Calon Sarjana Kok Banyak Pesta? Biasalah Katanya Ferguso

Entah siapa memulai,perilaku seperti ini sudah tertanam dan menjadi tradisi,apakah Sebagai manusia yang berwawasan intelektual dan berkarakter global,sejatinya makhluk seperti kita banyak banyak bersyukur, manusia sering kali mengabaikan syukur.kadang merasa segala yang telah didapatkan adalah hasil kerja keras atau jerih payahnya sendiri. Untuk keberhasilan dan kesuksesan yang diraih karena kecerdasan otak dan kekuatan fisik semata. Jangan lupa bahwa ada yang membantu, memberi jalan, dan memuluskan langkahmu dalam meraih itu semua. Sejatinya adalah Allah.Maka sudah selayaknya manusia bersyukur kepada Allah atas semua itu,sudah terlihat berkarakter islami kan?,jadi hasil kompetensi lulusan kampus manapun nanti,Just do it aja lah,kesadaran inilah yang diperlukan mahasiswa sebagai agent perubahan sosial.

Teruntuk sobat-sobat kampusku,adik adik ku,sebagai introspeksi yang senang berpesta dan berhura-hura padahal belum resmi jadi sarjana~ Menjadi sarjana tentu saja menjadi tujuan utama para mahasiswa selain juga menghilangkan beban orang tua. Untuk mencapainya, banyak hal yang harus dilalui mulai dari berangkat kuliah, menempuh ujian-ujian pada setiap semesternya, melaksanakan magang, sampai akhirnya bertemu dengan tantangan menyusun proposal skripsi atau jurnal. Setelah skripsi selesai, jangan harap penderitaan berakhir sampai di situ, masih ada satu tantangan terakhir yaitu sidang skripsi tempat skripsimu dikoyak-koyak dosen penguji. Jika tidak ada revisi,dan kuat sama argumentasimu baru deh bisa langsung wisuda dan menjadi sarjana.

Kelihatannya runtut dan simpel ya? Tetapi, sesungguhnya tidak semudah itu,

Apalagi jika kamu adalah mahasiswa yang dikelilingi oleh mereka yang gila perayaan… Eh gimana, gimana? Saya ndak bermaksud menakut-nakuti tapi bagi kamu yang calon sarjana,masih di semester awal dan belum banyak aktivitas lain, tidak ada salahnya periksa tipe orang-orang di sekitarmu sekarang juga. Itung-itung, nanti harus menempuh prosesi yang begitu rempong, kamu sudah menyiapkannya.

Tentu saja menjadi sarjana itu butuh disiapkan. Tetapi, yang saya maksud di sini adalah persiapan di luar bimbingan, teori-teori, dan pasang kuda-kuda untuk masa depan sebagai sarjana. Siapa tahu, gara-gara orang-orang di sekelilingmu, kamu terpaksa menjadi calon sarjana yang banyak gaya. Tipe calon sarjana jenis ini bisa ditandai sejak ia menempuh seminar proposal atau saat mempresentasikan skripsinya di hadapan dosen dan teman-temannya. Jika setelah presentasi kemudian ada sekelompok orang yang menghampiri, memasangkan mahkota dan selempang bertuliskan Calon Sarjana, kemungkinan besar setelah keluar dari kelas ia harus mentraktir teman-temannya.Mengapa harus begitu? Karena ia dikelilingi orang-orang yang suka perayaan. Tidak afdol rasanya jika sebagai orang yang berselempang Calon Sarjana tidak menampakkan citra diri sebagai orang sukses yang suka mentraktir kawan-kawannya.Padahal, ia masih harus menghidupi dirinya sendiri. Ia butuh ongkos bolak-balik untuk bimbingan. Juga, buku-buku referensi yang biar afdol juga, harus dimiliki, harus dibeli dengan harga yang tidak bisa dikatakan murah. Belum lagi jika stres (dan malas) berkepanjangan. Sudah terlanjur traktir-traktir atas pencapaian bakal skripsi eh skripsinya nggak jadi-jadi. Begitu jurnal/lainnya selesai, dengan segala perjuangan yang (dikira) simpel itu, si calon sarjana akhirnya sidang juga. Satu tangga menuju sarjana berhasil dilewati. Sebuah pencapaian yang membanggakan.Dengan menarik napas dalam-dalam, si calon sarjana pasrah badannya ditempeli atribut-atribut kesarjanaan versi teman-temannya.

Si calon sarjana membaca tulisan di selempangnya lagi sambil mengingat revisi-revisi dari dosen penguji serta merenungkan makna dari siap melamar/dilamar. Saat perasaan dan perenungan mulai campur aduk, akan ada celetukan

“Traktir dong! Kan udah sidang” “Pajak makanan lah yang abis sidang!”

Celetukan seperti ini tidak bisa dianggap hanya celetukan belaka. Sebab celetukan tersebut pasti akan diikuti oleh celetukan-celetukan yang lain, bernada sama. Akhirnya si sarjana yang belum sah karena masih harus revisi tersebut, menanggung biaya makan teman-temannya. Teman-teman yang selalu setia memberikan beban lewat selempang-selempangnya.

Belum sampai wisuda, kadang sudah merasa lelah dengan segala beban calon sarjana yang banyak pesta. Perayaan itu boleh, asal tidak ada pihak yang merasa dibebani. Perayaan kan tujuannya bersyukur dengan perasaan senang atas suatu pencapaian,nah pada titik ini kita bisa mengelak,karena bener bener mepet akhir bulan. Jangan sampai perayaan sejak dini, missal aja, sejak seminar proposal, malah menjadi beban baru. Iya kalau skripsinya berhasil diselesaikan, seminar proposal kan baru permulaan, mengapa perlu dirayakan sedemikan rupa? Untuk menyemangati? Menyemangati kan tidak perlu seboros itu wahai sobatkuh para calon sarjana.

Contoh bagi Yang banyak melihat linimasa temen temen,yang banyak aktif buat status,ndak bisa menyalahkan ,namun mencari sebuah tradisi baru yang lain,membawa wacana perubahan,saya mencoba untuk tetap sabar dan tabah dalam setiap halang rintang ya solusinya tetaplah berusaha mencari teman satu frek satu frame namun tetap berusaha bersahaja dan sederhana.

Ingat kebutuhanmu itu, lho. Masih banyak. Ngingetin mulu~

Bagaimana nasib para mahasiswa yang kurang mampu? Buat biaya hidup saja susah kok harus traktrir teman-temannya, kok harus pesta-pesta. Uang pas-pasan yang seharusnya untuk biaya pendidikan maka terpaksa dipakai untuk hura-hura. Tidak semua calon sarjana itu kaya raya sehingga bisa menanggung biaya makan teman-temannya setelah satu pencapaian terlewati. Jika tiga tahapan harus dilewati untuk menjadi sarjana,berarti paling tidak ada tiga pesta yang harus digelar. Padahal bisa banget, sebenarnya pesta itu bisa dirapel sampai di akhir perjuangannya, setelah benar-benar sah menjadi sarjana.

Perlu diingat, menjadi sarjana tidak hanya selesai sampai wisuda dan pesta perayaan saja. Masih ada banyak hal yang harus dicapai. Masih ada banyak hal yang menuntut untuk dirayakan.Wahai para calon sarjana, yakin masih tetap ingin banyak pesta? Itu semua pilihan okey,jangan baper!

Saya mencoba menggali sisi lain tradisi warga dalam kampus yg jarang diketahui banyak orang. Termasuk bgmn cara seorang dalam mencari pasangan hidup sesama kenalan satu almamater. Semoga ide tulisan selanjutnya bisa terlaksana.Tentu dikisahkan dgn penuh canda tawa. Usaha menginspirasi dulu yakin dan berusaha sampai,wallahu a’lam bisshowwwabb….

About Sholeh Abdul Baqi 3 Articles
Menulis adalah kata lain dari hidup. Aktif di pastibisabungkus.blogspot.com. Lahir 26 Juli 1998 di Banyumas, Jawa Tengah. Mempunyai moto "urip iku urup mugi tansah manfaat"

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.