Hadiah Kala Dluha

“La..ada hantaran dari Pak Pos buat kamu ini.” Seru ibu diambang pintu kamarku. “iya bu, terimakasih”. Kuterima amplop besar berwarna coklat itu dari tangan ibu. Tertulis untuk saudari Naila Al Khumairah di tempat, dari An-Nisa Publishing. Kubuka perlahan amplop besar itu, dan yaa..sebuah sertifikat pemenang lomba kepenulisan berjudul “Dedikasi Umat Islam untuk Perkembangan Dunia Kependidikan” juara naskah terinspiratif diberikan kepada Naila Al Khumairah. Alhamdulillah.. gumamku pelan. Ada saja cara Tuhan menebarkan rezeki kebahagiaan pada setiap insan. Ini rezeki pertama yang kuterima usai sholat dluha dihari selasa. Selain hadiah itu ada hadiah lain pula, yakni sebuah buku yang berjudul Man Shabara Zhafira, karya best seller Ahmad Rifa’I Rif’an. Hatiku benar-benar senang kala itu, kulipat mukenah beserta sajadahku dan kuberitahukan kabar bahagia itu pada ibuku.

“Ibu, Alhamdulillah Naila menang lomba nulis bu, kategori Naskah Terinspiratif”. Dengan mimik muka penuh bahagia kuhampiri ibu yang sedang memasak didapur. Kutenteng pula sertifikat itu dan kutunjukkan pada ibu. “Alhamdulillah nduk, sering-sering berlatih nulis lagi ya..semoga cita-citamu untuk jadi penulis terkenal terwujud, lihatlah nduk..bagaimana tangan Tuhan bekerja, kau tak bisa merasakan duduk dibangku kuliah, menjadi seorang mahasiswa, tapi itu bukan penghalangmu untuk mengejar harapan, asa, dan cita nduk. Sama sekali bukan. Akan ada saat yang paling tepat ,kapan Allah akan mengabulkan mimpimu itu, jangan pernah takut jatuh jika bermimpi yang tinggi, karna Tuhan nduk yang menggenggam semua mimpi yang kau ukir diatas langit sana sekalipun. Semoga tahun depan Allah mengizinkanmu kuliah ya nduk..doa ibu senantiasa bersamamu”.

“Aamiin”. Kupeluk tubuh ibuku yang mulai renta, kami saling berpelukan dalam haru. “eh..sudah nduk, jangan lama-lama pelukan lala-po nya ntar gorengan ibu diwajan itu gosong”. Kulepas pelukanku dari tubuh ibu seraya tersenyum tulus padanya. Lihatlah ibuku, dia selalu bercahaya, setiap kalimat yang keluar dari mulutnya penuh makna. Tak salah nama ibuku Nur Ainun, cahaya mata. Bukan hanya matanya saja yang bercahaya, tempatku merasakan pandangan tulus kasihnya, tapi semua teladan yang tak hanya diucapkannya, serasa bercahaya pula.

“Nduk”. Seru ibu lagi. Dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman ibu menghampiriku. “ sudah nduk, istirahat dulu baca bukunya, mentang-mentang dapat buku baru. Ini makan dulu, biar perutmu ndak sakit”. “injeh bu, matur nuwun, ibu ini repot-repot saja, nanti kan Naila bisa ngambil sendiri to bu”. “sudah nggak papa, kalau nggak gini kamu bisa kelupaan makan kayak biasanya, orang kalo lagi kadung baca buku sampek lupa daratan gitu kok ee”. Aku hanya tersenyum membalas curahan kasih sayang ibu padaku. “lo nduk, kamu ini gimana, ini bukannya kiriman dari pak pos tadi, kok di buang-buang to?”. “ Naila tidak membuangnya bu, mungkin tidak segaja terjatuh saat Naila mengambil buku”.

“sudah kamu periksa to nduk? Masih ada isinya lo ini nduk”. “sudah kok bu, sertifikat sama satu buku”. “la ini apa nduk?”. Ibuku mengangkat sehelai kertas kecil, lalu aku menghampirinya dan mulai membaca. Setelah terdiam beberapa saat, ibu kemudian bertanya. “kertas apa to itu nduk?” “Alhamdulillah, tiket dan cek uang untuk ke Gunung Panderman di kota Malang bu”. Aku berteriak memekik kegirangan serta sedikit berlompat karena saking bahagianya, kemudian kupeluk lagi ibuku. “tapi aneh sekali bu, di fanpagenya tidak ditulis kalau ada hadiah perjalanan ke Gunung Panderman di Malang”. Dengan roman muka sedikit keheranan bercampur rasa tak percaya ku tatap wajah ibu. “Alhamdulillah disyukuri saja nduk, rezeki dari Allah Ta’ala itu”. “inggeh bu, tapi apa bapak bakal ngasih izin bu? Bapak kan suka berlebihan melarang Naila kemana-mana, Naila sudah besar bu, kenapa bapak masih bersikap seperti itu? bahkan sekedar menyiram bunga dihalaman belakang saja, Naila langsung dihujani berbagai pertanyaan seperti narapidana”. Keluhku pada ibu. “bapak bersikap seperti itu ya karna dia sayang sama kamu nduk”. “Tapi sudah melebihi ambang batas normal bu, setidaknya kasihlah Naila kepercayaan, InsyaAllah Naila bisa menjaga diri Naila sendiri”. “sudahlah nduk, nggak baik ngomong kayak gitu. Toh bapak pasti juga punya alasan kenapa bapak bersikap begitu”. Potong ibu.

Hingga malam datang dan berlalu sebagaimana biasanya. Hanya keheningan yang kini mulai bersuara. Berbaur dengan angin yang terasa lembut menyapa. Suara pekikan jangkrik terdengar begitu teraturnya. Saat itu aku sedang melantunkan ayat-ayat al-qur’an dikamar. Sekitar pukul setengah 8 ba’da isyak. Tiba-tiba pintu rumahku diketuk, dan suara bapak terdengar mempersilahkan masuk tamu itu. Masih terus kubaca Al-Qur’an ditanganku, sampai suara ibu menghentikanku. “nduk tolong bikin 5 teh hangat ya, ibu sedang menemui tamu”. “injeh bu”. Kututup Al-Qur’an ku pada surat An-Nisa’ ayat 34. Aku bergegas melangkahkan kakiku kedapur. Memasak air dan membuat 5 cangkir teh hangat sesuai pesanan ibu. Dalam hatiku bertanya “siapakah gerangan tamu itu?”.

Hingga ibu kembali datang menghampiriku “tehnya sudah nduk?”. “sudah bu”. “kamu yang antar ya nduk”. Aku hanya diam mendengar perintah ibu, tak biasanya ibu menyuruhku mengantarkan minum pada tamu, apalagi nampaknya tamu itu laki-laki, didengar dari suaranya yang sedang bercakap dengan bapak tadi. “lo..nduk kok malah melamun to, sana buruan diantar minumnya”. Aku masih terdiam dengan sekelumit keraguan. Akhirnya kubawa nampan berisi 5 cangkir teh itu. Kutundukkan pandangan dan wajahku saat meletakkan minuman itu. Saat aku hendak beranjak meninggalkan ruang tamu, salah satu dari ketiga tamu lelaki itu berkata. “ oh ini rupanya yang namanya Naila, cantik juga ya putrimu, tak salah Salman memilihnya”. Deg, jantungku terasa dihantam palu dengan begitu kerasnya.

Tak karuan rasa dihatiku saat itu, bercampur antara rasa kaget dan bingung, aku ingin berlari menghindar dari ucapan yang ambigu itu. Tapi entahlah mengapa aku tak berdaya, ingin rasanya pergi dari keadaan yang mengagetkan ini, tapi kaki ku serasa tak bisa digerakkan walau hanya satu senti. Aku hanya berdiri mematung beberapa meter dari mereka. Dalam hatiku berkata “apa maksudnya Salman tak salah memilihku?”.

“Naila, sini nduk, duduk disini dulu”. Kata bapak, memanggil aku. Refleks kubalikkan badanku, walau sejujurnya aku ingin menghindar dari situasi itu. Dengan penuh kecamuk yang menjejali hatiku aku duduk disamping bapak dan ibuku. Sambil terus menunduk dan menenggelamkan wajahku, berharap semoga mereka tak dapat menengok sedikitpun mimik mukaku. Yang bercampur berbagai rasa yang tak mau bersatu padu.

“Dia baru lulus SMA tahun kemarin, daftar masuk Universitas Islam Negeri di Malang, tapi belum ketrima tesnya. Jadi kesibukannya sekarang hanya mengajar di playgroup Rumah Pandai, di Taman Pendidikan Qur’an, serta di Lembaga Bimbingan Belajar Islam. Setiap hari dia mengajar, hanya libur saat hari minggu. Tapi tak lama, paling lama hanya sekitar 3-4 jam saja dia mengajar”. Jelas bapak pada mereka. Aku masih tertunduk pasrah, Apa ini Ya Allah? Kejutan dari-Mu, kah ini?.

“Nama anakku ini Salman Ibnu Al-A’ly, dia lulusan Pendidikan Ilmu Hadist di Universitas Al-Azhar Kairo. Baru saja lulus tahun ini, dan kini ia bekerja disalah satu majalah muslimah. Dia juga mengajar di Pesantren Roudlotusy Syifa’ di Malang”. Suara bapak-bapak itu mengalun perlahan..terdengar sedikit parau, namun setiap kalimatnya begitu jelas terucap. Aku masih diam menunduk. “Subhanallah” sahut bapakku. Entahlah, semua ini begitu cepatnya terjadi. Hingga aku tak sempat mempersiapkan diri, semua terjadi begitu saja diluar kendali. Beginikah rencana dan takdir Illahi? Untuk hamba-Mu yang tak tahu menahu ini?

Usai pertemuan itu, rasa dihatiku semakin tak menentu. Ada secuil bahagia yang tertumpuk oleh rasa tak percaya juga sejuta tanya. Aku hanya diam membisu disudut kamarku. Sorot mata ini entah menerawang kemana. Hingga suara ibu memecah segala rasa yang membuatku gundah. “nduk kamu lagi ngapain to? Sudah malam nduk, segera tidur. Agar disepertiga malam nanti kau dapat bangun, untuk minta petunjuk pada Tuhan mu nduk”. Aku menatap ibu, “ibu apa maksud dari semua ini? Cepat sekali ini terjadi, sampai-sampai Naila Terkaget-kaget, karna tak punya kesiapan apa-apa bu. Waktu dua minggu yang diberikan keluarga Mas Salman apa itu cukup bu, untuk mempersiapkan diriku? Apa aku pantas bu?”.

 “nduk sebenarnya ibu juga sama denganmu. Ibu tak percaya nduk, akan ada yang meminangmu secepat ini. Apalagi lelaki itu bukan lelaki biasa nduk, putra Kyai ulung, pendidikannya pun, jangan ditanya..jebolan Universitas Al-Azhar. Apalagi dia mengajar disalah satu pondok ternama di Malang”. “lalu apa dia pantas bu untuk aku? Aku saja hanya lulusan SMA, tak ketrima kuliah. Pantaskah aku bu, mendapat sosok seperti Mas Salman yang terlihat penuh kesempurnaan itu bu? Tidakkah ini seperti bumi dan langit yang tiba-tiba bertemu bu?”.

Pertanyaan-pertanyaan itu menghujam deras begitu saja. Ibu membelaiku. “nduk ibu juga tak tahu. Tapi Salman yang memilihmu nduk, sudah pasti dia punya pertimbangan tersendiri nduk. Kadang..takdir itu memang terjadi begitu saja nduk, tanpa bertanya apakah kau siap menjalaninya. Bahkan, tanpa sempat menyapa apakah kau bersedia menerimanya. Tapi nduk, takdir Allah tak pernah keliru. Kalau ini memang jalan yang terbaik untuk kamu, siap tak siap kau harus menerimanya nduk. Sudah nduk, istighfar. Tenangkan dirimu, minta petunjuk pada Sang Penentu Takdir dan Sang Pemilik Cinta nduk, semoga kamu dituntun oleh-Nya”.

Disepertiga malam, aku menghadap pada Tuhan, berharap ampunan serta bimbingan. Aku solat tahajjud, hajat dan istikhoro masing-masing dua rakaat. Kemudian aku tidur kembali. Hingga mimpi itupun hadir, entah artinya apa. Dalam mimpi itu, aku melihat langit semuanya gelap sejauh mata memandang. Namun, saat aku melihat Mas Salman, langit tiba-tiba cerah bercahaya, gelap itu hilang begitu saja. Aku sudah solat istikhoro hingga empat kali. Tapi mimpi yang hadir tetap sama. Apakah ini artinya Mas Salman memang telah dipersiapkan untuk menghapus gelap dalam hidupku?. Aku baca ayat Al-Qur’an yang berbunyi “dan laki-laki yang baik, untuk perempuan yang baik pula”. Tanya itu kembali ada, apa aku ini perempuan yang baik? Mas Salman rasanya terlalu baik untuk aku. Tak berlebihan kah ini? Adilkah ini? Oh ya Allah, keraguan masih menyelimuti hatiku.

Namun, entah mengapa ketika ayah Mas Salman datang kerumah menanyakan apa jawabanku, dengan pasti dan tanpa keraguan aku berkata pada ibu. “Bismillah, aku terima bu”. Ibu tersenyum amat bahagia, hingga kelopak matanya berkaca-kaca, hampir meneteskan bulir air mata, karna tak dapat membendung segala rasa. Aku sendiri pun tak tahu, aku dapat kekuatan dan keyakinan ini dari mana.

Tanggal 11 Oktober 2015 pernikahan kami akhirnya terlaksana. Ini rezeki terbesar yang diberikan Allah dalam doa ku disolat dluha. Saat qobiltu di ikrarkan Mas Salman, aku berjanji dalam hati kepada diriku, untuk memperbaiki segala amalan ibadahku. Aku merasa tak pantas jika Mas Salman yang terlihat sempurna, mendapatkan wanita yang biasa. Aku terus berusaha mem-fatimahkan diriku, karna Mas Salman telah menjadi Ali-ku.

 Dan satu lagi kejutan teristimewa dari Allah yang disiapkan untuk aku, 25 Oktober 2015 kami menginjakkan kaki di Gunung Panderman. Mas Salman menggenggam tanganku, kami menatap matahari yang mulai Nampak diufuk timur. Inilah kali pertama aku melihat sunrise yang indah di Panderman bersama suamiku. Kemudian Mas Salman memberiku beberapa tangkai bunga edelwais, bunga abadi yang tak pernah mati. Sambil mengecup keningku Mas Salman berkata “terimakasih telah bersedia menjadi bagian hidupku, sungguh aku tak memerlukan dirimu yang sempurna, aku mencintaimu apa adanya. Semoga kita sakinah mawaddah warahmah, jadilah madrasatul ulla yang baik untuk anak-anak kita”. Air mataku menetes begitu saja dalam suasana haru, kupeluk tubuh suamiku dan ku Amini doa itu.

“tahukah kau kapan aku mulai mencintaimu?”. “tidak, sejak kapan mas?”. “sejak aku membaca tulisan-tulisanmu, entah mengapa hatiku tergerak, dan aku jatuh cinta pada tulisanmu”. Aku kaget sekali rupanya Mas Salman adalah editor naskah di Majalah An-Nisa, tempat ku mengirimkan naskah tulisanku. Mas Salman pula yang menyediakan cek dan tiket perjalanan ke Panderman, karena membaca tulisanku. Aku sama sekali tak menduga, inilah hadiah terbesar yang diberikan oleh Allah untukku kala dluha, dan lagi..terjadi dihari selasa. Lihatlah cara Tuhan mempertemukan dua insan dalam ikatan pernikahan lewat sebuah tulisan.


-Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

About Dewi Mardiyah 7 Articles
Biasa disapa Dewi. Lahir di Kota sejuk Malang, Jawa Timur pada 19 Juli 1997. Mempunyai hobi menulis, membaca dan jalan-jalan. Serta mempunyai impian menjadi penulis dan penyiar radio. Bisa disapa melalui akun sosial medianya, FB : Dewi Mardiyah dan IG : dewimardiyah_.

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.