Rilo Pratama Pengamat dan penikmat Kerukunan Umat Beragama yang memiliki ibadah favorit berupa Play Station

FPUB: Usaha Membangun Semangat Toleransi

Rilo Pratama 2 min read 2 views

Indonesia-dan-umat-beragamaIndonesia-dan-umat-beragama

[dropcap]S[/dropcap]ecara umum, setiap agama mempunyai ajaran yang mengatur tata kehidupan umatnya, baik di bidang keyakinan (credo) maupun ritual. Kedua bidang ini merupakan prinsip yang tidak bisa ditawar. Setiap agama mengajarkan umatnya supaya menyiarkannya kepada umat manusia, namun di sisi lain, setiap agama juga menyuruh umatnya menghormati agama lain. Berdasarkan adanya perbedaan prinsip (keyakinan dan ritual) tiap agama dan dorongan untuk saling menghormati antarumat beragama, salah satu pilihan yang perlu dikembangkan adalah prinsip agree in disagreement dalam pembinaan kerukunan antar umat beragama.

    Nawawi Ismail, dalam karyanya Konflik Umat Beragama dan Budaya Lokal dengan mengutip Azyumardi Azra menyebutnya dengan teologi kerukunan yang bersifat eksklusif-inklusif. Sebuah doktrin selain ada pengakuan kebenaran agama oleh masing-masing umat beragama, namun pada saat yang sama umat beragama harus bersikap terbuka dan menghargai umat beragama lainnya.

    Namun belakangan ini, kasus intoleransi dan pelanggaran dalam kebebasan berkeyakinan sedang marak terjadi. Konflik keagamaan yang berwujud pada kekerasan antar umat beragama menjadi sebuah fenomena yang tengah menyebar ke berbagai daerah di Indonesia. Konflik yang bersumber dari masalah suku, agama (keyakinan), ras, dan antar golongan masih mendominasi konflik horizontal di Indonesia.

    Berdasarkan data yang disampaikan Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Komisaris Jenderal Syafruddin di depan peserta Rapat Koordinasi Tim Terpadu Penanganan Konflik Sosial di Jakarta, Rabu (15/3/2016), jumlah konflik SARA di Indonesia sepanjang tahun 2015-2016 mencapai angka 1.568 kejadian. Padahal berdasarkan UUD 1945 Pasal 28E, “Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya. Setiap orang berhak atas kebebasan menyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya.

Wocoen   Penyembuh Mabuk ‘Bucin’

    Maraknya kasus intoleransi yang terjadi belakangan ini menjadi sebuah kemunduran dalam upaya mewujudkan salah satu cita-cita bangsa yang tertera dalam Pembukaan UUD 1945 yaitu ikut serta dalam menciptakan ketertiban dunia.

    Salah satu daerah yang memiliki presentase intoleransi yang cukup tinggi, jika kita mengacu pada laporan CRCS UGM adalah Daerah Istimewa Yogyakarta. Yogyakarta yang kerap disebut-sebut sebagai City of Tolerance sedang dirundung banyak problema dalam hal toleransi, baik antar umat beragama maupun antar kelompok ormas. Kasus-kasus intoleransi seperti penyerangan dan pembubaran diskusi, perusakan situs makam, penyerangan terhadap doa rosario, intimidasi terhadap kelompok tertentu seperti Syiah dan LGBT, penghentian ibadah di gereja, serta usaha penutupan rumah ibadah kerap terjadi di provinsi yang berjuluk kota budaya ini.

    Semantara Menurut data yang dirilis The Wahid Institute menunjukkan bahwa aksi intoleransi di Yogyakarta sudah terjadi sejak 2012, dan semakin menguat tiap tahunnya. Wahid Institute pada 2013 juga menyebutkan Yogyakarta menjadi provinsi intoleran kedua setelah Jawa Barat. Pada tahun 2014, Wahid Intitute menempatkan Yogyakarta di urutan kedua dalam kasus intoleransi, yakni sebanyak 21 kasus. Tahun 2015, Setara Institute mencatat ada sebanyak 10 peristiwa intoleransi di Yogyakarta. Tahun 2016 Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika (ANBT), mencatat terdapat 23 kasus pelanggaran hak kebebasan beragama dan berekspresi yang dilakukan kelompok intoleran di Yogyakarta. Jika kasus-kasus intoleransi yang terjadi tidak di tangani dengan baik, maka Yogyakarta akan benar-benar kehilangan statusnya sebagai City of Tolerance.

     Intoleransi dan tindakan kekerasan atas nama agama  yang seakan-akan tak berkesudahan harus segera dicarikan obat penawarnya. Salah satu kajian penting untuk menciptakan perdamaian, baik positif dan negatif, adalah pengelolaan konflik (conflict management). Aktivitas manajemen dalam menangani konflik antar umat beragama menjadi sangat diperlukan.

Wocoen   Mengintip Karya Agung KH Wahab Hasbullah

    Inilah yang coba digarab oleh Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB) Yogyakarta. Sebagai salah satu forum sosial keagamaan sekaligus pegiat kerukunan antar umat beragama juga melakukan aktivitas manajerial terhadap konflik yang terjadi antar umat beragama, khususnya di Yogyakarta. Langkah-langkah manajemen konflik yang dilakukan oleh lembaga yang bergerak atas dasar keprihatinan yang disebabkan maraknya kasus intoleransi yang menggunakan agama sebagai alat legitimasi atau pembenaran atas tindakan kekerasan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu itu tentu saja menjadi sangat menarik untuk diteliti, terutama jika melihat relevansinya dengan keadaan sosial keagamaan masyarakat yang tengah dilanda berbagai macam konflik seperti saat ini.

     Forum Persaudaraan Umat Beriman Yogyakarta atau yang lebih dikenal dengan singkatan FPUB Yogyakarta (Jogja Interfaith Forum-JIF) dibentuk pada medio tahun 1997, berangkat dari rasa keprihatinan pada kecenderungan bahwa agama kerap kali dijadikan kambing hitam. Timbulnya kerusuhan-kerusuhan dan tindak kekerasan pada masa itu, misalnya kasus Situbondo, Tasikmalaya, Jatibening, Sanggau Ledo (Kalbar), Sampit, Poso, Ambon yang berupa perusakan tempat ibadah, sekolah, fasilitas umum, pembakaran dan penjarahan toko sungguh menimbulkan ketakutan dan keresahan. Kecurigaan antar suku, agama, ras dan antar golongan semakin membesar.

    Bertolak atas keprihatinan bersama itulah FPUB yang pribadi-pribadi pendukungnya terdiri dari pemuka Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Budha, Khong Hu Cu, Kepercayaan terhadap Tuhan YME, Kejawen, Kawula Ngayogyakarta dan Kerokhanian Sapto Dharmo menyatukan kekuatan untuk mencoba memberikan wawasan kepada sesama manusia melalui wacana-wacana dialog dalam ranah persaudaraan dan kedamaian sejati, yang tujuannya adalah saling berbagi wawasan agar umat beriman dapat menjalankan agama serta keyakinannya secara mandiri dan dewasa.

Rilo Pratama
Rilo Pratama Pengamat dan penikmat Kerukunan Umat Beragama yang memiliki ibadah favorit berupa Play Station

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.