Hanif N. Isa Mas-mas biasa.

Habis Masa Idealistis, Terbitlah Masa Realistis

Hanif N. Isa 2 min read 7 views

Semasa masih belajar di Madrasah Ibtidaiah, setiap ditanya orang, “Kalau sudah besar mau jadi apa?” Saya akan menjawab “Mau jadi tentara”. Seorang anak kecil tidak memerlukan analisis secara mendalam untuk menyampaikan jawaban tersebut. Khas ceplas-ceplos anak-anak. Bagi saya tentara itu keren karena pegang senjata.

Masuk masa remaja cita-cita bergeser; menjadi pembaharu seperti Presiden Sukarno. Atau misal yang dari kalangan pesantren, ambil contoh seperti KH Abdul Wahab Chasbullah atau KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Sedikit idealis. Mengingat masa remaja saya dihabiskan di pesantren dengan kultur Nahdiyin dan terdoktrin oleh lingkungan organisasi mahasiswa yang berapi-api dan bercita-cita merobohkan tembok-tembok ketidakadilan.

Bagi banyak orang, Gus Dur itu sangat keren. Beliau sosok yang integral; orang pesantren tapi tidak kikuk jika berhadapan dengan orang-orang “umum” atau sekuler dalam aktivitas politiknya. Gus Dur juga mampu meleburkan antara perspektif keislaman dan keindonesiaan. Sebuah pemikiran yang “mewah” pada awal 2000-an hingga beberapa dekade setelahnya.

Selain itu, berada di posisi “kiri” juga sepertinya menarik. Tokoh-tokoh semisal Soe Hok Gie, Tan Malaka, atau Pramoedya Ananta Toer benar-benar sangat menginspirasi.

Pernah juga berangan-angan ingin jadi budayawan, cendekiawan atau sastrawan seperti Emha Ainun Nadjib, Nurcholish Madjid atau Kuntowijoyo. Saya juga sangat mengidolakan tokoh sastrawan pesantren semacam KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus).

Sempat berusaha berkenalan dengan puisi dan karya sastra lainnya. Saya bercita-cita ingin mengubah dunia —atau minimal bersuara— melalui kesusastraan.

Bersamaan dengan itu, di media sosial sangat bersemangat mengkritik —lebih tepatnya mengolok-olok— orang-orang yang menjalankan agama secara ambisius dan ofensif. Saya kerap memandang skeptis Felix Siauw, Tengku Zulkarnain, Haikal Hassan, Kholid Basalamah, Adi Hidayat, Sugi Nur Raharja dan tokoh-tokoh Islam fundamentalis yang lain. Bahkan tokoh sekaliber Abdullah Gymnastiar yang melalui media sosialnya sering membuat pernyataan segregatif di tengah umat yang majemuk ini saya tidak tertarik —untuk mengikuti ceramah-ceramahnya secara kontinu.

Wocoen   EGO

Saya juga ingin jadi penulis bonafide seperti teman-teman media sosial yang sering muncul di beranda dengan status-status tulisan panjang, analitik, dan provokatif-inspiratif. Sebut saja nama seperti Goenawan Mohamad, AS Laksana —yang keduanya tempo hari berdebat habis tentang sains beserta teori-teorinya dan babar blas saya gak paham, atau model Denny Siregar yang hidup mati membela Pemerintahan Jokowi yang sempat saya kagumi dan menjadikannya panutan karena tulisan-tulisan dan analisis-spekulatifnya.

Semuanya keren. Semuanya tiyang sae. Tema-tema langit yang tidak menyentuh kehidupan riil, berfoya-foya dengan kekayaan intelektualitas, serta perdebatan panjang tentang filsafat dan kondisi sosial-politik benar-benar membius. Lagi-lagi, saya hendak mengubah dunia —melalui tulisan-tulisan.

Cita-cita besar yang berganti-ganti tersebut saya presentasikan di hadapan orangtua, sebagai investor atau pemodal dalam perjalanan pendidikan formal anak-anaknya dari masa kanak-kanak hingga remaja. Saya ceritakan juga di setiap forum-forum bersama teman-teman komunitas kami.


Ada dua hal yang bagi sebagian orang kadang tidak bisa bersatu; idealistis dan realistis. Kemudian kadang ada ucapan “masa idealistis telah berakhir”.

Ini adalah sebuah potret orang yang belum selesai dengan dirinya sendiri, yang berusaha melakukan duplikasi “plek blek” perilaku mulia tokoh-tokoh besar yang di antaranya sudah selesai dengan dirinya sendiri. Saya melihat seorang tokoh publik dari kacamata pragmatis, satu sudut pandang dan terbatas.

Tampaknya akan lebih bijak jika seseorang berusaha untuk mengubah dirinya sendiri dulu agar menjadi lebih baik, sebelum memikirkan perubahan dunia secara masif. Mula-mula dari diri sendiri, lalu keluarganya, lingkungan sekitarnya, dan mengupayakan kemanfaatan diri bagi orang lain.

Terkait hal ini, paling tidak ada 10 budi pekerti luhur yang patut diusahakan oleh setiap orang. Pertama, jujur dalam ucapan. Kedua, terbuka terhadap orang lain.

Wocoen   Islam Adalah Agama Cinta Kasih

Ketiga, menjaga amanat (kepercayaan). Keempat, menjaga silaturahmi. Kelima, berbuat dan menyampaikan kebaikan.

Keenam, memperhatikan tetangga. Ketujuh, menyayangi teman. Kedelapan, membayar layak para pekerja.

Kesembilan, menjamu tamu, dan paling penting adalah kesepuluh, memiliki rasa malu untuk berbuat buruk (Sayyidah Aisyah, dalam Abu Hayyan al Tauhidi al Amta’ wa al Muanasah, III, 199-200). Saya, dan siapa saja akan relevan jika mengupayakan pekerti luhur tersebut hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Pada masa-masa awal membangun rumah tangga seperti sekarang ini, saya masih berpendapat bahwa impian-impian besar tersebut merupakan sesuatu yang baik. Masa remaja adalah kesempatan seseorang punya banyak alasan berpikir idealistis. Seorang remaja memang gemar memikirkan hal-hal abstrak dan makro, daripada sesuatu yang bersifat konkret, detail dan mikro.

Mungkin saya akan tetap menulis seperti dulu, membaca, berdiskusi, muthala’ah kitab, belajar sastra, berdagang dan lain-lain. Bukan untuk mengubah dunia dan meraih profesi-profesi “langit” —menjadi penulis, budayawan, cendekiawan, sastrawan, atau kiai. Namun sekadar untuk belajar dan nuturi diri sendiri.

Berkeinginan mengubah Indonesia dan dunia menjadi lebih baik, serta memberantas ketidakadilan, kesenjangan sosial, dan kapitalisme adalah cita-cita mulia. Lebih mulia jika bersamaan dengan mengupayakan ketuntasan atas diri sendiri. Teringat, pada saat itu saya terlalu bersemangat. Hehe

Hanif N. Isa
Hanif N. Isa Mas-mas biasa.

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.