Etika Nilai Max Scheler

Berberbicara tentang nilai mungkin bukan sesuatu yang asing di telinga kita. Namun pembahasan mengenai nilai tidak pernah usai, hal ini pula terjadi pada masa Yunani Kuno hingga sekarang ini terkhusus pada abad 19. Namun sebelum lebih jauh, alangkah baiknya penulis akan menjelaskan apa yang dimaksud dengan nilai. Nilai adalah seuatu esensi yang melekat kepada sesuatu yang dijunjung tinggi oleh manusia. Adapun nilai terdiri dari tiga bidang Realitas, yaitu sebagai gejala pisikis, hakikat, dan benda.

Nilai berdasarkan pisikis atau Realitas yang ditangap dengan panca indra contohnya mengalami kesenangan, atau kesedihan yang dialami sehingga teringat oleh kita sewaktu-waktu, adapun nilai merupakan hakikat, nilai bukan hanya dipandang sebatas sementara akan tetapi dicari objek ideal sehingga sesuatu hal memiliki nilai, dan yang terakhir nilai adalah benda, sesuatu yang tampak seola-olah nilai sesuatu yang melekat pada benda. Namun kali ini penulis akan menjabarkan nilai menurut Max Scheler.

Riwayat Singkat Max Scheler

Max Scheler lahir pada tahun 1874 dilahirkan di Munchen, ibukota daerah Bayern [Bavaria] di jerman selatan, suatu daerah yang mayoritasnya yakni umat beragama Katolik, Ayahnya berasal dari keluarga menengah keatas dan beragama protestan sementara ibunya merupakan keturunan ortodok yahudi. Pada tahun 1928 Max Scheler diangkat menjadi dosen di Frankfurt yang membawanya dalam suasana segar. Pertama kali ia beristirahat di Ascona, namun sudah sangat terlambat. Sebelum ia memulai perkuliahan pertamanya di Frankfurt. Ia meninggal dunia diakibatkan serangan jantung. Ia meninggal pada tanggal 19 mei 1928.

Mazhab Objektivis dan Mazhab Subjektivis

Dalam pembahasan tentang Aksiologi atau nilai terdapat dua pendapat yang cukup kuat terkait tentang nilai, menurut pandangan Objektivitas, nilai sebenarnya sudah terdapat dengan sendirinya tanpa perlu penilaian individu, jika nilai memiliki pandangan sendiri-sendiri maka suatu takaran nilai tidak dapat ditentukan, sebaliknya pandangan Subjektivis menagnggap bahwa penilaian tentang nilai bahwa masing-masing individu berhak memandang bahwa sesuatu bernilai atau tidaknya, karena manusia berhak memilih mana yang sekiranya berharga dan mana yang tidak.

Pemikiran Etika Nilai Max Scheler

Max Scheler sangat megaggumi pemikiran Imanuel Kant, itu mengapa dalam beberapa tulisan ia berusaha meluruskan pandangan Kant mengenai moral, menurutnya filsafat Kant adalah filsafat sempurna namun ada beberapa yang mesti diperbaiki, sebelum kita beranjak kedalam pemikiran Max Scheler alangkah baiknya kita membahas pemikiran Imanuel Kant terlebih dahulu. Menurut Kant, prinsip-prinsip moral tidak tergantung oleh pengalaman, melainkan didasarkan pada suatu hukum rasional yang bersifat mutlak sebagai kewajiban tak bersyarat [ imperatif katagoris], akal budi praktis dapat menemukan prinsip moral yang memiliki sifat apriori [tanpa mensyaratkan data-data empris]. Akal praktis neniliki kebebasan dapat bertindak tanpa dorongan batin ataupun emosional, nafsu, dan kebutuhan. Artinya akal praktis bekerja berdasarkan prinsip pikiran serta diterima bagi dirinya sendiri, muncul pertanyaan lantas apa yang menjadi kewajiban? Menurut Kant kewajiban adalah bersifat mutlak orang yang berkehendak baik yaitu orang-orang yang melakukan kewajiban-kewajiban itu mengapa menurut Kant kewajiban bersifat mutlak karena sesuai dengan akal praktis hal ini karena hal itu hasil dari keputusan, pertimbangan terbaik menurut akal. Mari kita ambil contoh; katakanlah aku melihat seorang pengemis dijalanan, yang terlihat cukup lesuh, nampaknya ia belum makan, lantas karena atas pertimbangan-pertimbangan pikiranku, bahwa jika aku tidak menolongnya maka ia akan kelaparan, belum lagi ia pula manusia sama sepertiku maka dari itu aku harus membantunya sebab jika bukan aku siapa lagi, ketika keputusan dan pertimbangan diambil, akhirnya aku menolong orang tadi disebabkan kewajibanku menolong sesame ku, sebab jika bukan aku siapa lagi, begitulah kiranya contoh dari moral menurut Imanuel Kant dalam hal ini maka etika Kant adalah etika formal untuk melakukan kewajiban-kewajiban

Pandangan Max Scheler adalah lanjutan dari pandangan Imanuel Kant, hal ini karena keinginan serta minat Max Scheler terhadap etika Imanuel Kant sekaligus mengatasi formalism rasional Kant, tanpa keraguan sedikit pun, Max Secheler berpendapat bahwa etika Kant merupakan model tertinggi yang telah dihasilkan oleh pemikiran filsafat modern, bahkan menurutnya filsafat Imanuel Kant melebih para filsuf etika modern. Max Scheler pula menolak etika material yang bersifat empiris yang berdasarkan pada pengalaman indrawi serta bersifat aposteriori. Dan ia menerima prinsip a priori yang ditawarkan Imanuel Kant, prinsip ini pula yang menjadi titik tolak dalam pemikiran Max Scheler. Sejauh aksiologi Max Scheler merupakan hasil dari keinginan untuk melanjutkan mengoreksi etika Kant. Menurut Max scheler, Kant keliru menyamakan apriori dengan formal, dan yang kedua dalam memikirkan etika material niscaya merupakan kebaikan yang bersifat induktif dan empiris.

Max Scheler setuju dengan Kant orang harus membuang etika kebaikan, hal ini karena etika kebaikan hanya pada hubungan dengan dunia kebaikan. Sesuatu yang baik misalnya, kesjaterahan social, ia selalu berubah-ubah dan landasannya tidak tetap maka akan jatuh pada relatifisme. Akan tetapi Kant mengacu pada melepaskanya kebaikan dan nilai dari etika, dan kepada kewajiban, namun kekeliruannya adalah menganggap bahwa seluruh etika material merupakan etika kebaikan dan tujuan dan selanjutnya harus ditolak karena isinya bersifat tidak stabil dan empiris.

Menurut Max Scheler nilai berasal dari dunia nilai yang keberadaanya secara esensial tidak tergantung pada objek bernilai yang bersifat empris, hal ini didasarkan pada nilai yang bersifat material. Seluruh kebaikan dan keburukan memiliki landasan pengetahuan sebelumnya, namun Kant menolak hal itu menurut Kant kita harus memiliki prinsip apriori tentang baik dan buruk, agar bisa membedakan keduanya, namun etika Max Scheler adalah etika nilai material yang tidak bersifat empiris melainkan apriori, nilai secara secara esensial ditemukan manusia sebelum pengalaman indrawi melalui prasaan emosinya.

Kesimpulan

Dapat disimpulkan bahwa etika Kant didasarkan kewajiban mendahului nilai, jadi ketika kita melakukan kewajiban maka nilai mengikuti sedangkan menurut Max Scheler justru nilai itu ada secara esensial, misalnya jika aku bersahabat dengan engaku, lantas aku memutuskan tidak bersahabat dengan engaku, namun demikian nilai persahabatan itu tetap ada dan bersifat mutlak.

Daftar Pustaka

1. Bertens, 2019 juni, Filsafat Barat Kontemporer Inggris-Jerman (Jilid 1), PenerbitGramedia Pustaka Utama

2. Wahana Paulus, Nilai Etika Aksiologis Max Scheler, , Tanggal rilis: 28 December 2018.

3. Pengantar Filsafat Nilai, Diterjemahkan dari: What is Value? Open Court Publishing Company, 1963 Risieri Frondizi, LA Penerjemah Cuk Ananta Wijaya (Dosen Filsafat UGM), Penerbit PUSTAKA PELAJAR (Anggota IKAPI)


-Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.