Muhamad Isbah Habibii seorang petani asal Jombang, yang sedang ngangsu kaweruh di Pondok Gasek dan melakukan research di Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

EGO

Muhamad Isbah Habibii 1 min read 0 views

[dropcap]D[/dropcap]ulu saya kira egosentris adalah nama dari sebuah fase dimana seorang anak menganggap semua adalah miliknya, semua kemaunya harus dituruti, dan kebenaran adalah apa yang keluar dari dirinya sendiri. Namun saya kliru, ternyata egosentris ini juga terjadi pada orang dewasa, bahkan ahir-ahir ini  sifat ini pun menjadi-jadi, dengan bukti banyaknya orang yang merasa benar sendiri.

Sumber : Kompasiana.com

Orang yang egosentris ketika ada orang lain yang memberikan penilaian, langsung ditolak, apalagi jika tiba-tiba ada sekelompok orang yang siap mendukung. Maka jadilah sebuah kritikan menjadi sebuah genderang peperangan. Tentu, sebagai orang yang waras seharusnya kritikan diterima dan direnungkan oleh orang yang dikritik, bukan malah dibantah dan menyerang orang yang memberikan kritikannya. Padahal, sudah barang tentu kritikan itu dibuat dengan niatan awal kebaikan dan pembenahan hal-hal yang kurang tepat.

Di lain pihak, orang yang mengkritik pun juga merasa benar sendiri, kadang dia juga tidak memilah dan memilih dulu informasi yang didapatkanya. Ini menandakan bahwa dia juga melakukan kecerobohan, tapi sudah merasa mutlak apa yang diungkapkanya sebagai sebuah kebenaran. Ini juga bentuk lain egosentris. Maka ketika egosentris bertemu egosentris yang terjadi selanjutnya hanyalahp pertengkaran.

Dalam memperankan kehidupannya, orang yang egosentris pun hanya mementingkan diri sendiri. Maka, ketika jadi pengusaha ya ahirnya dia hanya akan memikirkan keuntungan diri sendiri, tak peduli dia merugikan orang lain atau bahkan merugikan banyak orang. Dan kala dia menjadi orang yang diberikan mandat untuk mewakili sebuah kelompok atau masyarakat, kecil kemungkinan dia bisa mewakili masyarakat, wong sedari awal yang dipikirkan hanya dirinya sendiri. Bahkan, ketika dia dimintai bantuan masyarakat pun, yang dipegangi olehnya adalah apa keuntungan yang akan aku dapatkan.

Tentu hidup berdampingan dengan manusia yang memiliki egosentris tinggi sangat menjengkelkan bukan main, karena tentu kita bakal banyak dirugikannya daripada saling memberikan keuntungan. Dia hanya akan hidup semena-mena, mau menang sendiri dan seenaknya saja. Penuh dengan keluhan tentang dunia yang seolah tidak adil padanya, padahal dia sendiri yang tidak adil pada dunia disekitarnya.

Saya kok jadi pesimis, mau dirubah seperti apa sistem negara atau masyarakat atau sistem-sistem yang lain, kalau orang yang egosentris seperti ini masih menjadi jumlah mayoritas maka hasilnya akan sama saja. Ketimpangan ekonomi, hukum yang runcing kebawah, korupsi dll. sudah tak ubahnya sebuah hobi yang ngetren dimana-mana. Maka tentu, sifat egosentris ini harusnya dikalahkan ketika seseorang hidup dalam masyarakat.

Untuk mengalahkan kegoisan seperti ini perlualah ada kesadaran yang muncul dari diri sendiri dan usaha pelemahan nafsu tentunya, seperti perenungan akan segala tindak tanduk serta keputusan dalam bersikap. Bulan puasa ini adalah moment yang tepat untuk kita berkaca masih kah kita egois? masih kah kita egosentris?

Selain perenungan kita juga perlu  menekan dan melemahkan nafsu egosentris. Puasa adalah salah satu bentuk penekanan dan pelemahan nafsu egosentris. Karena hakikat berpuasa adalah mengalahkan diri sendiri.

Untuk puasa, rupanya dalam agama islam memang dipandang sebagai cara menempa diri. Karena dengan puasa keinginan-keinginan manusia akan sedikit melemah, termasuk juga keinginan untuk menjadikan diri sebagai titik pusat dari sebuah kebenaran (egosentris). Maka dengan berpuasa ini marilah kita hapuskan pemikiran bahwa kita selalu benar, kita tanamkan pemikiran bahwa mungkin kita juga akan salah, hilangkan sifat-sifat egois dalam diri, serta mulailah untuk mencintai semua yang ada diluar diri kita.

Maka tak heran kenapa imam ghozali, dalam kitab ihya ulumudin, mengutib sabda nabi kala memberikan cara mengalahkan nafsu “perangilah dirimu sendiri dengan lapar dan dahaga”.

Muhamad Isbah Habibii
Muhamad Isbah Habibii seorang petani asal Jombang, yang sedang ngangsu kaweruh di Pondok Gasek dan melakukan research di Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.