Hamdani Mubarok Alumni MI Bahrul Ulum Jombang sekaligus kader pondok bukan Pesantren Islam_keadaan, Yogyakarta.

Haji

Hamdani Mubarok 3 min read 0 views

Ka'bah

[dropcap]M[/dropcap]ungkin sekilas sedikit aneh untuk membicarakan tentang haji serta keterkaitanya dengan kemerdekaan Indonesia. Haji adalah urusan agama, ia menjadi urusan antara Hamba dengan Tuhanya sementara Indonesia adalah urusan kenegaraan, kebangsaan. Haji terjadi di Makkah, Arab saudi, sebuah tempat yang bisa dibilang sangat jauh dari jangkauan umat Islam di Indonesia pada zaman perjuangan. Namun jauhnya jarak antara Makkah dan Indonesia (Nusantara), bukan berarti kemudian menjadikan haji tidak memiliki hubungan sama sekali dengan kemerdekaan Indonesia. Justru sejarah telah mencatat bahwa, haji merupakan media yang seringkali berfungsi untuk menumbuhkan semangat nasionalisme serta membangun semangat anti penjajahan.

Sejarah kepergian umat Islam Indonesia jauh ke Makkah sebagai ibadah ini sendiri dimulai semenjak munculnya kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara. Saat Islam mulai menguat di Negeri ini, beberapa orang terpandang di kerajaan pergi menunaikan ibadah haji ke Makkah. Pada tahun 1674, Abdul Qahar, putra Sultan Ageng Tirtayasa pergi haji yang kemudian setelah pulang mendapat gelar Sultan Haji. Meski begitu, besar kemungkinan, Sultan Haji bukanlah orang Jawa yang pertama naik Haji. Dalam catatan Bruinessen, pada tahun 1630-an, Raja Banten dan Mataram saling mengirim utusan ke Makkah guna mendapat gelar Sultan dari Syarif Makkah. Bukan sangat tidak mungkin utusan ini datang ke Mekkah selain untuk menyampaikan pesan kerajaan, juga melaksanakan Haji.

Sementara itu, penuturan tentang bagaimana proses perjalanan Haji yang jauh nan berat dari Nusantara ke Makkah untuk pertama kalinya dituturkan oleh pelopor sastra Melayu modern, Abdullah bin Abdul Qadir Munsyi yang menunaikan ibadah haji pada tahun 1854, ketika perjalanan masih menggunakan kapal layar, bukan kapal api. Dalam sebuah laporan yang ditemukan oleh Martin Bruinessen, orang-orang Nusantara adalah umat Islam yang bisa dibilang punya semangat pergi haji yang cukup tinggi. Meskipun harus melalui perjalanan laut yang melelahkan. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya umat Islam yang memilih berangkat meskipun tidak semua yang berangkat akan berakhir selamat. Catatan haji tahun 1853, terdapat 1129 orang Nusantara yang pergi haji namun hanya 527 yang kembali pulang. Berselang lima tahun setelah itu, tepat di tahun 1858, jumlah jamaah haji asal Nusantara meningkat menjadi 3718 orang yang berangkat dengan catatan yang pulang hanya 1710. Jumlah yang sebenarnya tidak ada setengah dari mereka yang berangkat ke Makkah. Mereka yang pergi haji ini kebanyakan adalah orang-orang pesantren yang memang berniat pergi bukan hanya untuk haji namun juga untuk keperluan lain.

Wocoen   Perangi Para Pembunuh Tuhan

Sesampainya di Haramayn, para ulama yang pergi haji kebanyakan tidak langsung pulang kembali ke Indonesia. Mereka hampir selalu menyempatkan diri untuk menimba ilmu agama di Haramayn. Bahkan keberangkatan ulama-ulama dari Indonesia ke Haramyn, dalam studi Azyumardi Azra disebutkan, seringkali didasari bukan untuk beribadah Haji melainkan untuk menuntut ilmu. Dalam masa menuntut ilmu di Haramayn inilah kemudian mereka menyempatkan ibadah haji. Tidak terkecuali untuk kalangan pesantren.

Kepergian umat Islam ke Haramayn ini kemudian memberikan setidaknya dua dampak yang sangat berbahaya bagi penjajah di Indonesia. Pertama, mereka yang pergi haji akan kembali pulang ke Nusantara dengan setidaknya dua pengetahuan pokok yang sangat penting bagi masyarakat Nusantara, ilmu agama serta pengalaman Negeri-negeri Islam di sekitaran Timur-Tengah.

Mereka yang pulang dari pergi haji ini, dengan pengetahuan barunya, seringkali terbukti berhasil dalam menanamkan ideologi perlawanan terhadap penjajahan yang terjadi di Nusantara. Ide untuk melawan itu kemudian didukung oleh legitimasi keagamaan yang semakin kuat mereka miliki. Ilmu pengetahuan keagamaan yang mereka kuasai sepulang dari Haramayn menjadikan mereka semakin fasih dalam memainkan retorika dalil keagamaan dalam membingkai semangat perlawanan terhadap penjajah dengan dalil agama.

Akibat yang kedua, orang-orang yang pulang dari Makkah seringkali mendapat tempat istimewa di kalangan masyarakat Jawa. Petuah mereka didengar dengan seksama, keberadaan mereka semakin dihormati. Hal ini kemudian memberi dampak negatif pada keberadaan penjajah yang memang sejak awal tidak disukai oleh para Haji ini, bahkan sejak sebelum mereka berangkat ke Tanah suci. Haji-haji ini seringkali dengan tanpa takut memobilisasi massa untuk melakukan perlawanan terhadap penjajah.

Kisah tetang Haji Abdul Karim Banten, yang diangkat dalam disertasi Sartono Kartodirdjo merupakan salah satu gambaran dampak buruk yang ditimbulkan oleh jamaah haji bagi penjajah. Kharismatik Abdul Karim, tentu didorong oleh selain keberadaanya sebagai guru tarekat, juga karena gelar haji yang ada pada dirinya. Posisi istimewanya di tengah masyarakat inilah kemudian yang dimanfaatkan oleh Abdul Karim untuk memobilisasi massa agar mereka maau melawan Belanda yang dianggapnya sedang berbuat aniaya terhadap umat Islam di Jawa.

Wocoen   Nabi Ibrahim dan Sikap Terhadap Informasi Irfani

Sebelum kasus Abdul Karim, di Banten, juga terjadi perlawanan terhadap penjajah yang salah satu komandonya adalah alumnus Haramayn. Yusuf Al Makassari. Meskipun saat itu Penjajah telah mendapatkan hati Sultan Haji untuk bersekongkol melawan ayahnya sendiri, Sultan Ageng Tirtayasa, namun usaha Penjajah untuk mengalahkan pasukan Tirtayasa tidaklah mudah. Bahkan setelah pasukan Tirtayasa “kalah” melawan penjajah, mobilisasi untuk menentang penjajah masih terus dilakukan oleh menantunya, Yusuf Makassari yang kemudian berakibat dibuangnya Yusuf ke Afrika Selatan.

Sebuah studi dari Zainul Bizawie mengungkapkan bahwa, terdapat hubungan tidak langsung antara Makkah dan perjuangan Ulama-santri dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari penjajah.  Para santri Nusantara yang saat itu pergi ke Makkah, datang kembali ke Indonesia bukan hanya dengan membawa ilmu agama, melainkan juga semangat perlawanan terhadap ketidakadilan yang dilahirkan oleh penjajah.

Santri Haramayn ini secara genealogis, hampir semuanya terhubung dengan KH Hasyim Asy’ari, ulama tradisionalis yang memiliki posisi sentral di tengah umat Islam Indonesia. Mereka yang satu angkatan dengan Hasyim Asy’ari selama di Haramayn seringkali kemudian mengomando santri-santrinya untuk ikut dalam jihad yang diserukan oleh Hasyim Asy’ari. Inilah salah satu alasan utama mengapa resolusi jihad yang pernah didengungkan oleh NU didengar dan dipatuhi oleh banyak umat Islam saat itu. Selain rasa nasionalisme, kemauan untuk pergi berjihad melawan penjajah nampaknya juga didorong oleh fakta tentang rasa persaudaraan yang pernah terjalin diantara para kyai-kyai ini selama mereka menuntut Ilmu di Haramayn.

Hamdani Mubarok
Hamdani Mubarok Alumni MI Bahrul Ulum Jombang sekaligus kader pondok bukan Pesantren Islam_keadaan, Yogyakarta.

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.