Hidup Ini Bergulir dan Bergilir

Pernahkah kita memikirkan masa depan? Atau membayangkan hari-hari esok tentang keindahan? Seberapa sering kita memasuki alam mimpi yang penuh sesak dengan imajinasi? Yang akhirnya hidup ini terbingkai dengan pengandaian dan sarat akan ekspektasi. Si kecil bermimpi menjadi besar. Si bodoh berkhayal menjadi pintar. Si lemah berharap menjadi kuat. Si remeh berandai menjadi hebat. Semua itu sejatinya hanya sebatas angan-angan, dan belum tentu akan terwujudkan.

Betul, sesekali merencanakan dan mewacanakan masa depan itu penting. Tapi kalau dalam prosesnya membuat kita gundah dan gelisah, ini yang harus kita hindari. Untuk apa memikirkan masa depan kalau akhirnya kita hanya terjebak dalam rencana dan wacana? Ujungnya, tidak ada yang kita kerjakan di hari ini. Merencanakan itu penting, tapi mewujudkannya itu lebih penting.

Acapkali kita sibuk menentang masa lalu, dan menantang masa depan, sampai kita lupa atau terlupa bahkan pura-pura lupa dengan hari ini yang sedang kita jalankan. Hari kemarin hanya dapat direnungi dan dievaluasi, sebagaimana hari esok hanya sebatas rencana yang belum tentu akan kita lalui. Keduanya sama-sama tidak hadir dalam setiap nafas yang kita hembuskan sekarang. Sederhananya, saat ini kita tidak hidup di kedua hari itu (hari kemarin dan esok). Oleh karenanya, hanya ada satu hari dalam kehidupan nyata, yaitu hari ini. Tak peduli kaya, miskin, pintar, bodoh, dan sebagainya. Semuanya sama-sama tidak bisa menggunakan hari kemarin dan esok, yang ada hanya hari ini.

مَا مَضَى فَاتَ وَالْمُؤَمَّلُ غَيْبٌ فَلَكَ السَّاعَةُ الَّتِي أَنْتَ فِيْهَا

Yang lalu biarlah berlalu, hari esok masih menjadi sebuah misteri, dan di hadapanmu hanyalah ada hari ini yang sedang kau jalani

Kejadian di hari kemarin tak layak untuk terlalu dipersekusi namun harus tetap dijadikan bahan evaluasi, pun demikian spekulasi di hari esok tak pantas untuk selalu dicemasi namun harus tetap dijadikan bahan diskusi. Karena hidup itu bukan hanya soal terlalu dan selalu, melainkan juga ada campur tangan dari Dzat yang maha tahu. Namun demikian, bukan berarti kita tinggal diam dan berpangku tangan. Kita harus berusaha di hari ini untuk hari esok, dan menjadikan hari esok sebagai semangat beraktivitas di hari ini.

Dalam hidup, terlalu mencemaskan hal yang belum terjadi dan masih misteri adalah sesuatu yang sia-sia (طول الأمل). Memikirkan hendak makan apa di hari esok, membayangkan menjadi orang seperti apa di masa depan, berkhayal akan mendapat jodoh yang bagaimana kelak ketika sudah masanya, dan seterusnya. Itu semua sudah diatur oleh Allah, dan tugas kita hanya berusaha untuk memenuhinya serta tak mudah putus asa dalam menggapainya. Lalu timbul pertanyaan dalam benak kita, untuk apa kita berusaha di hari ini dan tak perlu mencemaskan masa depan kalau pada akhirnya semua itu sudah diatur oleh Allah?

Senada dengan pertanyaan di atas, Imam Ibnu Athoillah as-Sakandary dalam kalam hikmahnya pernah berkata;

أَرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبِيْرِ فَمَا قَامَ بِهِ غَيْرُكَ عَنْكَ لَا تَقُمْ بِهِ لِنَفْسِكَ

Tenangkanlah dirimu dari mengatur semua yang sudah diatur. Karena segala urusanmu yang telah diatur oleh selainmu itu (Allah), kau tak pantas bercampur tangan di dalamnya untuk ikut mengatur

Manusia berkeinginan, tapi Allahlah yang maha memutuskan. Manusia berencana, tapi Allahlah sang maha pelaksana. Manusia ikut campur, tapi Allahlah yang maha mengatur. Manusia hanya dituntut untuk mencari sebab keberhasilan dengan belajar, tapi tidak dituntut untuk berhasil. Karena sejatinya keberhasilan dalam belajar itu datang dari Allah. Manusia hanya diperintah untuk mencari sebab kesembuhan dari penyakit, tapi tidak dituntut untuk sembuh. Karena sejatinya kesembuhan dari penyakit itu datang dari Allah. Itu sebabnya manusia dihimbau untuk selalu tawakkal dan biarlah hidup ini bergulir dan bergilir seperti sedia kalanya tanpa harus mencemaskan hasil.

Satu hal yang sering kita lupakan adalah soal tawakkal. Kita sering menjadi putus asa karena tidak mempunyai ruang tawakkal yang cukup besar dalam hati dan jiwa. Ketika sudah bersusah payah namun tak kunjung membuah, kita lupa bahwa sebenarnya tugas kita selesai sudah. Sebab, hasil itu bukan menjadi tugas manusia, melainkan sudah diatur oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Siapa yang tak tahu dengan cerita andalan guru-guru kita ketika di pondok pesantren dahulu, tentang Ibnu Hajar Al-Asqolani. Bertahun-tahun belajar namun tak kunjung menguasai ilmu yang diajarkan. Akhirnya pulang dan di tengah kepulangannya, beliau menemukan batu yang bolong sebab ditetesi air tiada henti. Singkatnya, beliau kembali belajar dengan gurunya dan menjadi salah satu ulama besar yang seakan masih hidup di tengah-tengah kita sampai sekarang karena karya-karyanya yang banyak dimanfaatkan orang. Salah satu karya fenomenalnya adalah kitab hadits-hadits yang membahas tentang hukum, yaitu “Bulughul Marom”. Sebelum menjadi ulama besar, berapa banyak kepedihan dan keperihan yang harus beliau tanggung dalam proses belajarnya? Namun beliau terus menggulirkan usaha sampai datang giliran suksesnya.

Kesimpulannya, sebagaimana kita tak tahu apakah besok matahari masih akan terbit dari timur atau tidak, selayaknya kita tak perlu terlalu mencemaskan masa depan yang sejatinya masih gaib dan tidak kita ketahui. Cukup lupakan masa lalu, berusaha di hari ini, kemudian diikat dengan seutas tali kuat yang bernama tawakkal. Biasanya hasil tidak jauh dari usaha yang kita kerahkan.

بِقَدْرِ الْكَدِّ تُكْتَسَبُ الْمَعَالِيْ

Sebesar usaha yang kita kerahkan, sebesar itu pula kemuliaan yang akan kita dapatkan

Saat melihat orang lain sukses yang bidang tekunnya sama dengan kita, kita hanya perlu menggulirkan usaha terus menerus dan memupuk keyakinan bahwa suatu hari nanti akan datang giliran kita untuk menjadi sukses seperti dia. Setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya. Karena hidup ini bergulir dan bergilir.

About Imamuddin Muchtar 3 Articles
Imamuddin Muchtar, kelahiran Depok. Pernah aktif di komunitas Al-Kindi dan memenangkan beberapa kali lomba debat berbahasa Arab tingkat nasional. Kini menekuni menjadi pelatih debat di UIN Maliki Malang.

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.