Sosial Agama

Hilangnya Khazanah Keilmuan di Negeri Seribu Satu Malam

The Loss of Scientific Treasures in the Thousand and One Nights

Baghdad, jika kita mendengar kota ini maka perhatian kita akan tertuju pada kota seribu satu malam. Kota ini menyimpan ribuan karya ulama, melahirkan berbagai pernak Pernik pemikiran filosof dan ulamanya, dan kota ini masyhur dengan karya fonumental sastranya yaitu kisah seribu satu malam. Baghdad pernah mencapai masa keemasannya dengan mengembangkan berbagai keilmuan dan melahirkan beribu ribu karya sehingga menjadi kota paling berperadaban dizamannya. tetapi seiring berjalannya waktu kota ini malah menjadi redup dan memilliki tingkat kriminalitas yang cukup tinggi.

     Pada awalnya kota ini didirikan oleh khalifah Al-Manshur sebagai perpindahan ibu kota pemerintahan kekhalifan Abbasyiah. Dengan kegigihan para penerus tahta dinasti Abbasiah maka Baghdad berkembang pesat, mulai dari didirikannya bangunan yang megah nan cantik dan juga mengembangkan tradisi keilmuan, sastra serta seni. Dari kota baghad inilah para perantau datang untuk mencari ilmu, sehingga lahirlah para ulama besar seperti Imam Ahmad Ibn Hambal, Imam As-Syafii, dan lain sebagainya. Tak ketinggalan pula lahirlah para cendikiawan muslim, bahkan di masanya terbitlah suatu karya fonumental yang terkenal yaitu  kisah seribu satu malam. Tak mengherankan jika kisah yang ditulis pada karya seribu satu malam menggambarkan kedamaian, keindahan, dengan nuansa kebudayaan dan peradaban kota Baghdad yang sangat maju di zamannya.

     Khalifah Harun Ar-Rasyid merupakan salah satu khalifah yang berhasil merubah wajah kota Bahdad menjadi lebih modern, dan berperadaban. Beliau mendesain arsitektur kota ini menjadi lebih indah, maka didirikanlah bangunan- bangunan yang sangat megah yang terletak di antara sungai Tigris dan Eufrat seakan-akan menjadi primadona bagi para pengunjung yang melihatnya. Tak hanya itu beliau juga membangun Baitul Hikmah yaitu suatu lembaga penerjemah, riset dan kajian tentang keilmuan, sehingga dengan adanya Baitul Hikmah ini kota Baghdad menjadi lebih hidup dengan nuansa akademisinya. Berkat jasa-jasa khalifah Harun Ar-Rasyid  Baghdad menjadi centre of knowledge and culture di dunia bahkan telah membawa islam pada era keemaasan..

Wocoen   Mari Bangun Optimisme dalam Menghadapi Pandemi Covid-19

     Namun seiring berkembanganya zaman dan berpindahnya tampuk kekuasaan dinasti Abbasyiah kota ini semakin melemah. Para khalifah setelah Harun Ar-Rasyid dan Al-Makmun tidak lagi memperhatikan perkembangan keilmuan dan budaya. Mereka hanya mementingkan materi, dan dirinya saja. Mereka bangga akan kejayaan Baghdad yang dibangun oleh para generasi sebelumnya. Padahal tugas mereka justru lebih berat yaitu terus melestarikan dan mengembangkan kota ini supaya tetap eksis hingga masa selanjutnya.

     Pada masa kekhalifan terakhir Abbasiah Al-Mu’tashim, kota ini mulai memudar, bahkan cahaya islam di negeri ini redup. Khalifah al-Mu’tashim tidak mampu membendung serangan internal yang datang dari para bawahannya untuk merebut tahta kekhalifan. Bukan hanya itu beliau juga mendapat serangan eksternal yang datang dari luar, serangan bangsa mongol yang memberangus kota Baghdad tidak bisa dibendung lantaran pasukan kerajaan pada saat itu sudah lemah. Hulagu Khan yang memimpin pasukan mampu memukul mundur pasukan kerajaan hingga terjadilah bentrokan yang besar.

     Pada masa itulah para tentara tartar menghancurkan kota bahgdad, mereka merusak bangunan, rumah, tempat ibadah, perpustakaan, madrasah dan lain sebagainya. Keadaan genting yang terjadi pada masa itu sangatlah mencekam, mereka membuang buku-buku, dan karangan kitab para ulama ke sungai Tigris sehingga membentuk jembatan agar dapat dilalui kuda dan tantara. Warna air sungai Tigrispun berubah menjadi hitam lantaran lunturnya tinta buku-buku yang dibuang di sungai. Daratanpun dipenuhi oleh darah yang tercecer karena anak-anak, perempuan, dan penduduk dibantai. Itulah gambaran yang terjadi pada saat invasi bangsa mongol. Peristiwa ini menyimpan rasa kesedihan di sanubari umat muslim lantaran Baghdad yang dulunya pernah menjadi mercusur khazanah keislaman nyaris lenyap ditangan pasukan mongol.

Wocoen   FPUB: Usaha Membangun Semangat Toleransi

     Seiring berjalannya waktu kota Baghdad belum bisa bangkit dari keterpurukannya karena kerugian yang menimpanya pada perang Iraq-iran pada era 80an, tak hanya itu konflik perang teluk yang terjadi pada masa 90 an mengakibatkan ekonomi Baghdad melemah. Baghdadpun kian melemah ketika amerika menginvasi kota ini sekitar tahun 2003. Jaringan teroris Islamic state of Iraq and syirian (ISIS) yang hampir menguasai Baghdad menjadikan kota ini mencekam dimana bom bunuh diri dan kriminalitas terjadi hampir setiap hari.

            Dengan demikian kita mengerti bahwa Baghdad dulu pernah menjadi mercuar khazanah keilmuan di masanya, disanalah lahirlah para ulama ternama. Hancurnya pusat peradaban dan keilmuwan di Baghdad menjadi pukulan bagi umat islam. Harapan kita semoga baghdad dapat bersinar kembali sehingga tradisi keilmuan dan akademsi tidak mati ditelan zaman.

Tags

Muhammad Bagus Ainun Najib

Putra seorang petani bawang merah asal Brebes, suka nglayab dan sekarang sedang menempuh magister Pendidikan Bahasa Arab di UIN Maliki Malang.

Related Articles

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close