Hamba Saleh Secara Ritual dan Sosial

Sudah banyak yang tahu bahwa puasa mempunyai manfaat membenahi jiwa sosial seseorang. Dengan berpuasa seseorang akan masuk dalam kondisi lapar dan dahaga.

Nah dari sanalah diharapkan manusia mendapatkan kesadaran bahwa seperti inilah kondisi saudara kita yang hidup di bawah kata pas-pasan. Setiap hari melihat makanan lezat dijajakan, tapi apa daya isi dompet berkata lain. Melihat dan mencium aromanya, tapi tak mampu menjamahnya.

Nah sama halnya dengan puasa, dengan puasa kita dilatih untuk hidup dalam kondisi yang kita hanya bisa menelan ludah. Melihat tumpukan makanan di dapur, kita hanya bisa memandangnya, tanpa bisa sekadar mencicipinya, padahal itu halal-halal saja bagi kita.

Dengan adanya kesadaran yang terbagun tadi, tentu banyak manfaat sosial yang didapat. Di antaranya adalah tumbunya rasa solidaritas antar sesama manusia, kepemilikan satu rasa, “oh begini kah rasa lapar itu, ternyata ini yang dirasakan oleh saudara-saudaraku yang kurang beruntung itu”. Dengan begitu timbullah keinginan untuk saling membantu, saling menyayangi, serta memperlakukan manusia sebagai manusia.

Itu kalau ngomongin tentang “harusnya”, tapi apa yang terjadi dalam kenyataan berkata lain. Orang berpuasa lebih cenderung suka memikirkan ntar buka puasa pake menu apa, dan daripada memikirkan tentang laparnya orang miskin lagi melarat dia lebih suka hari-harinya di penuhi kemalasan dan tidur.

Lalu tatkala berbuka puasa tiba, maka itulah waktu balas dendam baginya, seolah puasanya hanya masalah pemindahan jam makan siang, dan porsi makan seharinya pun malah makin banyak dibandingkan bulan biasanya. Oleh karenanya tak ada waktu lagi baginya untuk mentadaburi lapar dan dahaganya hari ini.

Yah mau bagaimana lagi, saya rasa hanya bermodal keprihatinan dan rasa miris saja sekarang tidak cukup untuk mengubah keadaan, apalagi mengubah cara pandang orang lain. Mengubah diri kita sendiri dan orang di sekitar kita pun merupakan hal kecil yang tak terlihat efeknya dan tak akan memberikan dampak yang besar.

Namun itu mungkin adalah satu-satunya hal yang bisa kita lakukan, karena untuk menjadi benar tidak perlu menunggu orang lain dengan jumlah yang besar untuk melakukannya, dan semua bermula dari satu orang. Dan kita tidak perlu mengubah pikiran orang lain, kita hanya butuh mengubah pikiran diri sendiri. Karena dinsini berbicara tentang membenahi diri sendiri (bukan membenahi negara) dalam rangka menempa diri di bulan yang suci.

Dengan terbangunnya solidaritas tentu akan terbangun hubungan vertikal antara Tuhan dan hambanya, serta terbangun pula hubungan horizontal antara manusia dan manusia. Maka harapannya adalah kelahiran dari para hamba yang sholeh secara ritual dan saleh secara sosial.

Dan untuk menggapai puasa yang seperti demikian, tentu hanya perlu melakukan apa yang dilakukan junjungan kita baginda Rasul. bisa dilihat di berbagai riwayat yang ada, bahwa beliau adalah sosok yang tidak berlebihan dan secukupnya saja, makan tidak pernah kekenyangan dan tidur tidak pernah sampai benar-benar pulas. Dan kala beliau berbuka pun tidak menggunakan ideologi balas dendam (makan dengan porsi banyak, dengan tujuan mengganti apa yang dia lewatkan selama dia berpuasa). “Makanlah dan minumlah akan tetapi jangan berlebihan”.

Yang selanjutnya tentu adalah berdialog dengan diri sendiri, serta mengajak diri sendiri berbincang dan merenung tentang lapar yang dirasanya hingga tumbuhlah sifat rahmah (kasih sayang) dalam diri. Nah sifat rahmah itulah yang menjadikan manusia menjadi manusia yang sesungguhnya. Sifat itulah yang akan menjadi pintu dari dimensi kemanusiaan dalam diri kita dan menjadi awal untuk memiliki sifat kasih sayang kepada semua mahluk Tuhan.

Belas kasihanilah apa saja yang ada di muka bumi, maka Tuhan yang maha pengasih akan berbelas kasihan kepadamu” (potongan hadis pertama dalam Kitab Mauidzatul Usfuriyah).


-Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

About Muhamad Isbah Habibii 56 Articles
Seorang petani asal Jombang, alumni Tambakberas, Ponpes Gasek dan Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.