarkan pada “guyonan” alias gurauan. Namun bila lawan bicara tersakiti atas gojlokan tersebut, maka berhukum haram karena dalam sebuah referensi, hal ini tergolong dalam maksiat lisan. Namun bila dimaksudkan untuk hal positif, maka berhukum boleh. Bahkan bila berisi ajakan untuk kebaikan dan mencegah keburukan maka wajiblah gojlokan itu. Istilah pesantrennya sebelas dua belas dengan “amar ma’ruf nahi munkar”  .

Realita telah membuktikan, hidup seperti apa yang bebas dari gojlokan, mulai dari dunia politik, pendidikan formal maupun non formal, bahkan kalangan tokoh masyarakat pun tidak bisa terlepas dari gojlokan. Gojlokan digunakan sebagai senjata utama untuk menyampaikan maksud hati, memperakarab diri dengan lingkungan, langkah penyesuaian diri hingga sebagai salah satu jalan untuk berdakwah agar lebih mudah di cerna masyarakat. Disadari atau tidak, ini sudah menunjukkan betapa akrabnya kita sekarang dengan aktifitas gojlokan.

Bila kita tidak bisa bebas dari gojlokan, maka pandailah memaknai gojlokan itu sebagai hal yang positif. Jadikan itu sebagai motivasi untuk menjadi lebih baik, karena gojlokan ada pasti berdasar atas kekurangan yang ada pada kita. Buktikan bahwa kekurangan itu tidak ada lagi atau bahkan tidak ada pada diri kita. Selamat menikmati sensasi bumi gojlokan!

Farhatul Atiqoh
Farhatul Atiqoh Silakan dipanggil Farha. Ia kelahiran 1997 dan asli Jombang. Belum memiliki hobi menulis. Alhamdulillah sedang nyantri kepada Abah Yai Marzuki Mustamar, dan juga belajar bahasa Arab di Universitas Negeri Malang.

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.