Barokah E. Pambudi mahasiswa Universitas Negeri Malang yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk ngojek sambil ngerokok daripada belajar di kelas

Hakikat Ilmu Selamat

Barokah E. Pambudi 2 min read 0 views

Hakikat-Ilmu-Selamat

   “Cinta itu nomer dua, yang terpenting adalah carilah keselamatan” begitulah kutipan puisi pesan pecopet kepada pacarnya karya sang maestro Ws. Rendra. Terutama wanita haruslah selamat. Sebab kaum wanita adalah kunci ketahanan dinamika sosial masyarakat dalam menghadapi arus kapitalisme yang berbungkus globalisasi beserta intervensi-intervensi budaya asing yang mencoba menghilangkan budaya bangsa sendiri. Memang banyak kaum pria yang menjadi sarjana ekonomi atau akuntan perusahaan-perusahaan besar namun dalam praktik kehidupan berumah tangga nampaknya cenderung wanitalah yang menjadi manajemen keuangannya. Konsumtif tidaknya sebuah rumah ditentukan oleh kebijakan manajemen keuangan kaum wanita. Bahkan ikan pidang yang hanya memiliki selisih 1000 perak pun hanya kaum wanita yang berani untuk menawarnya.

   Ketika kaum pria sedang geger-gegernya perihal propaganda tahilan haram – tahlilan haram. Namum nampaknya kaum wanita yang nampak anteng-anteng saja sembari terus melaksanakan yasinan. Sampai-sampai dibanding kesenian pun kaum wanita lebih bisa memelihara dibanding kaum pria. Misalnya kesenian terbangan yang khusus melibatkan kaum pria, sekarang lambat laun hilang. Namun dzibaan atau samroh tetap saja bisa terdengar dimana-mana. Begitu pula dengan tarian-tarin seperti tari remo yang seharusnya diperankan oleh pria malah lebih banyak diperankan oleh kaum wanita.

   Nampak pula dalam keberangkatan kaum pria menuju rumah yang memiliki hajadan untuk melaksanakan tahlilan biasanya kaum laki-laki tak punya ingatan konsisten malah “tidur” sesudah isya’ dan kaum wanita yang sering “membangunkan” untuk berangkat. oleh itu menurut kyai mbeling alias Cak Nun berpendapat bahwa “seolah-olah Tuhan menakdirkan bahwa kaum wanita secara esensial memiliki potensi untuk memimpin kaum pria dari belakang”.

   Oleh karena kaum wanita adalah kunci ketahanan dalam dinamika sosial masyarakat maka banyak sekali pihak-pihak asing yang mencoba menghasut sekaligus menghancurkan kaum wanita. Karena sulitnya untuk menghasut kaum wanita dari sisi budaya dan perekonomian. Maka kini pihak-pihak asing mencoba menghasut kaum wanita dari sisi fashion. Standar kecantika-kecantikan kini berkiblat pada barat. Mulai dari pakaian bahkan sampai pada bentuk wajah.

Wocoen   Mengintip Karya Agung KH Wahab Hasbullah

   Peribahasa jawa, ajine ati soko ing lati lan ajine rogo soko busana. Disitulah dapat kita simpulkan bahwa memang hal yang dapat memberikan keselamatan raga bagi kaum wanita adalah busana atau pakaiannya. Mungkin oleh itu pula Cak Nun membuat pagelaran seni dan teather “Lautan Jilbab”.

   Namun perihal “kunci utama” keselamatan bagi kaum wanita atau perempuan sekalipun adalah “kesopanannya”. Perempuan yang kuat unsur kesopanannya tak akan diganggu oleh kaum laki-laki. Bahkan dalam dunia pendidikan menurut sang maestro Ki Hajar Dewantara, sesekali guru harus mencampur gaulkan antara peremuan dan laki-laki. Disamping untuk memunculkan rasa persaudaraan juga ketika perempuan kuat sopan-santunnya maka laki-laki akan berperilaku sama.

   Anggaplah ini adalah penelitian kualitatif dengan beberapa subjek orang-orang jalanan seperti tukang parir dan para ojek online yang berlokasi di salah satu kedai mie populer daerah kota Malang. Setiap ada perempuan atau wanita yang berpakaian sopan dan nampak berperilaku sopan secara bisik-bisik saya bertanya “bagaimana cocok dengan saya?”. Tiga kawan dari ojek online menjawab,

“apakah sampeyan pantas?1”, “arek koyok ngunu ojok gawe dulinan2”, “wanita yang cantik, baik untuk berumah tangga, tapi gak pantes kanggo sampeyan wkwk3

Diperkuat oleh pernyataan, dua kawan dari tukang parkir,

“……pantes gawe omah-omahan, duduk gawe dulinan, beruntung nek isoh oleh wanita ngunuku1

   Dari situ dapat dilihat tidak ada satupun ungkapan yang menggambarkan rasa kenafsuan atau keinginan untuk menggoda wanita yang kuat rasa kesopananya. Justru kawan saya ini turut berperilaku sopan dan canggung ketika menata dan memberikan sepeda motornya kepada wanita tersebut.

   Mohon maaf jika seakan-akan tulisan saya mengatakan kalau kesopanan lebih berharga dari pada kecerdasan. Namun kecerdasan tidak akan berguna jika tak bisa disampiakan karena rendahnya sopan santun atau terhalang oleh stereotip-stereotip negatif atas penampilan. Namun realitanya adalah wanita yang kuat rasa kesopanannya adalah wanita yang cerdas. Wanita cerdaslah yang akan melahirkan begawan-begawan dan kstaria-kstaria yang akan membangun bangsa. Dengan begitu bangsa akan selamat.

Wocoen   Sifat Nasionalisme Rasulullah Saw dan Sahabat
Barokah E. Pambudi
Barokah E. Pambudi mahasiswa Universitas Negeri Malang yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk ngojek sambil ngerokok daripada belajar di kelas

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.