Dinamika Proses Pengaderan

Hari ini ada  ya yang tak berpikir tentang kader dalam sebuah organisasi. Saya yakin semua memikirkan hal itu karena mereka akan butuh seorang kader yang meneruskan perjuangannya. Terus bagaimana mencari kader apakah hanya melirik begitu saja ketika ada orang dinilainya hebat kemudian langsung dirayu untuk menjadi kadernya. Kalau seperti itu bisa, bagaimana respon orang hebat tadi? Apa iya langsung dia terima begitu saja? Apa kemudian ditolaknya dengan halus atau kasar?

Kenapa semuanya ingin menciptakan kader karena mereka percaya dirinya tidak akan selamanya berproses sebagai seorang kader ataupun berada pada posisi tertentu. Memang proses pengaderan itu berbeda-berbeda, ada yang keras ada yang halus. Tinggal bagaimana upaya itu mudah dan masuk pada diri seorang kader.

Hari ini saya kira jarang orang mengader dengan begitu keras, kalaupun ada mungkin akan tinggal satu atau dua yang tersisa. Dan selainnya akan lari karena tidak merasa nyaman dengan tahapan proses pengaderan.

Kalau kita cermati banyak orang-orang hebat yang sudah menempuh tahapan-tahapan dalam sebuah pengaderan dan hasilnya nyata dan real. Beda ketika dia tak mau melalui sebuah proses mungkin dia tak sekuat mereka yang sudah melalui tahapan-tahapan dalam pengaderan.

Coba kalian renungkan, kalau ada orang mau ngasih kalian antara jamu dan sirup, pilih jamu atau sirup? Mungkin ada yang milih jamu dan ada yang milih sirup. Kalau yang milih sirup padahal sebenarnya orang yang memberimu pilihan itu sadar kalau kamu sedang sakit tapi kamu milihnya sirup dan menganggapnya lebih manis dan segar. Padahal seharusnya jamu yang kamu pilih, yaang bisa menyehatkan.

tahapan pengaderan juga begitu, memang berat dan pahit tapi ada efek baik yang bisa bermanfaat untuk kedepan. Bahkan akan kuat bila diterjang oleh rintangan-rintangan yang menghadang.

tahapan proses pengaderan bolehlah secara halus dan itu sangat dibutuhkan sejak awal, awal-awal mungkin halus, kemudian agak keras dan keras, agar ada sebuah peningkatan dalam sebuah pengaderan. Kalau seorang kader hanya dihadapkan sesuatu yang sama dan biasa-biasa saja ya akan begitu-begitu saja.

Kalau kita ingat bagaimana tahapan-tahapan dalam pengharaman khamer mungkin kita juga bisa analogikan dengan sebuah tahapan proses pengaderan.

Kemudian bagaimana tahapan proses penaklukan konstatinopel yang dipimpin oleh seorang anak muda, beliau sejak kecil sudah disiapkan.

Kalau ada kader mengekspresikan segala upaya yang ingin dilakukannya, jangan dilarang yang penting dia tetap mau belajar dan belajar, agar proses belajarnya menjadikan dirinya dewasa dalam berpikir, dewasa dalam bertindak, dewasa dalam bertutur dan lainnya.

Jadi, tidak ada yang instan dalam sebuah pengaderan. Akhir kata mari kita bersama-sama mengikuti tahapan proses pengaderan agar jadi kader yang militan.

Mungkin ini hanya sekedar teori anak kecil yang sedang belajar berproses dalam tahapan pengaderan.

About Rizky 1 Article
Seorang Mahasiswa yang skeptis terhadap metafisika

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.