Hikmah Harga-harga Naik dan Betapa Baiknya Pemerintah Kita

Seorang dokter gigi itu semakin kaya semenjak ia mendirikan pabrik permen.”

Secara tidak sengaja saya pernah membaca kalimat itu di sebuah buku yang saya lupa judulnya. Nyelekit dan cukup mewakili realitas yang ada di berbagai konteks.

Kalimat tersebut tidak ada hubungannya dengan “kebaikan” pemerintah yang sedang kita bikin bahan rasan-rasan ini. Secara spontan saya hanya teringat kalimat tersebut saat pemerintah memberikan Bantuan Langsung Tunai (BLT) Minyak Goreng tempo hari ketika harganya sedang mahal-mahalnya.

Walaupun di tengah harga-harga yang sedang naik dan penderitaan-penderitaan masyarakat yang sedang klimaks, tidak elok bila kita gibahin keburukan-keburukan pemerintah. Karena ini bulan Ramadan, sebaiknya kita ngomongin kebaikan-kebaikan pemerintah saja biar puasa kita tidak batal-batal amat gitu.

Sebelum harganya naik dua kali lipat, minyak goreng sempat langka. Begitu harganya naiknya raumum, stok minyak goreng di mana-mana melimpah ruah. Ya, melimpah ruah seperti kekayaan crazy rich yang gemar pamer dan punya slogan “murah banget”, yang hartanya gak habis dimakan 29 keturunan itu.

Belum tuntas penderitaan emak-emak kita, menyusul pula kenaikan BBM khususnya Pertamax menjadi 12.500 rupiah dari yang sebelumnya 9.400 rupiah. Karena jenis BBM ini tidak bersubsidi, jadi kabarnya kenaikan ini menyesuaikan harga minyak internasional. Akibatnya terjadi antrean panjang pengguna Pertalite di SPBU dan bahkan menimbulkan kelangkaan di berbagai daerah. Misalnya di Solo, pengguna Pertalite naik 4,58 persen pasca kenaikan harga Pertamax sebagaimana dilansir Tempo.co.

Pada awal bulan ini solar juga dikabarkan mengalami kelangkaan di beberapa daerah. Kata bapak-bapak pejabat langkanya solar ini merupakan salah satu imbas dari perang Rusia-Ukraina. Kita orang proletar yang bisanya ngelinting ini mah tahu apa soal itu. Jadi ya percaya-percaya saja sambil terus ngelinting.

Per awal April Pajak Pertambahan Nilai (PPN) juga naik 1 persen, dari yang sebelumnya 10 persen menjadi 11 persen. Cuma 1 persen sih. Namun sekali lagi, jika kita kaya rayanya nggak ketulungan seperti crazy rich onoh sih ra ngefek blass.

Di tengah kondisi serba sulit ini, malah berhembus isu jabatan presiden 3 periode. Siapa juga sih yang mengangkat isu ini di tengah persepsi terhadap pemerintah sedang rendah seperti sekarang ini. Mbok ya nunggu nanti saja kalau pencitraan pemerintah pas lagi bagus-bagusnya. Di berbagai daerah pun mulai terjadi demo-demo mahasiswa, menuntut pemerintah agar mengambil kebijakan tepat dan berpihak kepada kepentingan masyarakat yang sedang tercekik kondisi tersebut.

Hei, plis banget, Gaiiss. Pemerintah kita itu baik banget kepada rakyatnya. Ngapain malah kalian demo? Apalagi ini bulan puasa, bukannya memperbanyak ibadah dan sedekah seperti pemerintah yang bagi-bagikan BLT, malah demo. Hih.

Kalian tak kasih tahu ya betapa baiknya pemerintah kita kepada masyarakatnya. Setidaknya gajah di pelupuk mata tampak, semut di seberang lautan juga tampak, dan “kebaikan-kebaikan” pemerintah yang samar nan jauh di seberang lautan sana biar semakin tampak. Hehe.

Pertama, sejak masa Orde Baru, masyarakat Indonesia terbiasa dididik Pak Harto mencintai dunia. Pemerintah menyuruh masyarakatnya untuk kaya, beliau memberikan contoh terlebih dahulu dengan menjadi the real orang kaya beserta keturunannya di Cendana dan kroni-kroninya. Semuanya menjadi sultan dan ingin terus menjadi sultan. Rakyatnya pun juga kebelet kaya seperti Bapak Pembangunan Indonesia dan semakin mencintai harta.

Sehingga barangkali inilah yang hendak pemerintah saat ini ajarkan kepada rakyatnya, bahwa mencintai dunia secara berlebihan adalah sesuatu yang tidak patut. Dengan harga-harga kebutuhan pokok mahal, masyarakat diharapkan semakin sadar bahwa tindakan-tindakan konsumtif secara berlebihan adalah tidak baik dalam agama, lalu mundur alon-alon dari hal-hal duniawi termasuk sembako. Jadilah masyarakat kita sebuah masyarakat yang zuhud dan menahan diri agar tidak berlebih-lebihan dalam urusan duniawi, serta menjalani hidup yang berorientasi akhirat.

Ketahuilah, minyak goreng dan sembako-sembako itu fana, wahai Akhi. Yang kekal itu mafia minyak goreng dan isu 3 periode.

Kedua, di tengah kehidupan yang serba susah dan mahalnya kebutuhan pokok, masyarakat akan semakin dekat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Dengan kehidupan yang sulit ini, agaknya berdoa dan mendekatkan diri kepada Tuhan adalah sebuah perilaku yang terpuji. Dan pemerintah mempunyai cara tersendiri dalam mewujudkan sila pertama tersebut, yang semakin meneguhkan rakyatnya menjadi masyarakat yang religius dan agamis.

Ketiga, pemerintah kita menginginkan masyarakatnya bergaya hidup lebih sehat. Dengan mengurangi makanan goreng-gorengan dan diganti dengan mengukus atau membikin rujak sebagaimana saran dari ibu-ibu Pemimpin Partai Wong Cilik tapi jarang main ke dapur, kadar kolesterol kolektif masyarakat dapat lebih terkendali sehingga mengurangi risiko terkena penyakit kronis.

Keempat, isu lingkungan merupakan salah satu hal yang menjadi perhatian pemerintah kita sekarang. Setiap tahun kendaraan bermotor meningkat, yang berarti penggunaan bahan bakar minyak tenaga fosil juga meningkat. Asap knalpot yang muncul dari kendaraan konvensional menghasilkan gas beracun termasuk 51 persen karbon monoksida dan menyebabkan kerusakan, yang tidak dapat diperbaiki pada lingkungan atau lapisan ozon. Kondisi ini juga dapat mempercepat laju pemanasan global.

Sehingga pemerintah menaikkan harga BBM, guna “menyetarakan” dengan harga minyak dunia, agar kemudian masyarakat lebih memilih jalan kaki atau menggunakan Awan Kinton saat hendak melakukan perjalanan jauh karena lebih ramah lingkungan. Lha piye, mobil listriknya masih terbatas, je.

Kelima, BLT Minyak Goreng 300.000 rupiah adalah salah satu kebaikan pemerintah yang paling nyata. Berapa uang yang harus dikeluarkan pemerintah dari nominal tersebut jika dikalikan dengan sejumlah rakyatnya yang miskin di seluruh Indonesia Raya. Tentu bukan jumlah yang sedikit, yang kita sebagai rakyat penggemar Indomie siang malam tidak mungkin bisa melakukan sedekah sebegitu banyak seperti pemerintah tersebut.

Namanya saja umara (baca: pemerintah), mestinya ya bisa mengendalikan harga-harga pasar agar tidak tinggi. Namun setelah tidak berdaya mengendalikan kenaikan harga-harga, pemerintah tidak tinggal diam. Dengan sigap pemerintah menawarkan bantuan materi. Solusinya ya BLT.

Walaupun sekelas sipil seperti saya sebenarnya ya bisa sedekah model-model kasih bantuan tunai seperti itu jika misalnya ditakdirkan punya kekayaan sultan. Kebijakan yang simpel, instan dan mampu menjangkau semua pihak. Masyarakat dapat uang tunai, daya beli pun meningkat. Rakyat senang, mafia sembako tambah senang, pemerintah pun senang. Semuanya bahagia.

Dan pada saat yang sama, Menteri terkait memberikan sebuah pertanyaan yang sangat sulit dijawab oleh orang-orang yang lapar, melarat dan tidak punya pilihan seperti saya: ”mana yang lebih baik, murah tapi nggak ada barang, atau mahal tapi ada barang?

Bayangkan, Gaiiss, ada orang bertanya kepada bapak-bapak pejabat, “Bang, kata-kata hari ini, dong!”, lalu dijawab dengan ”mana yang lebih baik, murah tapi nggak ada barang, atau mahal tapi ada barang?”. Bayangkan dulu saja, Gaiss. Gak perlu sambil bawa golok.


-Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

About Hanif N. Isa 23 Articles
Mas-mas biasa.

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.