Budaya

Gemuruh Sepakbola di Pesantren

“Setiap ada karnaval di pondok, mereka yang berasal dari Malang selalu dipisah jauh dengan santri yang berasal dari Surabaya”, kenang Muhammad Dicky Fajrin, alumni pesantren al Amin Prenduan, Madura. Dipisahnya santri asal Malang dan Madura ini bukan tanpa alasan. Mereka dipisah untuk menghindari gesekan yang mungkin terjadi diantara dua kelompok santri tersebut. Bagaimana bisa ? Persaingan dan perseteruan antara Persebaya dan Arema adalah sumbernya.

Selama ini, perseteruan antara Persebaya dan Arema telah menjadi chant wajib bagi sepakbola Indonesia. Perseteruan kedua kubu dirawat dengan baaik oleh masing-masing supporter dari satu generasi ke generasi berikutnya. Disaat yang sama, perseteruan diantara mereka seperti diamini oleh pihak-pihak yang diuntungkan dengan animo tinggi yang dihasilkan oleh perseteruan ini.

Cerita perseteruan antara kedua tim itulah yang diwarisi oleh santri-santri yang ada di Prenduan. Meski harus tetap diberi catatan, tidak semua santri yang berasal dari Surabaya terlibat perseteruan dengan santri yang berasal dari Malang. Begitu pula sebaliknya. Pun mereka yang terlibat perseteruan, tidak sampai seanarkis supporter yang biasa menonton sepakbola di stadion.

Perseteruan yang terjadi di Prenduan hanyalah satu gambaran. Masih terdapat banyak lagi pesantren, dan tidak jarang para santri di pesantren terlibat perseteruan bola. Terutama di pesantren yang memiliki jumlah santri ribuan. Namun, lagi-lagi perlu diingat, perseteruan ini hanya sebatas olok-olok antar santri. Belum pernah saya menjumpai perseteruan sepakbola di pesantren yang sampai melibatkan pertarungan fisik.

Selain di pesantren Prenduan, sepakbola sebenarnya selalu memiliki kisah istimewa di pesantren. Di banyak pesantren, sepakbola seringkali tampil lebih dari sekedar kisah figuran diantara para santri. Di pesantren, sepakbola dinikmati baik oleh santri, ustaz, bahkan pengasuh pesantren. Sepakbola diceritakan di banyak kesempatan. Di masa-masa istirahat, di saat jam pelajaran berlangsung bahkan diantara azan dan iqamat. Sepakbola bagai sate kambing muda, terasa nikmat, meski tidak semuaa orang bisa menikmatinya.

Wocoen   Melebur Sekat-sekat Perbedaan dalam Makna Hakiki

Pengalaman saya di pesantren Tambakberas, saya pernah mendapati seorang kyai di pesantren yang demi sepakbola, rela mempersingkat jam mengajinya (baca: mengajar). Saat itu, kebetulan saya ikut pengajian kyai tersebut, sang kyai sedang membacakan kitab “Qul Hadzihi Sabili” karya Sayyid Alwi al Maliki. Pengajian yang dilaksanakan selesai salat tarawih tersebut biasanya berakhir pada pukul sebelas atau dua belas malam. Tapi ada satu hari yang aneh. Pada sekitar pukul setengah sepuluh malam, sang kyai sudah mengakhiri pengajiannya. Lalu, dengan nada bercanda beliau mengatakan, saatnya menonton sepakbola.

Ini bukan kali pertama sang kyai menunjukkan minatnya terhadap sepakbola. Pada bayak kesempatan, kyai ini seringkali ikut nimbrung dengan santri untuk nonton bareng pertandingan sepakbola. Kebanyakan adalah pertandingan-pertandingan penting seperti final ataupun putaran final antar negara (piala dunia dan Europa).

Salah satu produk pesantren Tebuireng yang dikenal luas memiliki pengetahuan mengenai sepakbola adalah Gus Dur. Dalam berbagai kesempatan, Gus Dur seringkali menulis tentang sepakbola. Kecintaan dan keahlian Gus Dur dalam menganalisis sepakbola sudah tak perlu diragukan lagi. Ia, pernah terlibat berkirim surat terbuka dengan Sindhunata dengan tema sepakbola. Hal ini dilakukan Gus Dur bahkan saat dia sedang menjabat sebagai orang nomor wahid di negeri ini. Tulisannya yang diterbitkan oleh Kompas pada Senin, 18 Desember 2000, dengan judul “Catenaccio Hanyalah Alat Berat” adalah salah satu bukti sahihnya. Tulisan tersebut dibuat oleh Gus Dur sebagai tanggapan atas “surat terbuka” yang sebelumnya ditulis oleh Sindhunata pada tanggal 16 Desember 2000 dengan judul “catenaccio Politik Gus Dur”.

Di masa sekarang, tokoh pesantren yang dikenal cukup vokal perihal bola adalah KH Yusuf Chudlory. Salah satu majlis pengasuh pesantren API Tegalrejo Magelang ini dikenal cukup aktif menyuarakan kegelisahan, kadang berteriak kegirangan atas nasib fluktuatif United di musim ini. Di laman media sosialnya, Gus Yusuf, demikian ia memperkenalkan diri, seringkali terlibat perdebatan lucu dengan banyak tokoh negeri mengenai sepakbola. Selain Gus Yusuf, tokoh jebolan pesantren yang juga beberapa kali menunjukkan minatnye terhadap sepakbola adalah Mahfudz MD. Menteri Koordinator Politik, Hukum, HAM, dan Keamanan (Menko Polhukam) ini dikenal sebagai fans musiman nya Manchester United.

Wocoen   Peran Penting Pendidikan Pesantren dalam Menangkal Radikalisme

Dari sisi santri, sepakbola lebih ramai lagi. Tidak perlu menunggu pertandingan antara dua tim besar untuk mendengar suara tentang sepakbola. Sepakbola seringkali menjadi tema utama saat para santri sedang nongkrong. Setiap kali ada tim besar yang berlaga, para pembenci dan pecinta tim tersebut akan menyimak hasilnya dengan seksama. Jika menang maka akan jadi bahan untuk disombongkan. Jika kalah, maka itu artinya bersiap untuk dihina.

Sorak sorai santri bukan hanya berhubungan dengan sepakbola profesional saja. Dalam pertandingan sepakbola antar kelas dan antar daerah pun gemuruh sepakbola tak kalah seru. Para pendukung daari masing-masing kesebelasan, yang hampir semuanya adalah teman-teman mereka sendiri seringkali tak sungkan-sungkaan untuk mengecat tubuhnya dengan warna sesuai warna kebesaran kesebelasan kelas mereka. Para santri sekelas atau sekaamar biasa ditaariki iuran hanya demi membuat bendera kebanggaan. Semakin besar ukuran bendera mereka, semakin bangga.

Pertandingan antar kelas di pesantren seringkali diceritakan layaknya romansa Romeo-Juliet. Santri yang dianggap sebagai bintang kemenangan bukan tidak mungkin akan menerima penghormatan layaknya pahlawan yang pulang dari medan pertempuran. Dipuja sana-sini, kisahnya diceritakan berulang-ulang, hampir sebanyak dibacakannya kitab suci diantara mereka.

Tags

Hamdani Mubarok

Alumni MI Bahrul Ulum Jombang sekaligus kader pondok bukan Pesantren Islam_keadaan, Yogyakarta.

Related Articles

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close