Fenomena “Like”

Liburan semester, masih saja menjadi momen yang paling ditunggu para pelajar. Ketika momen itu tiba, banyak diantara mereka -utamanya yang mondok- yang pulang ke daerahnya masing-masing untuk melepas penat setelah setengah tahun berjibaku dengan buku. Ada agenda besar yang mulai tersusun rapi, mereka mulai banyak merencanakan berbagai destinasi dan waktu untuk menghabiskan masa liburan. Ada yang di rumah saja, ada yang pergi main keluar, ada yang berlibur bersama keluarga, ada pula yang berlibur bersama kawan.

Diantara ‘kesibukan’ berlibur, dengan kegiatan apapun dan dengan siapapun, tetap saja ada satu hal yang tak pernah lepas dari mereka, yakni keterlibatan medsos di dalamnya. Selalu saja ada update-an baru yang terunggah di sela aktivitas mereka. Bisa dimaklumi karena bagi sebagian besar anak pondok salaf -di beberapa pondok tertentu-, medsos adalah hal yang terlarang karena dinilai banyak menyita waktu belajar mereka.

Ada satu hal yang menggelitik dan konyol menurut saya, hal ini berkaitan dengan fenomena “like” yang dilakukan sebagian besar dari mereka. Status, gambar, atau aktivitas apapun yang diunggah oleh seseorang -yang mungkin dekat dengan dia-, pasti akan langsung di-like tanpa perlu dibaca, tak peduli apakah itu spam (tulisan nggak jelas dan nggak penting) atau semacamnya. Asal yang mengunggah itu “dia”, maka akan di-like tanpa membaca statusnya. Dan ternyata, hal ini menjadi timbal balik bagi kawan yang mendapat serbuan “like”. Sang kawan memfoto (screen shot) pemberitahuan yang berisi serbuan “like” darinya, kemudian kawan tersebut menulis caption ucapan terima kasih atas tanda sukanya atau dalam bahasa gaul disingkat dengan TFL (Thanks For Like).

Setelah menulis caption, kawan tersebut ganti meng”like” semua status terbaru dari si dia, hal itu berlanjut terus sampai liburan selesai, bahkan, menjadi sebuah tren yang berulang terjadi di tiap liburan. Pernah saya mencoba menanyai salah satu dari mereka kenapa melakukan hal itu, jawaban mereka simpel, “seneng aja mas”. Alhasil, dapat saya simpulkan bahwa simbol jempol yang mereka terima selama ini hanya bersifat subyektif tanpa melihat substansi atau isi yang terkandung di dalamnya.

Apalagi ada aplikasi bom like, dengan aplikasi itu maka secara otomatis like akan langsung bertambah banyak tanpa tahu siapa di balik yang nge-like. Tanpa bersusah payah untuk mencari like ke teman, namun cukup dengan mendownload aplikasi tersebut.

Sebenarnya, hal semacam ini tidak hanya terjadi di kalangan pelajar saja, banyak saya temui netizen yang suka “asal” meng-like status atau gambar tentang sesuatu tanpa membaca isi atau mengklarifikasinya terlebih dahulu. Banyak kita temui di dunia maya, status dengan kualitas -yang bisa dikatakan- buruk misalnya, justru mendapatkan “like” yang begitu banyak dibandingkan status tentang pemikiran seorang tokoh.

Ada pepatah yang mengatakan: “A picture says thousand words”, melalui simbol, ikon, simbol dan emotikon, seseorang bisa mengekspresikan perasaan dan uneg-uneg yang tak mampu diungkapkan dalam bentuk kata-kata. Tanda “like” dengan simbol jempol diidentikkan sebagai ungkapan persetujuan dari orang lain atau sebuah penghargaan bahwa seseorang pantas mendapatkannya karna pemikiran atau tulisan yang digagasnya dalam sebuah status, termasuk juga gambar yang kiranya menarik simpati orang tuk memberi rasa suka. Entah apa tujuan mereka meng-like status orang lain, yang jelas, banyaknya simbol “like” akhir-akhir ini tidak menjamin bahwa status tersebut berkualitas secara substansi.

Wallahu a’lam


-Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.