Coretan Para Pengkhianat

Dalam sebuah kehidupan tidak selalu berbicara tentang seorang sahabat, bicara sahabat tidak selalu bicara seorang teman, dan bicara teman tak selalu membicarakan teman yang baik. Maka dalam sebuah kehidupan akan selalu membicarakan seorang pengkhianat.

Membicarakan seorang pengkhianat pada masa kini tidak lepas dari orang-orang yang berada di lingkaran kita sendiri, karena kehidupan yang selalu menuntut untuk mengukur dengan sebuah angka-angka inilah yang akan menimbulkan ha-hal materialistis. Di sinilah yang akan memunculkan orang-orang yang individualistis, maka orang individualis yang akan mempertahankan nama baik dirinya dengan cara apapun, meski harus menjatuhkan nama baik temannya sendiri. Penulis menyebutnya seorang pengkhianat yang selalu memperjuangkan nama baiknya sendiri.

Penulis mencontohkan, dalam sebuah lingkaran mahasiswa yang di dalamnya mempunyai kepentingan bersama yang disebut sebuah tujuan. Lingkaran mahasiswa adalah sebuah perkumpulan mahasiswa yang mempunyai kepentingan bersama yang rela memperjuangkan demi mewujudkan tujuan dari terbentuknya lingkaran mahasiswa. Akan tetapi, dalam mewujudkan impian dari sebuah lingkaran tersebut ada beberapa kelompok yang memutar arah demi menjaga nama baiknya.

Dalam bukunya Eko Prasetyo Bangkitlah Gerakan Mahasiswa di bab Surat Para Pengkhianat pernah dijelaskan dari novel F Sionel Jose menyindir suasana itu dengan kutipan kalimat Antonio Samson. Sebuah kutipan yang sepertinya cocok pada suasana kita: “…. Mereka orang-orang muda yang cerdas, yang tahu apa arti kekayaan. Tetapi meskipun kaya dan mendapat pendidikan di sekolah-sekolah terbaik, namun horizon mereka terbatas ….”

Horizon itu dibatasi oleh rasa khawatir, takut dan bingung? Kenapa anak muda jadi pelacur keyakinan? Chekov, novelis, hanya menghasilkan risalah, petisi, penelitian?

Peringatan yang disuarakan dengan nada penuh kecaman. Soekarno menyindir kaum terpelajar yang diam. Mereka yang sibuk mematut diri dan hanya bisa berteori. Omongannya muluk tapi tindakannya penuh batas. Konghucu bilang, mengetahui apa yang baik, tapi tidak melakukannya adalah sikap rusia yang tak pernah gentar, bilang: “ketakutan itu karena keprihatinan mereka tak diletakkan pada persoalan kemanusiaan tapi kesejahteraan kehidupannya sendiri.”

Maka, jiwa aktivis intelektualnya selalu gemetar ketika berjumpa dengan korban dan tuntutan tanggung jawab. Bahkan, mereka takut dengan persoalan hingga berlomba cuci tangan. Gramsci menyebut tindakan itu sebagai khianat intelektual organis.

Kita sering menjumpai persoalan ini di sekitar kehidupan kita di kampus, penulis akan mengungkap siapa pengkhianat di dalam kalangan kampus. Siapakah pengkhianat itu?

Pengkhianat itu adalah orang yang sedang menduduki posisi strategis di dalam jajaran kampus ataupun orang yang sedang menduduki menjadi pimpinan tertinggi, baik dalam jajaran birokrasi kampus ataupun ornganisasi mahasiswa (ormawa). Kenapa bisa begitu? Penulis akan lebih mengulas pengkhianat di dalam oraganisasi mahasiswa!!!

Sebagai pemimpin dalam organisasi, mahasiswa seharusnya sudah tahu tentang memperjuangkan hak-hak mahasiswa, sehingga dengan dalih itu mereka naik di jajaran tertinggi dalam organisasi mahasiswa dengan dalih ingin memperjuangkan hak-hak mahasiswa. Tetapi setelah mereka terpilih menjadi jajaran tertinggi tujuan mereka berputar balik menjadi memperjuangkan nama baik kampus, yang itu akan memperalat mahasiswa untuk mengejar akreditasi kampus. Di sinilah seorang pengkhianat dalam lingkaran mahasiswa.

Pengkhianat itu muncul dan berani mengkhianati tujuan dari lingkaran semata-mata karena ingin menjaga nama baik dari periode kepemimpinannya maupun nama baik dari individualnya sebagai pimpinan tertinggi organisasi mahasiswa. Penulis menyebut mereka tidak mempunyai idealisme, atau “idealisme kegoblokan”.

Maka dari itu sebagai pemimpin organisasi mahasiswa seharusnya mempunyai “idealisme” yang “ideal” bukan “idealisme kegoblokan” —yang didasari dengan pengetahuan luas baik dari bahan bacaannya maupun dari hasil analisis dengan teman diskusinya, supaya “idealisme kegoblokan” tidak terjadi. Penulis merasakan membeloknya tujuan pemimpin tertinggi tersebut tidak disari dengan pengetahuan yang luas, sehingga mereka membelokkan tujuan mereka dengan mudah.

Dengan penjelasan di atas dapat penulis simpulkan bahwa idealisme seorang mahasiswa terkikis karena hal-hal praktis, dan idealisme menipis karena hal-hal materialisme. Karena jika melihat sesuatu kebijakan yang dianggap salah atau kurang benar dan tetap diam, maka pantaslah ia tersemati sebutan seorang pengkhianat yang paling buruk dari seorang pengkhianat. Jika tidak mau disebut seorang pengkhianat yang paling buruk, seharusnya ia mampu memperjuangkan nilai-nilai yang diyakini itu benar dan memberantas apa yang dianggap salah atau kurang benar.

Tidak ada sebuah perubahan 

Tanpa adanya perjuangan.

Tidak ada perjuangan

Tanpa adanya gerakan.

Salah itu sebuah kewajaran

Untuk mencapai sebuah kebenaran

Kebenaran tak akan muncul

Tanpa adanya sebuah kesalahan

About Nur Sihabudin Achmad 2 Articles
Aktivis PMII Jombang. Studi di Universitas KH A Wahab Hasbullah (UNWAHA) Jombang.

1 Comment

  1. Saya juga menyadari dari dulu, jika memasuki jajaran pemerintah an yang memiliki kuasa penuh dalam suatu lembaga adalah suatu hal yang bisa membuat idealisme kita terjual, miris, tapi itulah kenyataannya!

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.