Neyla Hamadah Mahasiswa Ekonomi Manajemen UNU Jogja

Desa, Swarga yang Ditinggalkan

Neyla Hamadah 2 min read 1 views

Kota besar bagi sebagian orang adalah sebuah harapan akan kehidupan ekonomi yang lebih baik dan menjanjikan masa depan. Banyak orang desa datang ke kota demi mengadu nasib. Mereka rela jauh dari kampung halaman dan tentu saja keluarga, untuk meningkatkan taraf hidup.

Bahkan ada yang rela menjual hasil sawah yang digarapnya, asal bisa menuju ke kota impian mereka. Seolah semua hal yang indah sudah tergambar dalam pikiran mereka. Meski kenyataannya tak sesederhana itu.

Itulah pemikiran yang melekat di diri orang desa selama ini. Kota adalah segalanya. Di sanalah sumber uang berada. Di sanalah lapangan pekerjaan yang bergengsi berada.

Setiap pagi dan sore di dekat pertigaan desa saya, selalu penuh calon penumpang bus-bus travel dari desa saya menuju Jakarta dan kota-kota penyangga di sekitarnya. Setiap hari selalu penuh. Iya benar, setiap hari! Saya acapkali bertanya-tanya mengapa penumpangnya selalu penuh setiap hari? Selalu ada yang berangkat ke kota setiap hari?

Tiada lain karena kota memberikan pengharapan yang muluk. Materi tentu saja adalah daya pikat utama bagi orang desa. Tidak penting apakah memiliki keahlian ataupun ijazah sarjana, yang penting adalah tekad baja.

Keyakinan menjadi bekal yang lebih besar ketimbang realitas. Soal di sana bagaimana, urusan nanti. Saudara mengajak saudaranya. Tetangga mengajak tetangganya. Terus meningkat setiap tahun perantau datang ke kota yang artinya penduduk desa makin banyak yang berkarya di kota, meninggalkan desanya.

Sampai akhirnya kabar virus Corona yang bermula di Tiongkok sampailah ke Indonesia dan kota pertama yang disinggahinya, Depok! Yup, salah satu kota penyangga ibukota menjadi pilihan pertama virus Corona menyapa masyarakat negeri ini.

Dua pasien tersebut terdeteksi setelah berinteraksi dengan warga negara Jepang positif Covid-19 di salah satu Club di Jakarta, dan perjalanan ke Depok adalah perjalanan pulang ke rumah mereka (sumber: Kompas, 3/3/2020).
Jadi, asumsi dasarnya adalah virus itu sudah ada di Jakarta! Kota impian banyak orang yang menginginkan kehidupan duniawi.

Sejak kasus pertama (Februari 2020) di kota-kota besar itu, belum juga ada kebijakan pembatasan khusus untuk menghentikan penyebaran virus dan semacamnya. Baru pada bulan April 2020, kebijakan yang alot dan lambat disetujui Menkes.

Satu bulan setelah kasus pertama dan setelah pasien positif mencapai ratusan orang. Tindakan lamban yang amat disayangkan kita semua. Tapi nasi telah menjadi bubur. Dibuat bubur ayam pun dalam kondisi begini rasanya tidak mentala (Jawa: tega) memakannya.

Keprihatinan yang sangat besar akan kondisi krisis ini bagi jiwa-jiwa yang pergi. Baik dari kalangan masyarakat umum maupun paramedis yang bertugas di garda depan penanganan pasien Covid-19. Kota besar yang selama ini menjadi tumpuan perekonomian dan harapan banyak orang dari berbagai daerah, secara tiba-tiba menjelma menjadi momok.

Para perantau mencuri kesempatan untuk mulai meninggalkannya berangsur. Desa kembali menjadi sebuah harapan, desa kembali menjadi tujuan. Setelah selama ini ditinggalkan dan tak dianggap ada penghidupan dan kehidupan.

Kota tidak lagi sanggup memberi pekerjaan sebab perusahaan banyak yang melakukan pemutusan hubungan kerja, ruang yang sempit di kota semakin sempit dengan pembatasan. Dan semakin pengap dengan keluhan orang-orang akan kelanjutan hidupnya.

Banyak fasilitas umum yang ada celah pekerjaan bagi orang desa yang berbekal tekad baja tanpa keahlian harus ditutup. Semua demi membatasi penyebaran virus. Hal yang juga dilakukan di negara-negara lain, meski mereka bertindak lebih cepat dan dengan pelayanan kesehatan yang lebih memadai.

Adagium Jawa “mangan ora mangan sing penting ngumpul” kembali menjadi nyanyian merdu. Lebih baik di desa berkumpul bersama keluarga di rumahnya sendiri meskipun tidak makan. Daripada di kota yang jelas-jelas tidak mampu makan, tidak ada lagi pekerjaan dan tak sanggup membayar tempat tinggal. Ditambah teror virus yang tiba-tiba muncul dan belum ditemukan obatnya.

Apakah ini kabar baik buat orang desa yang tetap bertahan di desa? Sayangnya tidak, kami yang di desa mengharap mereka tetap bertahan di kota demi tidak membawa virus itu ke desa. Dulu keluarga di desa mengharap mereka ingat untuk pulang ke desa dengan membawa kegembiraan. Tapi tidak untuk saat ini. Kami memohon untuk jangan pulang, tetaplah di kota. Tetapi itu hanya harapan kosong. Mereka tetap pulang.

Orang-orang yang telanjur pulang dari kota karena sengaja pulang, harus mulai berpikir untuk tidak lagi meremehkan desa. Jangan hanya pulang karena kota sudah mematahkan harapannya. Jangan hanya pulang untuk membawa virus ke orang-orang desa.

Apalagi muncul kebijakan dari kota untuk mempersempit akses orang desa kembali ke kota. Dari saat ini mulailah bertindak membangun desanya. Persepsi bahwa desa tidak memberi harapan perlu direkontruksi. Nyatanya dalam keadaan krisis desa masih memberimu harapan, dan tempat kembali.

Desa seringkali dikhianati penguasa. Penguasa hanya memanfaatkan desa untuk kepentingannya. Ketika membutuhkan suara atau ketika ada dana yang bisa dikorupsinya. Padahal desa adalah sebuah harapan. Desa adalah sumber pangan berasal.

Di sana bukan sekadar tentang masih banyaknya burung-burung yang terbang dengan kebebasan dengan kicaunya yang menentramkan. Desa adalah swarga yang ditinggalkan. Harmonisasi alam yang masih bisa ditemukan.

Neyla Hamadah
Neyla Hamadah Mahasiswa Ekonomi Manajemen UNU Jogja

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.