Hikmah Disembunyikannya Identitas Lailatulqadar dan Waliyullah

jika dibanding-bandingkan antara manusia dan makhluk lainnya, dapat kita simpulkan bahwa manusia adalah makhluk yang begitu lemah dan terbatas. Banyak hal yang tidak bisa manusia lakukan.

Banyak hal yang tidak dapat dijangkau manusia, dan banyak hal pula yang tidak diketahui manusia. Banyak hal yang telah manusia ungkap dan menjadi sebuah keilmuan sendiri, akan tetapi hal yang tidak diketahuinya seolah masih begitu luasnya, seluas samudera yang tak tampak ufuknya.

Walaupun demikian, manusia tetap saja menjadi ancaman bagi sebagian makhluk lain. sekuat apa gunung, manusia mampu menggalinya. Segelap apapun hutan, manusia masih mampu menggundulinya.

Sebuas apapun lautan, manusia masih mampu menjarahnya. Mungkin dari sanalah, manusia kehilangan kesadaran bahwa dia sebenarnya lemah lagi terbatas.

Sekuat apapun manusia, dia masih punya batas kekuatannya. Kelak dia akan menemui dirinya tak berdaya. Sepanjang apapun umurnya, dia masih terbatas, dia masih akan menemui ajalnya.

Seberani apapun, dia masih punya ketakutan, yakni ketakutan kehilangan keberaniannya. Sepandai apapun manusia, dia masih mempunyai batasan keilmuannya, banyak hal yang tidak diketahuinya. Yah, itulah sekelumit tentang keterbatasan manusia.

Dan di antara hal yang di luar jangkauan pengetahuan manusia adalah lailatulqadar dan waliyullah. dua hal ini sepertinya memang sengaja dibatasi oleh Tuhan persebaran informasinya. Seolah hanya orang-orang tertentu saja yang tahu akan bocorannya.

Kalau toh wali itu memang ada, maka tak akan ada orang yang tahu bahwa orang ini wali atau bukan kecuali mereka yang diberikan sedikit bocoran informasi itu. Begitu juga tentang jatuhnya malam seribu bulan, yang konon akan jatuh di salah satu malam di bulan Ramadan, informasinya pun sangat-sangat terbatas.

Kalau toh keduanya memang disembunyikan oleh Tuhan, tentu sekuat apapun mencari maka tak akan banyak informasi yang kita dapatkan, namun ada hikmah yang dapat kita petik di balik keterbasan informasi keduanya. Yakni tidak bolehnya meremehkan, entah itu meremehkan waktu atau meremehkan manusia.

Karena bisa jadi waktu yang kita remehkan ternyata adalah lailatulqadar yang semua doa akan dijawab oleh Tuhan. Atau bisa jadi orang yang kita remehkan adalah seseorang yang istimewa di hadapan Tuhan, itu bisa saja terjadi.

Sebagai makhluk yang terlampau sering lupa bahwa dia lemah dan terbatas, manusia memiliki sifat meremehkan. Entah karena ketularan iblis ketika awal penciptaan manusia atau bagaimana, lalu mereka memiliki sifat seperti ini. Saya sebagai manusia sendiri juga masih bertanya-tanya, akan tetapi secara garis besar meremehkan lebih disebabkan oleh rasa takabur dalam hati ini.

Nah, hal yang paling disesali orang takabur adalah ketika dia takabur di depan orang yang jelas-jelas jauh lebih baik dari dia. Seperti halnya sok tahu di depan orang yang benar-benar tahu, maka tentu hal itu dapat menyebabkan pelakunya malu.

Maka meremehkan orang yang jelas lebih tinggi derajatnya dapat menyebabkan hal yang sama. Begitu juga meremehkan waktu dapat menyebabkan penyesalan-penyesalan, apalagi jika pada kemudian hari, diketahuilah bahwa ternyata itu adalah waktu yang begitu berharga.

Oleh karenanya, baik lailatulqadar maupun waliyullah, harus tetap disembunyikan identitasnya. Agar orang tak lagi mudah meremehkan. Gitu.


-Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

About Muhamad Isbah Habibii 56 Articles
Seorang petani asal Jombang, alumni Tambakberas, Ponpes Gasek dan Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

1 Comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.