Muhamad Isbah Habibii seorang petani asal Jombang, yang sedang ngangsu kaweruh di Pondok Gasek dan melakukan research di Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

Hubungan Dunia Akademisi dengan Tradisi Menuangkan Ilmu

Muhamad Isbah Habibii 2 min read 0 views

Dalam dunia Islam, membaca memiliki nilai yang lebih tinggi daripada menulis. Karena adanya sebuah perintah yang jelas, dan perintah itu merupakan perintah yang pertama kali, yakni “Bacalah!”. Dari sana penekanan untuk membaca lebih tinggi daripada menulis sangatlah tampak. Jadi, wajar bila kemudian orang-orang Islam sangat gemar membaca daripada menulis.

Harusnya memang seperti itu, namun kenyataannya berkata lain. Yang gemar membaca memang ada, namun yang tidak gemar membaca juga tidak sedikit. Buktinya di negara kita yang mayoritas penduduknya muslim, namun minat bacanya sangat rendah.

Wajar jika lalu banyak netizen yang terprovokasi hanya karena judul-judul klik bait yang kadang sama sekali tidak mewakili isi dari satu tulisan. Karena hanya bermodalkan membaca judul, dan malas membuka dan membaca isi dari tulisan tadi.

Tampaknya hal ini juga dialami oleh lembaga-lembaga pendidikan. Minat membaca yang dimiliki oleh mahasiswa rendah, hanya mau membaca jika terpaksa. Menulis makalah saja tidak paham apa isinya.

Terbukti, selama saya menempuh belajar di kampus, banyak mahasiswa yang ketika menjabarkan makalahnya di depan kelas, mereka takut untuk dibedah dan diberikan pertanyaan-pertanyaan. Apalagi beberapa oknum mahasiswa yang ketika tugas kelompok hanya menyumbang dana untuk cetak makalah. Mereka akan sangat kecewa saat teman sekelasnya bertanya, terutama jika pertanyaan itu diarahkan kepada mereka yang hanya menyumbang recehan untuk cetak makalah tadi.

Tentu hal menjijikkan itu tidak akan terjadi bila sedari awal setiap akamedisi memiliki minat baca yang tinggi. Membaca, selain bernilai ibadah, nyatanya juga dapat ikut turut andil dalam kemajuan Islam itu sendiri. Setidaknya, mengurangi angka orang bodoh yang beragama Islam.

Puncaknya, jika memang seseorang tadi telah banyak membaca dan membaca, tentu akan timbul hasrat-hasrat untuk menuangkan apa yang telah banyak ia baca. Baik penuangan tadi mewujud menjadi materi pidato, ceramah juga pengajian, atau bisa juga mewujud menjadi satu teks tulisan.

Wocoen   Sajak-sajak Dahlan Hadiwastra

Oleh sebab itu, seharusnya menulis sangat erat hubungannya dengan pendidikan tinggi, baik itu pendidikan formal (kampus) ataupun non-formal (pesantren). Sedangkan jika, tradisi menuangkan gagasan ataupun ilmu tidak ada di pendidikan tinggi, maka tentu ada sesuatu yang salah di sana.

Apa ruginya mahasiswa bisa berbagi ilmu?

Tentu dalam kehidupan ini, orang yang tidak mau memberi, secara kuantitatif ia tidak rugi. Namun pandangan masyarakat akan berbeda, setidaknya masyarakat akan memberikan predikat “pelit” kepadanya.

Pelit adalah satu bentuk ketidakbergunaan. Apa gunanya orang punya harta yang melimpah jika ia tidak mau peduli terhadap masalah kemiskinan. Apa gunanya diberikan hati, jika seseorang menjadi selalu berlatih tidak peduli.

Setidaknya orang yang tidak mau memberi, akan merusak keelokan hati mereka sendiri. Padahal hatilah yang membedakan mana manusia dan mana iblis.

Ini juga berlaku kepada mereka yang tak gemar berbagi apa yang mereka miliki dalam kepala. Pelit, jika memang kepalanya memang punya isi. Tragis, bila memang kepalanya tak berisi apa-apa, hingga ia tidak tau apa yang harus dibagikan.

Wajar bila masyarakat gemar mencerca para mahasiswa tidak jelas ketika balik kampung. Namun tidak memiliki perubahan apa-apa sama sekali. “Gae opo koen kuliah le.” Kuliah tak ubahnya hanya untuk mencari ijazah semata.

Setidaknya, dengan berbagi apa yang diketahui, seseorang dapat merawat apa yang telah ia ketahui. Orang pun akan sadar bahwa apa yang ia telah ketahui hanya sedikit, dan akan tergerak untuk lebih banyak mencari tahu.

Kenapa penulis jadi minoritas dalam kampus?

Dalam satu kelas kuliah, bisa dihitung jari siapa yang gemar menulis. Bahkan bisa jadi tidak ada sama sekali yang memiliki kegemaran menulis.

Wocoen   Mengelola Perguruan Tinggi Kini dan Masa Depan Berbasis Hati Nurani

Seorang penulis selalu menjadi minoritas dalam dunia akademis. Sebab itu, lebih banyak jumlah pembaca daripada jumlah penulis. Namun tetap saja, yang mayoritas adalah mereka yang sekadarnya; membaca hanya ketika terpaksa, menulis hanya ketika itu sudah jadi kewajiban.

Ditambah lagi, media-media yang menyediakan lahan publikasi tulisan pun jarang dikenal oleh para akademisi. Para akademisi lebih kenal warung kopi dengan WiFi, daripada media-media tadi.

Pun menulis tidak memberikan keuntungan secara finansiallah yang membuat kegiatan ini jarang diminati. Begitu juga, seringkali kegiatan membaca dipaksa, dituntut untuk bisa sama dengan kegiatan-kegiatan menghibur diri. Jadi, membaca sering dibanding-bandingkan dengan kegiatan lainnya ,  membaca tidak lebih asyik daripada nge-game dan nonton drakor.

Sebab itu, wajar bila menulis tidak familiar di dunia akademis kini. Ia hanya dianggap oleh kebanyakan orang sebagai kewajiban yang mengganggu. Ia tidak pernah didukung oleh budaya membaca, yang mana itu langka di dunia akademik. Media tempat mem-publish gagasan, ide, dan pengetahuan pun tidak dianggap perlu diviralkan di dunia pendidikan.

Muhamad Isbah Habibii
Muhamad Isbah Habibii seorang petani asal Jombang, yang sedang ngangsu kaweruh di Pondok Gasek dan melakukan research di Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.