Dunia Fantasi Kata Santri

Salah satu ciri khas yang tidak dimiliki oleh dunia selain bangsa Indonesia adalah kaum santri, atau lebih kental dikenal dengan kaum sarungan. Konon katanya kaum sarungan adalah salah satu umat yang ketinggalan zaman, kaum terpinggirkan, tak berpendidikan dan tidak layak menduduki jabatan penting di pemerintahan. Eits, jangan sembarangan kalau ngomong!!. Mari kita sedikit flashback tentang, pertama, pendirian negara Indonesia, apakah kaum santri sama sekali tidak berperan besar dalam pendiriaanya?. Kedua, KH. Abdul Wahab Chasbullah beserta kaum sarungan lainnya yang rela jauh-jauh pergi ke Arab Saudi untuk mempertahankan makam mulia Nabi Muhammad Saw. agar tidak dibongkar, apakah kaum sarungan tak berpendidikan?. Ketiga, setiap tahun, lebih dari empat juta anak belajar di pesantren dan yang lebih wooow adalah lebih dari enam juta lainnya belajar di Madrasah Diniyyah yang rerata menjadi bagian dari pesantren, apakah masih menganggap kaum terpinggirkan?. Ah… sudahlah tak perlu banyak bicara data yang penting adalah bukti.

Terlepas dari berbagai tuduhan negative tentang santri baik dalam dunia dan dirinya, santri tetaplah santri yang pada dirinya mempunyai peranan penting dalam mendidik anak negeri dan tentu yang paling vital adalah menjaga kerukunan umat beragama dan kedaulatan NKRI. Santri mampu melestarikan kebudayaan dan tradisi leluhur, santri ikut berperan aktif dalam sektor ekonomi, pertanian, peternakan, pemerintahan dan bahkan perekonomian sekalipun. Malah justru sebaliknya, kaum terpelajar non-santri yang menjabat di pemerintahan hanya bisa berwacana, obral janji dan parahnya, mereka tega “memperkosa” rakyat, taslim-ta’dhim dalam menjual tanah airnya sendiri.

Sudah barang mesti dan sangat menarik-asyik tentunnya menyingkap tabir makna dari kata santri itu sendiri. Banyak arti, banyak ilmu dan tentunya pesan moral yang menjadi petunjuk arah menuju jalan kebenaran. Mari membuka mata dan hati untuk “santri”. Dalam bahasa Sanskrit kata santri asal mulanya adalah “shastri” yang bermakna orang yang mempelajari shastra (kita suci). Tempat belajarnya di sebut dengan pe-shastri-an dan sekarang dikenal dengan kata pesantren. Maka dari itu antara santri dan pesantren perupakan satu kesatuan yang utuh. KH. Ahmad Dhofir Zuhri mengatakan bahwa santri merupakan rangkaian dari huruf arab hijaiyyah sin, nun, ta’, ra’ dan ya’. Apa maknanya?

Pertama, Sin adalah Salikun ilal Akhirah (menempuh jalan spiritual menuju akhirah). Kedua, Naibun ‘Anil Masyayikh (generasi penerus para Ulama’). Ketiga, Tarikun ‘anil Ma’ashi (berani meninggalkan kema’siatan). Empat, Raghibun ilal khairi (selalu menghasrati kebaikan). Kelima, Yarju As salamah (optimis terhadap keselamatan). Lima makna yang terkandung dalam huruf-huruf dasar kata santri menunjukkan bahwa, orientasi hidup dalam diri santri mengarah pada kesalehan, baik saleh sosial maupun saleh ritual. Maka apabila dalam diri seseorang memiliki kelima prinsip dari falsafah huruf-huruf santri tersebut, serta me-iman-yakini lalu diterapkan dalam kehidupan sehari-harinya, walaupun tidak pernah mengenyam dunia pesantren sekalipun, maka dia berhak menyandang gelar sebagai santri. Selamat Nya(sh/n)tri

Salah satu ciri khas yang tidak dimiliki oleh dunia selain bangsa Indonesia adalah kaum santri, atau lebih kental dikenal dengan kaum sarungan. Konon katanya kaum sarungan adalah salah satu umat yang ketinggalan zaman, kaum terpinggirkan, tak berpendidikan dan tidak layak menduduki jabatan penting di pemerintahan. Eits, jangan sembarangan kalau ngomong!!. Mari kita sedikit flashback tentang, pertama, pendirian negara Indonesia, apakah kaum santri sama sekali tidak berperan besar dalam pendiriaanya?. Kedua, KH. Abdul Wahab Chasbullah beserta kaum sarungan lainnya yang rela jauh-jauh pergi ke Arab Saudi untuk mempertahankan Makam mulia Nabinda Muhammad Saw. agar tidak di bongkar, apakah kaum sarungan tak berpendidikan?. Ketiga, setiap tahun lebih dari empat juta anak belajar di pesantren dan yang lebih wooow adalah lebih dari enam juta lainnya belajar di Madrasah Diniyyah yang rerata menjadi bagian dari pesantren, apakah masih menganggap kaum terpinggirkan?. Ah sudahlah tak perlu banyak bicara data yang penting adalah bukti.

Terlepas dari berbagai tuduhan negative tentang santri baik dalam dunia dan dirinya, santri tetaplah santri yang pada dirinya mempunyai peranan penting dalam mendidik anak negeri dan tentu yang paling vital adalah menjaga kerukunan umat beragama dan kedaulatan NKRI. Santri mampu melestarikan kebudayaan dan tradisi leluhur, santri ikut berperan aktif dalam sektor ekonomi, pertanian, peternakan, pemerintahan dan bahkan perekonomian sekalipun. Malah justru sebaliknya, kaum terpelajar non-santri yang menjabat di pemerintahan hanya bisa berwacana, obral janji dan parahnya, mereka tega “memperkosa” rakyat, taslim-ta’dhim dalam menjual tanah airnya sendiri.

Sudah barang mesti dan sangat menarik-asyik tentunnya menyikap tabir makna dari kata santri itu sendiri. Banyak arti, banyak ilmu dan tentunya pesan moral yang menjadi petunjuk arah menuju jalan kebenaran. Mari membuka mata dan hati untuk “santri”. Dalam bahasa Sansekerta kata santri asal mulanya adalah “shastri” yang bermakna orang yang mempelajari shastra (kitab suci). Tempat belajarnya di sebut dengan pe-shastri-an dan sekarang dikenal dengan kata pesantren. Maka dari itu antara santri dan pesantren perupakan satu kesatuan yang utuh. KH. Ahmad Dhofir Zuhri mengatakan bahwa santri merupakan rangkaian dari huruf arab hijaiyyah sin, nun, ta’, ra’ dan ya’. Apa maknanya?

Pertama, Sin adalah Salikun ilal Akhirah (menempuh jalan spiritual menuju akhirat). Kedua, Naibun ‘Anil Masyayikh (generasi penerus para Ulama’). Ketiga, Tarikun ‘anil Ma’ashi (berani meninggalkan kemaksiatan). Empat, Raghibun ilal khairi (selalu menghasrati kebaikan). Kelima, Yarju As salamah (optimis terhadap keselamatan). Lima makna yang terkandung dalam huruf-huruf dasar kata santri menunjukkan bahwa, orientasi hidup dalam diri santri mengarah pada kesalehan, baik saleh sosial maupun saleh ritual. Maka apabila dalam diri seseorang memiliki kelima prinsip dari falsafah huruf-huruf santri tersebut, serta me-iman-yakini lalu diterapkan dalam kehidupan sehari-harinya, walaupun tidak pernah mengenyam dunia pesantren sekalipun, maka dia berhak menyandang gelar sebagai santri. Selamat Nya(sh/n)tri


-Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.