Politik & Hukum

Gus Dur Dalam Bingkai Beragama dan Bernegara

Kehadiran gus Dur di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk seperti sumber mata air, dimana mereka dari berbagai ras, suku, agama di Indonesia butuh akan pemikiran, nasehat dan petuahnya. Gus dur bagaikan Muhammad Abduh yang menawarkan modernism islam ditengah masyarkat Indonesia yang masih kultural dan konvensional didalam pemikiran, beliau bak martin luther king JR yang membela hak-hak kaum minoritas, dan pencipta perdamaian, pula beliau bagaikan mahatma gandhinya Indonesia yang membela hak-hak kemerdekaan kaum mustad’afin dari tangan para borjuis.

Pemikiran gus dur dilandasi oleh paham keagamaan dan paham kenegaraan yang sangat kuat sehingga beliau mampu mengintegrasi keduanya dengan baik. Dalam berfikir beliau tidak sekedar bertumpu pada tekstualitas agama namun pada esensi agama itu sendiri. Oleh karena itu yang pertama kali dan sangat mendesak dilakukan oleh gus dur ialah mengubah wawasan masyarakat tentang relasi keagamaan dan kenegaraan terhadap seluruh lapisan masyarakat Indonesia secara benar.

Ada ratusan bahkan ribuan orang yang mengkaji tentang keagamaan dan keindonesiaan, namun hanya gus Durlah yang mampu mengkombinasikan keduanya dengan baik sehingga dapat melahirkan ide, gagasan dan pemikiran yang mutakhir shalihun fi kulli zamanin wa makanin “ dinamis sesuai dengan kondisi dan waktu’’  seperti : islam dan kepribumian, islam dan hak-hak minoritas serta islam dan peran agama sebagai etos sosial dan lain sebagainya. Pemikiran inilah yang patut dijadikan refrensi bagi kaum nahdyihin bahkan warga negara Indonesia seluruhnya dalam memecahkan masalah sosial-keagamaan yang terjadi akhir-akhir ini, menentukan kebijakan dan membawa mashlahat bagi bangsa dan Negara.

Gejala sosial kemasyarakatan dan keagamaan yang terjadi di indonesia dapat memicu terpecahnya persatuan berbangsa dan bernegara. Oleh karenannya pemikiran gus dur menjadi kajian yang sangat urgent untuk diimplentasikan bagi masyarakat Indonesia. Gus dur senantiasa mengembangkan mabadi khaira ummah yang berlandaskan pada Ushul Al-Khamsah (hak dasar) yang terdiri dari Hifd Ad-din (hak beragama), Hifd An-Nafs (hak hidup), Hifd Aql (hak berfikir), Hifd An-Nasl (hak keturunan), Hifd Al-Mal (hak kepemilikan).

Wocoen   Hakikat Ilmu Selamat

Integrasi pemikiran gus dur antara keagamaan dan kenegaraan  merupakan visoner dan lompatan-lompatan tidak dipandang sebagai hal halal haram, namun hal ini berdampak kemaslahatan dalam berbangsa dan bernegara dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

oleh karena itu gus dur menolak merusak tata nilai system Negara dan memperjuangkan akan hak sipil yang diberikan penuh kepada seluruh warga negera, mulai dari hak kesehatan, hak pendidikan, hak kebebasan berfikir, hak kebebasan berserikat, terutama dalam hak beragama dan lain sebagainya. Tidak ada perbedaan hak politik, dan hak budaya yang diperjuangkan gus dur, Semua warga memiliki hak-hak tersendiri sehingga mereka bebas menentukan arah jalannya sendiri asal tidak melanggar norma agama dan tata nilai Negara.

     Menurut Al-Maghrfurlah KH. Hasyim Muzadi, gus dur memiliki pemikiran yang berbeda dalam membawakan agama dan bernegara, baik dalam beragama di dalam NU, Indonesia, maupun dunia diantaranya adalah bahwa gus dur tidak hanya menekankan pada teks kegamaan atau formalisasi agama di dalam Negara dan berbangsa namun lebih menekankan pada makna atau esensi dari agama itu sendiri sehingga akan berdampak pada kehidupan yang plural nan damai ditengah kebhinekaan masyakarat indonesa. Beliau juga menekankan agama ditampilkan sebagai kesopanan universisal, dan membawa agama sebagai humanis sehingga agama harus wujud di dalam ukhuwah basyariah (persaudaraan kemanusiaan) yang utuh,

Era tinggal landas harus didasari semangat etos beragama dan berkebangsaan yang seimbang, jika salah satu darinya hilang maka akan mengakibatkan kepincangan. prinsip prinsip gus dur dalam beragama dan berbangsa yang didasari oleh kaidah al-muhafadzatu ala al-qadim as-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid aslah (menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang bermanfaat) akan mewujudkan solidaritas sosial (at-takaful al-ijtima), toleransi (at-tasamuh), mutualitas kerja sama (at-taawun), moderat (al-I’tidal), dan stabilitas (Ats-Tsabat), Maka dari itu jika hal hal tersebut dapat terwujud ditengah kebhinekaan masyarakat Indonesia maka akan tercipta persatuan dan perdamaian diantara anak bangsa sehingga mereka dapat mencapai Saadatun daraini (hidup bahagia di dunia dan di akhirat).

Wocoen   Nihilnya Equality Before The Law di Indonesia
Tags

Muhammad Bagus Ainun Najib

Putra seorang petani bawang merah asal Brebes, suka nglayab dan sekarang sedang menempuh magister Pendidikan Bahasa Arab di UIN Maliki Malang.

Related Articles

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close