Yusti Dwi Nurwendah Seorang perempuan super biasa yang lahir di Ponorogo, 20 Oktober 1995, dan kini tengah bersusah payah menelan pahitnya menuntut ilmu karena menyadari bahwa menjadi ‘bodoh dan awam’ itu merugikan.

Esensi “Kesalehan” Masa Kini

Yusti Dwi Nurwendah 2 min read 2 views

Dewasa ini, Indonesia telah dihadapkan pada era globalisasi yang ditandai dengan semakin berkembangnya Ilmu Pengetahuan dan teknologi dengan begitu pesat. Hal tersebut nyatanya telah menyebabkan terbukanya arus informasi dari berbagai belahan dunia menjadi tak terbendung. Selaras dengan penggunaan sebuah alat pintar sebesar genggaman tangan yang tidak lagi hanya dimanfaatkan sebagai alat komunikasi, namun telah menjelma sebagai candu yang menawarkan berbagai macam fasilitas melalui beragam aplikasi yang memudahkan penggunanya untuk mengakses apapun yang diinginkan hanya dengan sebuah sentuhan lembut melalui jarinya.

Menariknya, masyarakat Indonesia pada masa ini yang berada ditengah kepungan modernitas, kecanggihan teknologi, dan banjirnya arus informasi, justru semakin giat dan berlomba-lomba menuju ‘kesalehan’. Bahkan Bryan Turner menyebut fenomena ini sebagai bentuk ‘globalilasi kesalehan’, artinya bahwa fenomena tersebut tidak hanya terjadi pada masyarakat Indonesia saja, namun telah terjadi secara luas dan mengglobal. “Hijrah” misalnya, menjadi sebuah tren yang saat ini dipahami sebagai suatu tindakan bergerak atau pindah dimana lebih berorientasi pada perpindahan secara fisik sebagaimana perubahan penampilan maupun gaya hidup (life style). Gerakan ‘hijrah’ ini jika diamati sangat popular di kalangan anak muda dan selebritis yang mana karakter dari hijrah modern ini berupa penjelmaan segala aspek kehidupannya menuju ‘basis syar’i’, terutama dari perubahan cara berpakaian yang syar’i, menjamurnya bisnis-bisnis syar’i mulai dari halal food, halal tourism, meningkatnya minat terhadap buku agama, hingga simbol-simbol keagamaan, serta maraknya kajian-kajian keagamaan yang dilakukan oleh berbagai kalangan masyarakat. Sederhananya, ‘hijrah’ modern ini dapat dilihat hanya berdasar penampilan fisik, dimana dahulu berpenampilan ketat dan terbuka kemudian menjelma menjadi penampilan yang tertutup. Semakin tertutup maka menurutnya semakin syar’i.

Wocoen   FPUB: Usaha Membangun Semangat Toleransi

Lalu benarkah fenomena ini menjadi sebuah tanda bahwa memang religiusitas masyarakat Indonesia meningkat?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, menarik untuk melihat bagaimana pandangan seorang sarjana, Ngainun Naim, yang meyakini bahwa fenomena kegandrungan masyarakat akan spiritualitas (red: kesalehan) di era modern ini disebabkan oleh dua bentuk. Pertama, ia melihat bahwasanya manusia modern mengalami kehampaan, sehingga kemudian mengakibatkan kerinduan dan keinginan untuk kembali menemukan sesuatu ‘yang pernah ada’ yang dulu pernah hilang.

Kedua, fenomena menguat dan semakin mengakarnya kapitalisme yang bahkan telah masuk kedalam dimensi yang selama ini disebut-sebut sebagai musuh besarnya, yakni agama. Kapitalisme ini nyatanya telah mampu mengendalikan segala sisi kehidupan manusia berada dalam orientasi imajinasi konsumtif atau orientasi kepuasan. Sehingga pada masa ini, kita dengan gamblang akan melihat berbagai macam produk komersil yang terus dijejalkan kepada masyarakat tanpa ada batas waktu dan ruang. Hal tersebut tentunya didukung oleh kecanggihan teknologi yang mampu menembus batasan-batasan dalam dimensi kehidupan manusia. Orientasi terhadap kepuasan dalam bentuk ‘mengkonsumsi’ tersebut secara kontinus dan konsisten dimanjakan sehingga secara perlahan tapi pasti menjadi sebuah gaya hidup, dan telah berubah tidak lagi untuk memenuhi kebutuhan tetapi memenuhi kepuasan. Padahal, sebagaimana diketahui bahwa orientasi pada kepuasan tidak pernah memiliki batas, dan tidak pernah berakhir.

Spiritualitas telah masuk dalam pusaran kapitalisme yang menjadikannya tidak lagi sebagai sesuatu yang berasal dari sebuah kesadaran akan aspek-aspek transendental (red: rohaniah), namun secara aktual telah berubah menjadi dimensi-dimensi yang sarat akan kepentingan ekonomi. Artinya, kesalehan masa ini lebih dekat dengan aspek komoditas dan materil dibandingkan dengan aspek spiritualitas. Spiritualitas pada pengertian ini tidak selalu memiliki garis hubungan dengan Tuhan, bahkan seringkali ia hanya dimanfaatkan sebagai sarana untuk memenuhi obsesi dan ambisi mencari kenyamanan dan kepuasan. Hal inilah yang disebut Ngainun Naim sebagai prostitusi kesalehan.

Wocoen   Islam dan Semangat Pembebasan (Bagian Dua)

Implikasi yang kemudian timbul dari fenomena ini tentunya beragam, namun salah satu yang diungkapkan oleh Naim bahwa ketika spiritualitas telah terkonstruksi secara materialis, maka yang akan terjadi adalah terwujudnya kesalehan individual dan kesalehan sosial politik akibat lenyapnya kesalehan simbolis dan kesalehan aktual. Kesalehan simbolis akan menjelma menjadi kesalehan individual lantaran pemisahan diri dari kerangka sosial, dan kesalehan aktual akan menjadi kesalehan sosial politik karena adanya manifestasi rekayasa ‘iman’ dalam lingkup masyarakat.

Demikianlah, kesalehan masa kini dinilai lebih didominasi oleh faktor materil (ekonomi), sehingga esensi dari kesalehan aktual yang berbasis kesadaran akan dimensi iman dan ketuhanan memang pantas untuk dipertanyakan kembali. Bagaimanapun, kita perlu sedikit berbahagia karena ditengah kepungan kapitalisme dan modernisme, spiritualitas tidak lenyap seketika dan masih mampu berkontestasi di dalamnya, meskipun dalam manifestasinya yang beragam dan aktualisasinya yang masih selalu kita pertanyakan.
Wallahu a’lam bi as-shawab.

Yusti Dwi Nurwendah
Yusti Dwi Nurwendah Seorang perempuan super biasa yang lahir di Ponorogo, 20 Oktober 1995, dan kini tengah bersusah payah menelan pahitnya menuntut ilmu karena menyadari bahwa menjadi ‘bodoh dan awam’ itu merugikan.

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.