Hamdani Mubarok Alumni MI Bahrul Ulum Jombang sekaligus kader pondok bukan Pesantren Islam_keadaan, Yogyakarta.

Film UPA: Melawan Gaya Pacaran ala Dilan

Hamdani Mubarok 3 min read 0 views

dilan-1990

[dropcap]S[/dropcap]etelah sempat direncanakan rilis pada bulan Februari kemarin, akhirnya film udah putusin aja (UPA) bisa tayang di bulan September ini. Film ini sendiri diambil dari novel dengan judul yang sama karya Felix Siauw. Keterlibatan Felix Siauw dalam film ini sendiri bukan hanya sebatas penginspirasi utama cerita dalam film ini, namun juga bertugas sebagai pengawas produksi. Ia, juga turit serta mengawasi setiap pengambilan gambar yang dilakukan.

Sementara itu, Kesediaan Max Picture (yang selama ini dikenal tidak punya kecenderungan menggarap film dengan tema islami), dalam menggarap film ini nampaknya dipengaruhi oleh iming-iming kecenderungan keagamaan masyarakat Indonesia yang pada akhir 2017 sampai awal 2018 yang meningkat tajam, terutama di daerah Jakarta. Hal ini tentu dipicu oleh penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang kemudian dibumbui dengan narasi-narasi yang seakan-akan semakin mendewakan Islam.

Momen inilah yang sepertinya saat itu sedang dimanfaatkan oleh Max Picture untuk meraih untung sebesar-besarnya. Hal ini semakin mulus saat jiwa dakwah kelompok islamis ekstrim, disaat yang sama ingin menngislamkan pasar perfilman Tanah Air. bahkan, katanya, demi menjaga ruh keislaman film, selama syuting, film ini sama sekali tidak menampilkan adegan sentuhan dua orang yang bukan mahram,, benar-benar dakwah.

Ada satu pembicaraan yang menggelikan saat kemarin saya mengintip instagram. Ada satu pertanyaan kepada akun theaterindonesia perihal film udah putusin aja yang katanya belum satu minggu udah take of dari Bioskop. Satu minggu take of ? yang bener aja. Padahal, film ini adalah film garapan Max Picture. Rumah produksi yang sama dengan film Dilan.

Tapi mengapa bisa berbeda hasilnya ? film Dilan, sejak tayang perdana di bioskop masih bisa mengaung sampai berbulan-bulan. Iqbal Ramadhan pun, yang berperan sebagai Dilan, sampai sekarang masih dianggap sebagai Dilan. Bahkan, saking melekatnya aroma Dilan pada diri Iqbal, sampai-sampai banyak netizen yang nyinyir saat ia didaulat untuk memerankan peran lain seperti Minke dalam film Bumi Manusia. Apakah ada penganaktirian terhadap film UPA ? saya yakin tidak, toh tujuan akhirnya juga masih sama, laba.

Setelah mencermati film ini saya menemukan beberapa fakta tentang gagalnya film ini menyamai kesuksesan film Dilan yang setidaknya disebabkan oleh beberapa hal, terutama tentang penokohan.

Dalam film Dilan, harus diakui tokoh utamanya adalah remaja laki-laki. Namun meski begitu, gaya film yang menarasikan cerita dari hati Milea membuat para cewek tidak pernah merasa kehilangan tempatnya. Dampak psikologisnya, cewek merasa sedang bercerita tentang cowok idaman, sementara di saat yang sama cowok merasa sedang dibicarakan oleh cewek. Cewek mana yang tidak suka bicara masalah cowok ? sebaliknya, cowok mana yang tidak bangga menjadi bahan perbincangan para cewek?Efeknya, baik laki-laki maupun perempuan sama-sama merasa terwakili dalam film ini.

Sementara film UPA, tokoh utamanya adalah cewek, jalan ceritanya juga disampaikan dari sudut pandang cewek. Ini adalah film yang bisa dibilang “meremehkan” aura laki-laki dalam menggaet pasar bioskop. Akibatnya, karena tidak merasa terwakili, para cowok males nonton film ini dech.

Selain itu, penggambaran tokoh pun dipandang kurang keren. Coba bandingkan dengan film Dilan. Dalam film Dilan, penonton akan menangkap sebuah penggambaran yang sempurna, baik karakter cowok maupun karakter cewek idaman. Dalam film Dilan misalnya, digambarkan cowok idaman sebagai cowok yang pemberani, cerdas, urakan, dan berprestasi. Setiap laki-laki, tidak peduli betapapun kalem dan lugunya, pasti pernah bermimpi menjadi seperti Dilan.

Sementara karakter cewek idaman dalam film Dilan dinarasikan sebagai cewek yang meskipun kalem, tapi juga berani melawan, cuek, jual mahal, cantik, yang meskipun tidak memiliki banyak prestasi, namun bisa tetap dan selalu menjadi ratu didepan cowoknya. Ini adalah penggambaran yang saya yakin meskipun saya bukan dan tidak pernah menjadi perempuan, menjadi impian banyak perempuan remaja.

Dalam film UPA, penggambaran karakter cowok bisa dibilang sangat absurd. Meskipun begitu, secara umum kita akan menangkap karakter dasar dari cowok dalam film ini adalah orang yang meskipun tidak punya rekam jejak kenakalan yang mencolok, namun bisa dibilang bajingan. Mengapa ? karena sukanya nyosor aja kalau sama cewek. Lihat saja adegan “gagal” ciuman. Gerak cowok yang lebih aktif seperti menyampaikan pesan bahwa cowok memang begitu. Suka kebelet kalau masalah ciuman. Ini kan narasi tentang laki-laki yang merugikan laki-laki. Karena memang tidak semua laki-laki seperti itu, termasuk saya.

Sementara untuk kaarakter cewek, saya yakin banyak juga cewek yang tidak suka dengan penggambaran yang ada dalam film ini. Tokoh utama cewek dalam film ini digambarkan sebagai cewek yang nakal. Yang suka pacaran. Bahkan, demi pacaran ia seringkali melanggar peraturan yang dibuat oleh ayahnya. Bisa dibilang ini adalah penggambaran karakter cewek yang meskipun tidak bisa dianggap salah, namun juga kurang keren. Film ini hanya menggambarkan nakal sebagai nakal. Bukan nakal yang keren.

Begitu juga ketika menggambarkan cewek baik-baik. Narasinya hanya sebatas cewek baik adalah cewek yang berkerudung. Cewek baik adalah cewek yang “berhijrah” dari tidak tertutup menjadi tertutup. Saya yakin semua cewek generasi milenial menganggap bahwa, baik gak harus pakai kerudung kog. Saya juga sebenarnya tidak ingin menyebut yang berkerudung sebagai bukan cewek baik, namun yang harus tetap diingat adalah ada banyak kriteria cewek baik yang sebenarnya bisa dinarasikan dalam film ini. Yang tidak melulu diukur dengan kerudung.

Misalnya saja, cewek baik adalah cewek yang memiliki karya tulis, cewek baik adalah cewek yang menang dalam lomba cerdas cermat, dan lain sebagainya. Mendefinisikan cewek baik dan tidak hanya dilihat dari jilbabnya saja itu seperti sedang menertawakan harga diri perempuan. Dan saya yakin itu sangat menyakitkan bagi banyak perempuan.

Kegagalan film ini seperti menyatakan pada kita bahwa film ini lebih layak untuk disebut sebagai salah satu cerita di ftv tentang hidayah, atau adzab Ilahi yang memang bertujuan untuk dakwah daripada disebut sebagai karya seni bertaraf bioskop. Saya tidak bermaksud menghina atau meremehkan, tapi memang kenyataanya seperti itu. Lihatlah latar belakang film ini. Novel yang menginspirasinya dan tokoh-tokoh yang ada dibaliknya. Saya yakin kalian akan setuju dengan kesimpulan saya. Ini film hidayah.

Jangankan untuk menyaingi kisah Dilan dan Milea, sekedar masuk dalam kategori remaja saja nampaknya sudah susah.

Hamdani Mubarok
Hamdani Mubarok Alumni MI Bahrul Ulum Jombang sekaligus kader pondok bukan Pesantren Islam_keadaan, Yogyakarta.

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.