Dari Menggasab hingga Perundungan, Inilah Kebiasaan Buruk Santri yang Harus Segera Ditinggalkan

Beberapa pekan yang lalu masyarakat digemparkan dengan kabar meninggalnya santri Pondok Modern Darussalam Gontor I karena dianiaya santri senior. Bagi banyak pihak kasus ini cukup meresahkan, apalagi bagi masyarakat yang menitipkan putra-putrinya di pondok pesantren.

Baru saja agak reda di media kasus pelecehan seksual yang dilakukan anak kiai di Jombang Jawa Timur terhadap santriwati —yang beberapa bulan lalu membikin drama kejar-kejaran dengan pihak kepolisian seperti film-film aksi buatan Barat, masyarakat kembali disuguhkan dengan kasus penganiyaan santri hingga berujung kematian ini. Sehingga bisa jadi muncul pertanyaan; apakah pondok pesantren masih aman bagi anak-anaknya yang sedang belajar?

Terkait dengan pertanyaan tersebut, telah dijawab oleh sebuah opini “Pesantren Aman untuk Semua” yang ditulis Agus Akhmad Taqiyuddin (Gus Yuyud) di Jawa Pos sepekan yang lalu (07/09/22). Tulisan ini cukup menarik untuk disambung dan dilanjutkan pesan-pesan optimismenya dalam esai ini perihal dinamika yang terjadi di pesantren belakangan.

Jika opini tersebut banyak membahas mengenai pengelolaan pesantren dan secara implisit memberikan saran-saran kepada para pemimpin dan pengasuhnya, esai ini akan lebih banyak menyinggung kebiasaan-kebiasaan buruk santri sebagai elemen akar rumput di pesantren yang harus segera ditinggalkan. Kebiasaan yang dimaksud ialah perilaku yang kurang baik namun dianggap wajar dan lumrah karena sudah menjadi budaya di lingkungan pesantren, yang telah dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari para santri selama bertahun-tahun lamanya.

Bila kebiasaan buruk tersebut terus-menerus dilanggengkan dalam kehidupan santri, bukan tidak mungkin dapat berimplikasi serius bagi mereka di kemudian hari. Sebab kebiasaan yang dilakukan secara terus-menerus akan menjadi watak sehingga melekat pada kepribadian seseorang.

Menggasab barang milik orang lain

Menggasab berarti mempergunakan kemanfaatan sesuatu milik orang lain untuk kepentingan pribadi dengan tanpa izin. Kebiasaan ini merupakan hal klasik yang sering terjadi di lingkungan pesantren. Barang-barang yang familiar untuk digasab biasanya ialah sandal, seragam sekolah, songkok, dan bahkan sikat gigi. Beneran sikat gigi, geess. Kebangetan kan?

Bahkan sandal tamu yang kebetulan menjenguk putranya di pesantren, atau milik ustaz kadang tidak segan-segan diambil santri. Entah karena tidak tahu atau bagaimanapun itu, menggasab tetap tidak bisa dibenarkan mau dilihat dari sudut pandang apapun.

Sebab sudah dianggap lumrah, santri yang baper karena barang miliknya digasab santri lain, tidak jarang ada ucapan yang dilontarkan kepada dirinya “sandale digasab ae mangkel, awakmu koyo ora tau mondok ae (sandal digasab aja marah, kamu kayak gak pernah mondok aja)”. Ucapan tersebut sudah cukup merepresentasikan bahwa menggasab telah menjadi aktivitas yang “legal” di kehidupan santri.

Dalam masalah ini, yang perlu ditanamkan kepada para santri adalah bahwa semua orang tidak diperkenankan mengambil sesuatu yang bukan haknya maupun memakan makanan yang bukan miliknya. Mental korup bisa terbentuk melalui kebiasaan ini.

Kitab-kitab kuning yang biasa mereka kaji di pesantren tidak mungkin tidak membahas perihal definisi adil dan zalim, tentang akhlak mahmudah (perilaku luhur) atau mazmumah (perilaku tercela) lengkap dengan keterangan rambu-rambunya. Apakah mengambil sesuatu yang bukan haknya bukan bagian dari menzalimi orang lain?

Mairil

Bagi seseorang yang tidak pernah mengenyam pendidikan di pesantren, mairil adalah istilah yang asing di telinga. Mairil adalah aktivitas seksual sesama jenis yang dilakukan santri di momen-momen tertentu.

Dalam hal ini, yang sering terjadi adalah bahwa seorang santri mairil akan melakukan aksinya secara diam-diam. Biasanya korban adalah teman santri yang dianggap “glowing” dan lebih junior.

Pada zaman sekarang, kita semakin sadar dan berhati-hati terhadap pelecehan seksual. Karena ia telah menjadi tema hangat yang sering terjadi di masyarakat, baik di lingkungan pendidikan atau di manapun.

Pelecehan seksual bisa menimpa siapa saja, di mana saja dan kapan saja. Tentu masyarakat tidak ingin kasus anak kiai di Jombang atau guru ngaji yang mencabuli santriwatinya terulang kembali. Sehingga jika dulu istilah mairil sering menjadi bahan candaan para santri, maka era sekarang mairil bisa menjadi masalah yang serius bila masih terjadi di lingkungan pesantren.

Perundungan dan bullying

Sama halnya dengan pelecehan seksual, perundungan atau bullying bisa terjadi di lembaga manapun. Tidak hanya di pesantren, kasus perundungan hingga penganiayaan kadang ditemui di lembaga pendidikan umum.

Eksploitasi orang kuat terhadap orang lemah tidak hanya dilakukan oleh orang kaya yang ngonten tentang kehidupan susah orang miskin, tidak hanya dilakukan oleh investor terhadap alam, namun juga bisa dilakukan oleh santri senior terhadap teman sesama santri yang lebih inferior. Dengan memanfaatkan senioritas, pengalaman lebih lama tinggal di asrama pesantren, kekuatan relasi antar sesama santri, membuat sebagian santri merasa bisa berbuat apa saja kepada juniornya.

Kasus kematian santri di Gontor merupakan bagian cerita dari sederet kasus kekerasan yang kadang terjadi di pesantren. Biasanya bermula dari perundungan, bullying, hingga terjadi penganiayaan. Sehingga perundungan semacam itu tidak boleh dianggap sebagai hal yang wajar.

Secara umum santri harus kembali melihat kitab kuning yang mereka kaji di pesantren, dan secara adil mengaktualisasikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Tidak hanya menerapkan dalam beretiket kepada guru dan kiainya, namun bagaimana beretika kepada semua orang saja, termasuk menjaga hak-haknya dan memberikan rasa aman kepada sesama.

Protret kebiasaan buruk tersebut tidak serta-merta terjadi di semua pondok pesantren, dan tidak pula semua santri masih mempertahankan perilaku tersebut. Sebagai santri alumni, kami berhusnuzan bahwa kebiasaan-kebiasaan tersebut berangsur ditinggalkan oleh para santri. Selepas mengajar ngaji atau keluar masuk pesantren, sudah tidak pernah kami kehilangan sandal. Karenanya kami berprasangka baik bahwa ada iktikad baik para santri meninggalkan perilaku-perilaku kurang patut tersebut. Sependek yang kami tahu begitu.

 


 

About Hanif N. Isa 23 Articles
Mas-mas biasa.

1 Comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.